Getir

Getir
Aku cinta kamu


__ADS_3


Makan pagi ini terasa tegang. Han sibuk memandangiku dan Gara bergantian di meja makan. Pria itu mencoba mengamati kita berdua. Aku yang awalnya ingin mengalihkan perhatian dari Gara yang mendesakku soal malam kita bercinta dengan berusaha membuat Han luluh, kini merasa malas dan lelah.


Apalagi dengan sikap Han yang terus terang menuduhku menjadikan adiknya mangsa. Tidak terpikirkan olehku untuk menjadikan Gara mangsa. Kalaupun aku akhirnya membuatnya terjebak dalam suatu situasi seperti sekarang.


"Apa kamu menyukai pekerjaan di kantormu yang sekarang, Ga?" tanya Han memulai percakapan.


"Lumayan," jawab Gara dengan gaya enggannya.


"Itu sebuah prestasi untukmu. Jarang sekali melihatmu berniat bekerja di perusahaan keluarga. Bukankah kamu adalah pemberontak bagi orangtua kita. Kamu tidak akan pernah mau meneruskan perusahaan milik keluarga karena prinsipmu itu." Ada hinaan di sana. Jelas sekali. Pemberontak termasuk kasar di dalam kalimat itu.


Rara yang pagi ini tidak ada karena sedang menginap di rumah sahabatnya tidak bisa menjadi saksi percakapan dua kakak laki-lakinya yang seakan menjadi musuh.


"Memang. Aku tidak berniat memiliki jabatan di perusahaan keluarga. Namun, bukankah itu permintaan mama yang ingin aku menetap di perusahaanmu. Aku hanya mencoba menjadi anak yang baik."


"Benarkah? Apa bukan karena hal lain? Hal baru yang membuatmu betah berada di perusahaanku." Sorot mata Han mengarah ke hal lain.


"Hal baru? Aku tidak paham maksudmu."


"Benarkah kamu tidak paham?" selidik Hanen.


"Sungguh mengherankan. Aku sendiri tidak paham punya suatu hal baru yang kamu maksud, tapi kamu sudah bisa menemukannya. Kamu sungguh pintar dan hebat Han. Pantas saja orangtua kita menjadikanmu penerus tahta perusahaan keluarga kita."


"Hahaha ..." Han tertawa. Entah apa yang di tertawakannya. Ekor matanya melirik ke arahku. Jika begitu, itu pasti berhubungan denganku. Jadi yang di maksud Hanen hal baru adalah aku. Jas yang aku pakai tadi malam membuat Han melakukan percakapan ini.


Ku lakukan kegiatan sarapan pagi ini dengan pikiran kesal. Bukan lagi sedih atau sakit hati. Amarah tadi malam karena kalimat Han terus saja teringat. Namun itu bisa tersamarkan saat aku melihat Gara duduk di depanku. Teringat lagi perlakuan manis pria itu kepadaku. Membuat perasaanku campur aduk.


"Zia, kamu bilang ibumu sakit. Bagaimana jika sepulang kerja kita menjenguknya?" tawar Han.


Menjenguk ibu? Berubah sekali pria ini. Ku lihat dia dengan perasaan heran. Namun Han terlihat tenang-tenang saja meskipun menangkap raut wajah keherananku. Dia masih melihatku untuk mendapatkan jawaban.


"Ya. Terserah kamu." Ya. Terserah. Bisa saja pagi ini Han menawarkan menjenguk ibu, tapi nanti, bisa saja dia tiba-tiba berubah. Tidak muncul dan tidak memberi penjelasan seperti sebelum-sebelumnya. Jadi terserah saja.

__ADS_1


...----------------...


Pagi ini aku berangkat kerja sendiri. Tidak bersama Han atau Gara. Aku memilih di antar sopir rumah.


"Tidak berangkat bersama tuan Han, nona?" tanya sopir ragu.


"Tidak. Aku ingin berangkat kerja sendiri, Pak."


"Tapi pak Han seperti sedang menunggu Anda di dekat mobilnya." Sopir sedikit gugup saat mengatakannya. Aku menoleh pada mobil Han yang di parkir. Pria itu memang sedang berdiri di samping mobilnya. Memandang mobil yang aku tumpangi dengan wajah geram.


"Tidak Pak. Dia tidak sedang menunggu saya. Bapak bisa antar saya ke kantor sekarang." Aku menegaskan. Pak sopir akhirnya menyalakan mesin dengan kepala sesekali menoleh ke arah Han. Kemudian menjalankan mobil dan mengangguk saat melewati Han.


......................


Aku tidak langsung ke gedung perusahaan. Sopir menurunkanku di outlet kosmetik kecil di dekat gedung perusahaan. Ku sempatkan sebentar melihat produk-produk glow di sana. Meski outlet kecil, tapi penjualan produk kosmetik Glow lumayan.


Setelah selesai, aku berjalan kaki menuju kantor. Berjalan kaki seringkali begitu menakjubkan. Bertemu banyak orang. Seperti dua pria yang selalu saja melihatku, kemudian tersenyum. Aku mengangguk dan tersenyum juga untuk menghormati mereka.


"Aku pikir kamu tidak akan muncul di kantor karena tidak segera datang," ujarnya seraya menunjukkan wajah was-was.


"Aku sedang mengunjungi outlet kosmetik di dekat gedung ini." Aku pikir pria ini akan pergi entah kemana karena dia datang berlawanan denganku. Namun saat aku masuk ke dalam lift, dia mengikuti. "Kamu naik lagi?" tanyaku heran.


"Ya. Aku hanya mencarimu barusan. Kamu berangkat duluan ke kantor, tapi aku lebih dulu yang datang. Ponselmu tidak bisa di hubungi. Aku pikir ada apa-apa denganmu. Jadi aku sengaja turun untuk mencarimu." Aku sengaja tidak menyalakan ponselku. Dia tengah mencariku? Sungguh lucu.


......................


Saat tiba di lantai atas, tepatnya ruangan Gara yang baru, pria itu menarikku. Memaksaku masuk ke dalam ruangannya.


Saat itu Memey yang akan memanggil Zia, tidak jadi.


"Kenapa Pak Gara menarik paksa Zia seperti itu? Ada hal pentingkah? Baru kali ini aku lihat mereka terlihat akrab layaknya adik kakak."


Memey menaikkan alisnya karena heran. Karena gagal memanggil Zia, wanita ini kembali ke kursinya.

__ADS_1


Sementara itu, Zia yang terkejut di tarik masuk ke dalam ruangan Gara menggerutu.


"Gara, apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika banyak orang tahu kamu menarikku paksa seperti ini? Apa kata mereka tentang kita?" protesku.


"Aku ingin berbicara denganmu." Ku lihat arloji di pergelangan tanganku.


"Ini masih sangat pagi untuk kita berbincang. Apalagi aku baru datang. Ini jam kerja."


"Meskipun wakil manajer ini sedang memaksamu?"


"Apa?" tanyaku seraya mengedipkan mata berulang kali.


"Ya. Wakil manajer ini memaksamu mengajak bicara."


"Kamu menggunakan hakmu dengan tidak tepat."


"Aku harus."


"Hhh ... Ada apa, Ga? Harus bicara soal apa?" Aku akhirnya mau mendengarkan.


"Aku mencintaimu," ujar Gara membuatku berhenti. Kalimat itu membuat membeku tiba-tiba. Kemudian dadaku langsung berdebar. Jantungku berdetak lebih cepat. Ada rasa hangat yang lewat barusan. Namun aku tetap bersikap wajar. Menatap wajahnya lurus.


"Tidak. Kamu salah. Kamu salah mengartikan perasaanmu padaku. Kamu bukan mencintaiku. Kamu hanya iba padaku yang telah di nikahi seseorang tapi tidak di pedulikan. Baik tubuh dan batinnya di abaikan."


"Kamu tidak percaya?"


"Itu sangat jelas, Ga. Tidak mungkin kamu mencintaiku. Kamu hanya mungkin sedikit terobsesi dengan aku yang sempat menjajakan tubuhku padaku. Memberimu tawaran manis tapi juga tidak waras." Aku menelan ludah saat mengatakan ini. "Kamu bukan mencintaiku. Kamu hanya menginginkan tubuhku ...," ucapku lirih dan pedih.


Kalimat panjangku mampu membuat Gara tidak bisa berkata-kata. Dia hanya melihatku dengan pandangan yang tidak ku mengerti.


"Jadi kamu pikir aku mau menikmati tubuhmu hanya karena aku seorang lelaki, Zi?" tanya Gara seperti tersakiti.


__ADS_1


__ADS_2