
...Zia POV...
.......
.......
.......
Di dalam, mama menunjukkan pada mereka kedatanganku. Banyak yang menanyakan Han. Hingga mama berusaha memberikan alasan yang tepat pada mereka.
Setelah mempertemukan aku dengan keluarga saudara, mama membebaskanku bersantai menikmati makanan.
Ku ambil buah anggur merah di atas meja. Ya, kunikmati jamuan dalam pesta ini sendiri. Bukan dengan makan makanan yang berat, tapi aku hanya mengambil buah dan puding.
Karena senggang, aku mencoba menghubungi kakakku. Setelah lama akhirnya dia menerima panggilan selulerku.
"Kakak, bagaimana kabar ibu?" tanyaku.
"E ... ibu."
"Saya sudah memeriksa tubuh pasien. Biarkan beliau istirahat," ujar seseorang di belakang.
"Kakak dimana?" tanyaku mengernyitkan alis curiga. Pasien? Periksa?
"Aku ..." Kakak terdengar kesulitan menjawab. Ada yang sedang ingin di sembunyikan olehnya.
"Kakak ada di rumah sakit, bukan? Katakan dimana? Ada apa dengan ibu?" cecarku mulai menegang dan cemas.
"Tenang. Ibu tidak apa-apa."
"Katakan dimana kakak sekarang? Aku harus melihat keadaan ibu." Aku mulai tidak sabar. Akhirnya kakak memberitahu letak rumah sakit. Ku arahkan kakiku menuju pintu luar gedung pesta ini.
"Mau kemana, Zia?" tanya Gara menegurku. Sedikit terhenyak, aku menghentikan langkah dan menoleh padanya.
"Aku harus kerumah sakit," jawabku dengan perasaan cemas yang tergambar jelas di wajahku.
"Siapa yang sakit?" tanya Gara ingin tahu. Melihat kecemasanku yang memenuhi seluruh ekspresiku, dia terlihat berusaha peduli.
"Ibu." Mendengar itu Gara berinisiatif dengan cepat.
"Aku akan mengantarmu."
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku ...." Belum sempat aku menuntaskan kalimat, Gara sudah menarik tanganku untuk menjauh dari pintu pesta. "Ga!" panggilku.
"Tidak perlu menolak. Kita harus cepat melihat ibumu di rumah sakit."
"Mama akan bingung mencari kita. Aku belum berpamitan pada mama." Masih dengan terus mengikuti langkahnya aku ingin menolak.
"Biar aku yang mengatakannya pada mama. Sekarang kita harus segera cepat, Zi," ujar Gara dengan tangannya terus menarik tanganku. Aku pasrah. Terus saja mengikuti kemana kakinya melangkah.
Akhirnya kita sampai di lahan parkir. Gara memberi komando padaku untuk masuk mobil lewat tangan dan dagunya. Aku pun menuruti karena sudah berada di depan mobil. Lagi pula tidak perlu berdebat, aku memang harus segera ke rumah sakit melihat keadaan ibu.
***
Gara melihat ke samping. Ke arah Zia yang terdiam. Tangannya beradu. Sebelah tangannya mengelus buku-buku jari berulang-ulang. Dari sana dia tahu bahwa Zia sangat gelisah.
Dari wajah perempuan ini sudah nampak ke khawatirannya. Gara memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit yang sudah di sebut oleh Zia.
Setelah menanyakan letak kamar dengan nama ibu, aku segera menuju kamarnya. Dengan gerakan kaki yang di percepat, kita berdua melangkah beriringan.
Sesampainya di sana, aku melihat ibu terbaring. Kakak terkejut melihatku muncul. Apalagi melihatku masih dengan memakai pakaian pesta.
"Aku sudah bilang tidak perlu kemari. Aku yakin kamu sedang sibuk." Kakak merasa tidak enak.
Aku abaikan itu dan mendekat ke pinggir ranjang. Kulihat ibu terlihat kurus. Mungkin benar. Ibu terlalu lelah bekerja seperti apa yang di katakan kakak.
Gara mengangguk memberi salam. Kakak ikut mengangguk menerima salam. Lalu mendekat ke arahku.
"Suamimu kemana? Kenapa justru datang bersama adik ipar?" bisik kakak yang kujawab dengan senyuman.
"Apa ibu begitu lelah hingga membuatnya berbaring di sini?"
"Ibu sudah tua, Zi. Menurutku wajar jika ibu kecapekan. Apalagi dengan banyaknya pelanggan yang datang ke depot kita."
"Depot ibu ramai?" tanyaku tanpa menoleh.
"Ya. Banyak sekali pembeli setiap harinya." Entah aku patut bersyukur atau tidak dengan berita itu. Jika pembeli banyak, itu berarti bisnis makanan ini sukses. Namun itu berarti akan menambah tenaga yang terkuras menjadi dua kali lipat. Ibu pasti sangat lelah.
"Apa tidak perlu menambah pekerja? Hingga bisa membuat ibu tidak terlalu lelah."
"Sudah. Karyawan kita ada dua orang, Zi." Aku mengangguk. "Ini ... adiknya Han, kan?" tanya kakak pada akhirnya. Menanyakan itu pada Gara sendiri.
"Ya. Aku Gara, kak," sahut Gara sopan.
"Terima kasih sudah mengantar Zia kesini. Pasti kalian sedang ada acara tadi." Melihat baju Gara dan aku kakak semakin yakin bahwa kita berdua tidak sedang bersantai tadi.
__ADS_1
"Sama-sama. Ya. Hanya acara biasa."
"Duduklah, dulu." Tangan kakak mempersilakan pria ini duduk sambil menunjuk ke arah kursi di dekatku.
"Tidak apa-apa. Biar Zia saja yang duduk." Gara menunjuk ke arahku. Kakak melihatku. Aku melirik sebentar. "Dia sempat gemetar tadi mendengar berita ibu sakit," imbuhnya yang membuatku menoleh lagi. Dia melihatku gemetaran?
"Benarkah? Ayo duduklah dulu, Zi." Kakak langsung memaksa bahuku untuk membuat pantatku menempel pada alas kursi. Dia khawtir. Akhirnya aku pun duduk.
**
Ku lirik pria itu. Dia masih berdiri di dinding dekat ranjang. Entah apa yang dia lakukan. Tidak begitu jelas. Apa mengamatiku? Dari posisiku yang berada di depannya, aku tidak bisa tahu apa yang di lakukannya sekarang.
"Aku sudah memberitahu mama bahwa kita berdua berada di rumah sakit menjenguk ibumu," ujarnya membuat keheningan di antara kami cair.
"Ya. Terima kasih."
"Mama bilang tidak bisa menjenguk hari ini."
"Tidak apa-apa. Bilang saja, ibuku baik-baik saja. Jadi mama tidak perlu khawatir. Tidak perlu menjenguk juga," ucapku masih membelakanginya.
"Soal itu aku tidak perlu mengatakannya. Jika mama menjenguk orang sakit, bukankah itu hal baik? Aku tidak perlu melarang mama melakukannya." Ini adalah penolakan. Bantahan. Gara pasti mengatakan sesuatu yang membuat mamanya kemungkinan besar datang menjenguk.
Kakak muncul dari membeli camilan. Bermaksud menjamu kita.
"Kenapa membeli itu?" tanyaku merasa tidak perlu.
"Jangan begitu. Mungkin bukan buatmu. Aku membelikan ini untuk, adik Han. Silakan Gara ..." Kakak menawarkan camilan dan minuman itu pada Gara.
"Terima kasih," kata Gara tanpa menolak menerima pemberian kakakku. Mungkin dia bermaksud bersikap sopan. Aku diam.
"Dia sudah mau mengantarmu ke sini saat suamimu tidak bisa. Jadi kita harus berterima kasih," imbuh kakak membuat Gara mengangguk dan tersenyum. Ahh ... biarlah.
Karena sudah menjelang malam yang semakin larut, kita berdua bergegas pulang. Sudah tentu pulang ke rumah. Pada jam segini di pastikan pesta sudah bubar. Jadi kita berniat pulang ke rumah.
Saat keluar ke lahan parkir yang berada di luar, udara malam menghembus kencang. Membuat tubuhku gemetar kedinginan. Ku tekuk tubuhku menahan dinginnya malam.
Tiba-tiba saja sebuah jas mendarat di bahuku. Gara melepas jasnya untuk di berikan padaku. Membungkus tubuhku dengan perlahan.
"Udara sangat dingin. Dengan pakaianmu yang tipis tentu tidak akan kuat menahan dingin," ujarnya usai membuat tubuhku terasa hangat karena jas yang di berikannya.
Aku terpana. Ini adalah sebuah perhatian. Perhatian yang manis. Dan sempat membuatku harus mengerjapkan mata dan membuang wajah ke arah lain. Aku hampir menitikkan air mata barusan. Aku terharu.
__ADS_1