Getir

Getir
Salah


__ADS_3


Zia berusaha membuka matanya yang berat. Mungkin karena semalam dia menangis. Kepalanya juga ikut terasa pening. Perlahan kelopak matanya terbuka. Selain matanya yang berat, Zia merasakan tubuhnya juga berat.


Lengan? Lengan siapa ini?


Kepala Zia menoleh ke samping. Han?! Zia tercengang. Lengan itu milik Hanen. Pria itu tengah tertidur di sampingnya. Satu ranjang dengannya. Lengan pria itu melingkar di atas tubuhnya.


Mata Zia berkedip berulang kali. Memastikan sekarang dirinya tidak sedang bermimpi. Benar. Dia sudah membuka mata dari lelap tidurnya. Langit-langit kamar dan furniture kamar, semua sama. Itu artinya dia sedang berada di kamar tidurnya.


Perlahan Zia mengangkat lengan Han dari tubuhnya. Memindah lengan itu dan menggeser tubuhnya. Dia berniat keluar dari kungkungan lengan Han. Setelah bersusah payah agar pria ini tidak terbangun, Zia akhirnya bisa lepas.


Tubuh Zia segera menjauh dari ranjangnya. Dia melihat ke seluruh kamar tidur. Mengapa Han tidur bersamanya? Ranjang tidurnya di biarkan kosong. Pria itu justru terlelap di atas ranjang miliknya dan ... memeluknya!


Tangan Zia mengusap-usap wajah dan rambutnya berulang kali. Mencoba mengingat lagi kejadian semalam. Kemarahan Han yang melihatnya berdua bahkan bergandengan tangan dengan Gara.


Gara! Bagaimana keadaannya?


Setengah berlari, Zia langsung keluar dari kamar. Sebelum menuruni tangga, dia melihat pria itu juga baru keluar dari kamarnya. Gara! Seperti mendengar suara Zia yang berteriak di dalam hati, pria itu mendongak ke atas.


Mata mereka beradu. Zara berniat turun. Namun sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya.


"Berhenti, Zia! Hentikan niatmu untuk menghampirinya," ucap Han yang sudah muncul di dekat balkon seraya menahan tangannya. Bola mata Zia bergetar. Dia ingin menangis. Dia ingin menghampiri Gara dan menanyakan keadaannya. Zia ingin menyentuh wajah Gara. Mengobati luka akibat pukulan Han.


Gara di bawah, masih tidak bergerak dengan kepala tetap mendongak ke atas. Dia memperhatikan. Bukan tidak peduli. Sejak tadi tangannya mengepal kuat-kuat. Menahan diri untuk tidak segera berlari menghampiri Zia ke lantai atas dan menariknya. Melepaskan tangan Hanen dari tubuh Zia.


Bola mata Zia berkaca-kaca. Han tahu itu.

__ADS_1


"Tolong tetap di sini. Jangan menghampirinya. Aku tidak tahu lagi apa yang akan aku perbuat padanya jika kamu tetap memaksa untuk mendekatinya."


Zia menunduk seraya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Saat ini dia seperti akan menumpahkan semua airmatanya. Lebih banyak daripada tadi malam.


"Zia ...," gumam Gara. Dia tahu perempuan itu akan menangis.


"Lepaskan tanganku, Han," pinta Zia.


"Tidak. Kamu akan tetap berlari kearahnya."


"Aku hanya perlu membersihkan tubuhku di kamar mandi. Jadi tolong lepaskan cekalan tanganmu. Itu sakit." Mendengar kata sakit, Han langsung melepaskan cekalannya dengam cepat. Benar kata Zia. Kemungkinan dia kesakitan karena ada jejak merah di pergelangan tangan Zia. Han berdecih pelan saat melihatnya.


"Maaf." Setelah Han melepaskan tangannya, Zia segera kembali masuk ke dalam kamar. Membiarkan Gara tetap melihatnya dari lantai bawah. Rara yang mendengar keributan ini muncul di sana. Dia juga bisa melihat kejadian barusan.


...----------------...


Zia menangis di dalam kamar mandi. Ada sedih yang di rasakannya karena tidak bisa mendekati Gara. Han benar-benar mengawasi mereka berdua. Pria ini mulai bertingkah overprotektif pada Zia. Bukan ingin menyiksa dirinya seperti pertama kali mereka menikah. Hanen lakukan itu karena dia tidak ingin miliknya di ganggu orang lain.


"Duduklah, Gara. Kita bisa menikmati sarapan pagi seperti biasa." Begitu ucap Han saat Gara muncul di ruang makan. Zia yang berada di pantry terdiam sambil memunggungi mereka.


"Aku tidak menduga bahwa kamu memilih tetap bersikap seperti biasa." Gara duduk sambil mengatakan itu. "Ada apa di balik kebaikan dan kebijaksanaanmu ini?" tanya Gara tanpa menyembunyikan sorot mata perangnya.


Rara yang juga sudah berada di sana menghela napas melihat Gara mulai bersikap berani. Zia memejamkan mata sejenak mendengar mereka. Untung saja Rara sudah meminta bibi yang biasa berada di dapur untuk melakukan pekerjaan lain setelah beliau selesai memasak.


"Aku mengambil sikap seperti ini bukan untuk mempermainkan kalian berdua. Aku berusaha tetap menghormatimu sebagai adikku karena banyak pertimbangan, Gara. Jangan kau remehkan keputusanku," desis Han seraya menatap Gara tajam.


"Hormat? Terima kasih atas penghormatanmu, Han," ucap Gara dengan penuh cemoohan di sana.

__ADS_1


"Aku mengambil keputusan dengan tidak membuangmu dan membeberkan cerita kalian berdua pada keluarga bukan tanpa sebab," ujar Han dengan sedikit tekanan pada kalimatnya.


"Karena disini bukan hanya aku dan Zia yang bersalah, bukan?" Pertanyaan Gara memanaskan suasana yang memang sudah panas menjadi semakin membara.


"Kak Gara ...," pinta Rara untuk berhenti. Dia tidak mau ada pertengkaran hebat di sini.


"Maaf, Ra. Aku tidak bisa jika harus tetap diam dengan semua tingkahnya yang seakan selalu sempurna di mata keluarga kita, bahkan semua orang." Setelah mengatakan itu pada Rara, Gara kembali menoleh pada Han. "Kau tahu itu. Kau juga sedang merasa bersalah karena sudah membuang Zia tanpa sadar. Dirimu sibuk melayani wanita dengan label elit yang kau sukai itu. Kayla."


Mendengar nama itu di sebut, Han mulai bereaksi dengan marah. Dia meletakkan sendoknya dengan keras di atas meja.


"Aku disini membicarakan kita bertiga, bukan wanita itu!"


"Jika membahas kita, Kayla juga perlu di bahas Han. Wanita itu juga menyakiti Zia!" tunjuk Gara pada Zia yang sedang berdiri di pantry. Zia menggigit bibir mendengar perdebatan mereka.


"Kak Han, Kak Gara ... Jangan di teruskan. Di sini ada pegawai rumah ini. Mereka bisa mendengar kalian bertengkar," pinta Rara.


"Kita harus meluruskan, semua ini Ra. Aku hanya membiarkan dia disini, tapi dia bertingkah." Han yang menjawab.


"Sejak semula disini tidak ada yang berjalan dengan lurus, kak. Kak Han yang memulai, Kak Zia terluka, dan Kak Gara yang bermaksud menutup luka. Semuanya menyimpang." Rara ikut bicara karena menurutnya ini mulai menjadi pertengkaran besar.


"Maafkan aku Rara. Maaf." Tiba-tiba Zia yang berada di depan meja dapur membalikkan tubuh dan mengucap maaf. Semuanya menoleh ke arah Zia.


"Aku tidak ..."


"Maafkan aku yang sempat rapuh." Rara tidak bisa meneruskan kalimatnya karena Zia memotongnya. "Aku tidak bisa membuat rumah tanggaku utuh dengan kesetiaan. Meskipun sakit, seharusnya aku bisa menahannya dengan tidak membuat kesalahan yang sama. Maafkan aku, Ra," ucap Zia merasa bersalah.


Rara dan kedua kakaknya terdiam mendengar pengakuan salah dari Zia. Rara bukan bermaksud mengatakan hal buruk pada tentang Zia, tapi rupanya kalimatnya menyentuh perasaan kakak iparnya.

__ADS_1


Gadis ini menoleh ke arah mereka berdua. Hanen dan Gara. Seakan menunjukkan pada mereka, di sini yang paling terluka adalah perempuan ini. Zia.



__ADS_2