Getir

Getir
Bab. 96


__ADS_3

Tangisan Zia mulai reda. Ibu dan kakak dengan sabar menunggu, Zia mengatakan semuanya.


"Meskipun kamu tidak mengatakan semuanya, ibu percaya pada kamu," ujar Ibu mengelus kepala putrinya yang tidur di pangkuan.


"Kakak juga tidak memaksa. Hanya saja lebih baik tahu ada apa dengan rumah tanggamu. Bukan bermaksud ikut campur, hanya ingin kamu lebih lega jika sudah mengatakannya." Kakak perempuan Zia juga menunjukkan rasa peduli pada adiknya.


"Bisakah ibu dan kakak membenci mereka berdua?" tanya Zia ragu.


"Ibu dan kakakmu ini siapa ... Kita kan hanya orang biasa. Tidak bisa melakukan apa-apa meskipun ada yang berniat buruk dari keluarga mereka. Hanya saja, jika sudah tidak memungkinkan kamu berada di dalam keluarga itu, lebih baik ibu ambil kembali kamu untuk pulang bersama ibu," kata Ibu.


Mendengar ini bola mata Zia berkaca-kaca.


"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi." Ibu mengusap air mata ibu.


"Iya. Jangan menangis terus, Zia. Aku juga mau menangis ini ...," ujar kakak menghalau air mata yang hendak menggenang. Bibir Zia tersenyum. Sekedar menghalau rasa haru yang muncul lagi.

__ADS_1


"Di awal menikah, Han tidak menerima ku sebagai istri. Sebenarnya dia tidak setuju di jodohkan denganku," ungkap Zia. "Dia tetap saja dengan kekasihnya, tanpa peduli padaku. Saat itu, Gara yang lebih perhatian muncul. Di situlah kesalahan terjadi."


Meski sebenarnya kakak dan ibu merasa sedih dan sakit hati mendengar cerita Zia, tapi mereka berusaha tenang dan tidak mau menampakkan perasaan mereka. Kakak dan ibu hanya diam mendengarkan.


"Lalu Han yang sekarang?" tanya kakak yang berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa amarahnya.


"Sepertinya yang kakak lihat tadi, setelah melihat aku dan Gara, dia memilih kembali padaku dan menjadi suami istri seutuhnya. Bahkan dia rela melepas perusahaan itu untuk mendapatkan aku," cerita Zia.


Ibu langsung mengecup kening putrinya.


Bagaimana mungkin Zia bisa diam saja mendengar kata-kata ibu. Dia pun bangun dari tidurnya dan memeluk ibu. Kakak Zia pun melakukan hal yang sama. Kedua perempuan ini pun menangis sambil memeluk ibu.


Mereka tidak mendengar bahwa Han sudah datang untuk menjemput Zia. Semua pembicaraan mereka terdengar oleh Han.


***

__ADS_1


Lain hari.


Meskipun sudah di cegah berita Gara dan Zia, nyatanya masih ada yang begitu menggebu mengeluarkan berita itu lagi. Skandal itu muncul lagi di permukaan.


Ini berita yang bagus bagi para reporter. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan berita yang bisa menaikkan rating. Apalagi ini dari keluarga Laksana yang tidak pernah terusik sama sekali.


"Bagaimana ini Han?" Tubuh Zia gemetaran melihat berita itu muncul lagi.


Han memeluk Zia erat. Mengecup pucuk kepala Zia sambil membisikkan kata-kata, "Tenanglah Zia, tenanglah."


"Tidak mungkin aku tenang. Ini akan membuat mama tertekan. Juga ... Jika ibu melihat berita ini juga, ibu akan sedih. Kesehatan ibu bisa menurun," kata Zia cemas.


"Bukan hanya kesehatan mereka, tapi kesehatanmu juga akan menurun jika terus cemas seperti ini. Tenanglah. Mama tidak apa-apa. Ibu juga ada kakak yang bisa memenangkan. Beliau juga pasti tidak apa-apa." Han berusaha keras untuk menenangkan perempuan ini.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2