
...Zia...
.......
.......
Ku pegangi kepalaku yang terasa memutar-mutar. Aku merasakan pusing yang berat sekaligus perut yang bergolak. Sangat tidak nyaman. Hingga membuatku berlama-lama di kamar mandi karena merasa lemas. Setelah beberapa menit, rasa pusing itu lenyap. Namun, saat aku mencoba berdiri untuk keluar dari kamar mandi, perutku bergolak lagi.
"Hoek!" Tanpa mampu lagi menahan rasa tidak nyaman pada perutku, aku muntah. Ku miringkan kepalaku menghadap bawah. Menghindari muntahan mengenai tubuhku sendiri. Hanya muntahan sedikit.
Ku pikir hanya itu, ternyata perutku bergolak lagi setelah aku berusaha menyiram bekas muntahan. Aku mencoba bertahan. Namun tidak bisa.
"Hoek!" Aku muntah lagi. Terdengar derap langkah kaki di luar.
"Zia! Zia! Kamu tidak apa-apa?" teriak Hanen di luar pintu dengan cemas. Aku hanya memejamkan mata menahan rasa tidak nyaman di perutku. Bibirku tidak bisa menjawab pertanyaan Hanen. "Zia! Kamu mendengar aku?" Hanen masih berteriak memanggilku dengan khawatir. "Buka pintu Zia!"
Setelah muntah ke berapa kalinya, aku baru bisa berdiri dengan baik. Tanganku meraih gagang pintu kamar mandi dan membukanya.
"Zia," serbu Han langsung mendekat ke tubuhku. Ku yakin aroma tidak sedap memenuhi kamar mandi akibat muntahanku. Namun Han langsung menoleh ke bawah. Ke arah lantai dekat pembuangan air. "Kamu muntah?" tanya Han sembari memegangi pipiku. Lalu bergerak naik memeriksa keningku. "Tubuhmu tidak panas. Keluarlah dari kamar mandi." Han menarik handuk yang di letakkan di rak kecil di dinding. Membungkus tubuh atasku dengan handuk. Membimbingku keluar dari kamar mandi.
"Kamar mandi masih kotor," ujarku menunjuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan pedulikan itu. Aku bisa membersihkannya nanti. Kamu harus segera masuk ke dalam kamar. Tiduran di sana." Han membimbing tubuhku masuk ke dalam kamar tidur. Membantuku berbaring di atas ranjang setelah melepas handuk yang membungkus ku.
Dengan sigap, dia mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhku. "Tiduran dulu, aku akan ke kamar mandi dan membuatkan teh hangat untukmu."
Aku menganggukkan kepala setuju. Setelah dia pergi. Aku memejamkan mata sejenak. Tanganku mengelus pelan perutku yang mulai nyaman. Rasa bergolak apa tadi hingga membuatku muntah.
Tidak lama saat aku memikirkan bagaimana bisa aku muntah, Han muncul membawa gelas berisikan teh hangat. Uap masih terlihat mengepul di atas gelas.
"Aku membuatkan teh hangat. Segera minum untuk membuat perut kamu lebih nyaman." Hanen meletakkan gelas di atas malas danmembantuku bangun. Meletakkan bantal di belakang punggung agar bisa bersandar. Kemudian mengambil gelas berisikan teh tadi, dan menyerahkan padaku setelah meniupnya.
Aku mengambil gelas itu dan meneguknya.
"Isshh ..." Aku mendesis karena panas membakar lidahku.
__ADS_1
"Masih panas? Maaf. Biar aku tiup lagi," ujar Hanen meminta aku mengembalikan gelas padanya. Ku serahkan gelas teh itu padanya. Ia meniupnya berulang kali. Setelah di rasa panasnya sudah pas, ia menyerahkan padaku lagi. "Ini. Sepertinya sudah bisa di minum."
Segera gelas itu berpindah di tanganku. Karena takut seperti tadi, aku hanya meneguk sedikit. Namun suhu panasnya sudah pas. Bisa di minum sekaligus. Tangan Han menyentuh keningku lagi saat aku sibuk minum teh hangat itu.
Aku sudah menghabiskan teh itu sekaligus. Perutku terasa hangat hingga menghilangkan rasa tidak nyaman seperti tadi. Han langsung meminta gelas kosong itu. Aku meletakkannya di atas telapak tangan Han.
"Kamu muntah berkali-kali?" tanya Han. Kau mengangguk. "Kita ke dokter sebentar lagi."
"Aku sudah tidak apa-apa. Kamu bisa berangkat kerja."
"Tidak mungkin aku membiarkanmu seperti ini Zia. Kita harus ke dokter. Aku tidak yakin hal tadi tidak lagi mengganggumu." Han berkata dengan tegas. Tidak menerima penolakan ku. Aku tahu. Rasa bergolak tadi sangat menyakitkan. Seperti mengaduk-aduk isi dalam perutku.
"Lalu kerjamu?"
"Jangan pikirkan itu. Meski aku bukan lagi seorang pejabat di dalam perusahaan, bukan berarti aku di larang ijin untuk mengantar istriku ke dokter." Hanen seperti mengatakan bahwa ia akan tetap di sisiku jika aku belum pulih.
"Baiklah." Aku wajib menurut.
.......
.......
.......
Kening dokter mengerut saat usai melakukan pemeriksaan pada istriku. Aku merasa ada yang tidak beres. Zia melihatku dengan bola mata cemas. Aku yakin dia juga tidak tenang dengan hasil pemeriksaan.
"Ada apa dokter? Katakan segera. Kami berdua ingin mendengar ada apa dengan istriku." Dengan tidak sabar aku langsung meminta dokter menjabarkan diagnosanya. "Apa itu penyakit berat atau hanya penyakit ringan?" Aku tidak sabar. Zia meremas tanganku. Meski dia sendiri khawatir, dia berusaha menenangkan ku.
"Emm ... apa Anda sudah pernah memeriksakan istri Anda sebelumnya?" tanya dokter penuh dengan teka-teki. Kita saling berpandangan dengan heran mendengar pertanyaan dokter.
"Tidak. Aku tidak pernah periksa, Dok," jawab Zia. Keningku mengerut.
"Apa itu penting, Dok?" tanyaku.
"Bisa jadi penting. Karena untuk melihat perkembangan istri Anda," sahut dokter itu sambil membetulkan letak kaca matanya.
__ADS_1
"Perkembangan? Apa yang Anda bicarakan? Aku tidak mengerti." Teka-teki makin rumit.
"Istri Anda sepertinya hamil, Tuan," kata dokter itu mengejutkan.
"Hamil?" tanyaku terkejut. Ku toleh Zia di sampingku. Sepertinya dia juga terkejut.
"Ya. Tubuh istri Anda sehat. Jadi tidak ada masalah. Jika memang belum pernah periksa, saya sarankan membawa istri Anda ke dokter kandungan untuk penjelasan lebih rinci," ujar dokter itu tersenyum.
Namun kita harus memastikan lagi berita gembira ini. Jadi setelah ke dokter umum, aku mengajak Zia periksa ke dokter kandungan. Berita bahagia itu terdengar lagi dari bibir dokter kandungan. Sekarang bisa di pastikan bahwa Zia memang hamil.
"Selamat ya, Tuan," ujar dokter itu.
"Terima kasih dokter," sahutku menerima ucapan selamat itu. Ku genggam jari-jari tangan Zia. Bola matanya berkaca-kaca karena terharu. Bibirnya tersenyum kemudian mendengar kabar baik itu. Aku juga tersenyum bahagia.
Kita berdua keluar dari ruang dokter itu dengan perasaan gembira.
"Aku harus memberitahu mama sekarang juga," kataku bersemangat. Zia tergelak melihat tingkahku. "Aku menelpon mama dulu, ya?" kataku meminta ijin. Zia mengangguk. Ku ambil ponsel dari dalam saku celana. Mencari nama mama di daftar kontak dengan terburu-buru. Tanganku gemetar karena begitu bahagia.
"Ya, Hanen. Ada apa menelepon mama?" tanya mama di seberang.
"Aku punya kabar baik, Ma."
"Kabar baik apa itu?" tanya mama antusias. "Tunggu. Apa semuanya bisa ikut mendengar berita baik itu? Kami sedang sarapan pagi bersama."
"Boleh. Papa juga boleh mendengar kabar baik ini," ujarku setuju. Aku menoleh pada Zia untuk meminta ijin. Zia mengangguk dan tersenyum melihat diriku yang sepertinya mirip bocah kegirangan.
"Akan mama buat dalam mode loud speaker, ya ... Katakan. Apa kabar baik itu," pinta mama.
"Sebentar lagi, mama akan menjadi nenek," kataku.
"Nenek? Apa itu ... istrimu ..." Mama terdengar terbata-bata.
"Ya. Zia hamil, Ma."
"Zia hamil?" kata Mama tidak percaya.
__ADS_1