
Setelah beberapa hari tidak memberi kabar, pria itu memilih muncul di sini. Rara juga tidak ingin mengganggu kakaknya. Jadi dia juga tidak bertemu pria itu di dalam rumah. Sepertinya Gara sengaja bersembunyi dari banyak orang termasuk keluarganya.
Tampilan Gara tampak kusut. Rambutnya yang pendek terlihat acak-acakan meskipun tidak mengurangi wajah tampannya. Sepertinya Gara menderita beberapa hari ini. Rara bisa membaca semuanya dengan baik.
"Kak Gara mau menjenguk Kak Zia?" tanya Rara setelah melepaskan pelukan. Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu di jawab ini muncul begitu saja dari bibir Rara. Karena kemunculan pria itu di sini sudah menunjukkan niatnya untuk menjenguk Zia.
"Apa boleh?" tanya Gara dengan matanya yang masih terlihat sendu.
"Tentu tidak boleh. Karena itu bisa mengganggu mental Kak Zia juga terganggu," ujar Rara berterus terang. Dia harus tegas menahan mereka berdua untuk bertemu.
"Jadi Zia terganggu mentalnya karena aku?" tanya Gara dengan senyum miris. Rara diam. Apapun alasannya, itu akan tetap membuat Gara terluka. Gara melongok ke dalam kamar melalui jendela kecil di pintu. Rara menatap Gara dan membiarkan saudara mengintip ke dalam. "Ada orang di dalam. Siapa?" Dari sini orang di dalam tidak terlalu kelihatan karena letak tempat duduk yang sedikit menjorok ke dalam.
"Itu keluarga Kak Zia," jawab Rara.
__ADS_1
"Ibu dan Kakak?" Mendengar Gara bertanya, terdengar dia sudah begitu akrab. Rara pikir, Gara sudah sering bertemu dengan mereka. Bagaimana perasaan mereka ketika bertemu setelah kabar perselingkuhan mereka?
"Ya," sahut Rara singkat. Dengan sedikit helaan napas di sana.
Gara tetap berusaha mengintip keadaan di dalam. Melihat tingkah kakaknya, Rara ikut sedih.
"Apa Zia dan kandungannya baik-baik saja?" tanya Gara tanpa melepaskan pandangan dari seseorang di dalam kamar perawatan.
"Benar. Semuanya baik-baik saja," ujar Rara. Namun dia terkejut ketika mendadak Gara menjauhkan tubuhnya dari jendela kecil itu. Rara mengerjap. "Ada apa, Kak?" tanya Rara seraya melongok ke dalam kamar. Sepertinya Kak Zia menyadari adanya seseorang di luar. Jadi dia melihat ke arah pintu. Namun karena masih mengobrol dengan ibu, Kak Zia memalingkan wajah dan mengabaikan.
"Jika sekarang Zia sedang terganggu mentalnya karena aku, kemungkinan bayinya juga merasakan apa yang di rasakan ibunya. Karena aku dengar perasaan ibunya akan berpengaruh pada kandungannya. Syukurlah jika Zia dan bayinya tidak apa-apa." Tidak perlu di jelaskan dengan kata-kata, raut wajah Gara sudah menjelaskan dengan rinci kegelisahan dan kekhawatirannya.
"Ya. Mama juga bersyukur mendengar kabar baik itu."
__ADS_1
Susana hening sejenak. Rara diam seraya mengamati kakaknya. Gara berulang kali menghela napas berat.
"Jaga dia baik-baik, Rara. Karena keponakanmu haruslah lahir dengan selamat," kata Gara seraya mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Aku tahu."
"Aku pergi," pamit Gara seraya melangkah.
"Meskipun aku tidak tahu persis, aku rasa kak Zia pasti tidak ingin kak Gara terlihat menyedihkan seperti sekarang," ujar Rara tiba-tiba. Gara menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Terima kasih sudah berusaha menghiburku, tapi aku tahu dia tidak lagi peduli padaku. Hatinya tetap menginginkan Hanen, Ra," ujar Gara getir.
Rara bungkam. Ya. Apapun akan tetap menyakitinya.
__ADS_1
...____...