Getir

Getir
Rumah baru


__ADS_3


Deg, deg, deg.


Jantung Zia berdetak lebih kencang daripada tadi. Tangannya yang sedang mengaduk larutan bubuk cokelat di dalam cangkir terhenti. Rara melirik. Dia semakin paham bahwa kakak iparnya masih ada rasa pada kakak keduanya.


Bukan bermaksud ingin membuka cerita lama, Rara hanya memberitahu tanpa maksud apa-apa. Kemungkinan mereka berdua akan bertemu nantinya, pasti ada. Bagaimanapun Gara dan Hanen adalah saudara. Sebuah tali kehidupan yang tidak akan terputuskan. Suatu saat pasti ada momen mereka bertiga berjumpa.


"Dia ... baik-baik saja?" tanya Zia akhirnya setelah keheningan beberapa detik tadi melintas.


"Ya. Kak Gara terlihat baik-baik saja," sahut Rara.


"Syukurlah. Aku selalu berharap dia menikmati kesehariannya." Zia datang sambil membawa cokelat panas buat Rara. Kemudian Zia kembali ke belakang, untuk mengambil pisau buah dan piring kecil untuk tempat buah yang sudah di kupas.


"Aku belum sempat mengatakan ini. Maaf," ucap Rara saat Zia sudah ada di depannya. Tiba-tiba suasana menjadi sendu.


"Hei, ada apa?" tanya Zia heran. "Minta maaf soal apa?"


"Mama tahu soal kalian bertiga dari aku. Jadi ... bisa di anggap akulah yang mengadu pada mama. Jadi kak Zia terpaksa harus menjauh dari rumah itu."


"Ra ... Kamu bukan mengadu. Kamu hanya ingin membuat permasalahan antara aku dan kedua kakakmu menjadi jelas. Tujuanmu adalah hal baik."


"Tapi kakak dan kak Gara ..."


"Gara memang tidak seharusnya terlibat dalam kegetiran rumah tanggaku dan Han." Walaupun aku masih merindunya, lanjut Zia dalam hati. "Bukankah kamu memintaku berjanji untuk tetap memilih Hanen?"


"Ya, tapi saat melihat kak Gara ... Aku merasa aku keliru."


"Tidak apa-apa, Ra. Mungkin ini yang terbaik. Lagipula bukan kamu yang membuat aku harus menjauh dari rumah. Itu adalah keputusan Hanen yang ingin serius menjadi suami yang baru bagiku. Seorang pria yang ingin mencintai wanita," jelas Zia yang tidak ingin Rara merasa bersalah.


"Terima kasih, Kak tidak menyalahkanku."


"Itu tidak mungkin, Ra. Kamu saudara terbaik." Zia mengacungkan jempol.


Rara tergelak. "Aku merasa tersanjung." Mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Keadaan rumah sekarang bagaimana?" tanya Zia setelah suasana sendu reda. Ia mengambil buah dan mengupasnya.


"Kamar lantai atas di pakai kak Gara."


"Kamar Han?" tanya Zia seraya menghentikan sayatannya pada kulit buah.


"Bukan, tapi kak Zia dulu." Kamar yang berada tepat di samping kamar Han dan Zia. Kepala Zia mengangguk.


"Apa dia rajin bekerja?"


"Kak Gara? Tentu saja. Sebagai pemilik dari perusahaan yang baru, kak Gara memang harus rajin bekerja. Mama sampai takjub di buatnya." Rara begitu bangga bercerita soal Gara. Zia tersenyum ikut senang. "Lalu bagaimana dengan kalian berdua? Kak Zia dan kak Han."


"Aku di sini baik. Han berusaha menjadi suami yang sesungguhnya. Dia mulai perhatian padaku. Aku akui memang dia berubah sejak melihatku bersama Gara, tapi kali ini perhatiannya lebih besar daripada waktu itu." Buah apel sudah selesai di kupas. Zia memajukan piring kecil lebih mendekat pada Rara. Agar adik iparnya mudah untuk mengambilnya.


"Kak Han sungguh-sungguh berubah rupanya. Mama terus saja khawatir kak Han akan kembali ke sifat buruknya."


"Semoga tidak. Aku juga tidak ingin terluka berulang kali, Ra."


Rara tahu terlukanya wanita ini. Dia juga selalu berharap Hanen dan Zia akan berbahagia.


"Apa Kayla tidak pernah menelepon kak Han?" selidik Rara seraya mengambil buah lalu mengunyahnya.


"Jadi ada kemungkinan Kayla menghubungi kak Han?"


"Aku tidak tahu. Berharap saja bahwa baik Han atau Kayla tidak lagi punya keinginan untuk merusak sebuah rumah tangga."


"Ya. Aku berharap begitu. Mama dan papa juga demikian."


Gara sekarang menjadi pemilik saham terbesar di perusahaan kosmetik. Sesuai dengan tawaran Han saat itu. Dia memilih tidak menjadi pemilik saham perusahaan untuk mendapatkan Zia dan menyerahkan kepemilikan perusahaan pada Gara. Jadi Hanen bekerja pada sebuah kantor cabang. Dia tidak lagi bekerja dalam satu gedung bersama dua saudaranya.


Suara deru mobil terdengar dari luar.


"Sepertinya itu Han," ujar Zia yang hapal suara mobil pria itu. Dia melongok ke pintu luar. Rara mengikuti. Zia berdiri dan berjalan ke ruang tamu. Dari balik jendela kaca, Zia bisa melihat seseorang di luar. Tangan Zia membuka pintu.


"Aku pulang," ujar Han yang baru pulang kerja. Zia tersenyum. Han langsung mendaratkan ciuman di kening istrinya. "Aku ingin segera bertemu."

__ADS_1


"Sekarang kan sudah ketemu," kata Zia. Hanen tersenyum dan mendaratkan ciuman lagi di kening Zia. "Sudah. Ada Rara di dapur." Dorong Zia pada tubuh suaminya pelan.


"Berarti benar, mobil di depan itu milik Rara. Aku sudah curiga itu mobil siapa."


"Memangnya mobil siapa ..." Zia menipiskan bibir. Han tersenyum. Mereka berjalan beriringan menuju dapur.


"Rara."


"Halo Kak Han." Hanen mendekat ke arah adiknya dan memeluknya. Seperti sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Sudah lama?" tanya Han.


"Enggak. Barusan saja. Ini saja aku belum selesai menghabiskan cokelat panas yang di buat Kak Zia." Rara menunjuk ke arah cangkir di depannya. Hanen tersenyum.


"Sebaiknya kamu di sini lebih lama. Bagaimana kalau kita bertiga makan malam di luar?" tawar Hanen.


"Mmm ...." Bola mata Rara berputar.


"Mungkin Rara masih ada janji nanti. Lebih baik kita berdua saja," ujar Zia merasa nantinya Rara terpaksa ikut.


"Tidak. Aku tidak punya janji, tapi jika kak Zia hanya ingin berdua, aku bisa abaikan ajakan kak Han barusan," ujar Rara berpura-pura cemberut.


"Eh, bukan begitu. Aku takut kamu ada janji. Terus terpaksa ikut karena tidak enak pada kakakmu ini." Zia berusaha meluruskan. Rara tersenyum melihat kakak iparnya panik. Hanen langsung meraih lengan atas Zia dan mendorong ke arah tubuhnya sendiri. Merapatkan tubuh istrinya pada dirinya.


"Zia dan aku sudah punya waktu berdua sendiri. Jadi dia pasti juga ingin bersamamu." Han membela istrinya.


"Iya, iya. Aku tahu." Rara tergelak melihat Zia panik. Zia menipiskan bibir di kerjai adik iparnya. Lalu tersenyum pada akhirnya.



Dari acara makan malam ini Rara tahu. Hanen terlihat serius ingin merebut hati istrinya yang sempat teralihkan oleh adiknya. Gerak gerik Han begitu menghangatkan. Rara ikut merasa teduh melihatnya. Dia akhirnya bisa memberikan kabar bagus untuk mamanya tentang mereka berdua.


"Bagaimana kabar mama dan papa?" tanya Hanen.


"Baik dan sehat. Bagaimana kalau Kak Han mengunjungi mama. Bukannya sudah lama Kak Han tidak menjenguk mereka," usul Rara.

__ADS_1


"Aku dan Zia memang ingin mengunjungi mama dan papa, tapi aku perlu mencari waktu yang pas. Aku tidak bisa sembarang mengambil jatah waktu untuk tidak masuk kerja. Tempatku bekerja bukanlah milikku lagi." Mendengar ini Rara merasa ikut sedih. Hanen memang bukan pejabat tinggi seperti dulu lagi. "Jangan memasang wajah sedih, Ra. Aku tidak apa-apa dengan keadaanku yang sekarang. Aku merasa bahagia dengan Zia di sisiku," ujar Han menoleh pada Zia di sampingnya dan tersenyum.



__ADS_2