
"Kesepakatan apa?" tanya Gara tidak sabar. Dia ingin mengusir wanita ini segera. Melihat Kayla, ia muak.
"Hanen."
"Oh, dia. Kamu masih menginginkannya?" Ada sedikit nada mencemooh di sana. "Oh, itu pasti bukan?" Tanpa menunggu jawaban Kayla, Gara meneruskan kalimatnya. "Kalian begitu lama menjalin hubungan. Jadi pasti masih ada cinta di dalam hatimu." Gara tergelak ringan.
"Apa itu artinya aku sama denganmu? Kamu menginginkan Zia. Lalu aku menginginkan Hanen. Jadi kita dua manusia menyedihkan yang berada dalam lingkaran kehidupan Han dan istrinya." Kayla mengatakan itu dengan telak.
Gara menghela napas. Dia sendiri menyadari bahwa sungguh menyedihkan kehidupan percintaannya. Padahal masih banyak wanita lain yang lebih cantik, lebih sempurna dari seorang Zia. Namun hati Gara sudah tertambat pada wanita itu.
"Kenapa membuat kesepakatan denganku? Bukankah kamu sudah menjalin hubungan dengan Han?" tanya Gara heran. Dia melihat mereka berdua makan malam di restoran waktu itu.
Kayla mendengus. Dari sini Gara tahu bahwa mereka tidak benar-benar punya hubungan lagi. Dugaannya salah. Perasaan Zia benar.
Brengsek!
__ADS_1
Gara ingat memberitahu Zia soal hubungan Han dan Kayla. Namun perempuan itu percaya bahwa Han tidak benar-benar Kembali pada Kayla. Saat itu dirinya bahkan memaksa Zia untuk percaya padanya kalau Han masih bersama Kayla.
"Jadi kamu pikir aku mau membuat kesepakatan ini denganmu?" tanya Gara merasa Kayla terlalu meremehkannya.
"Tentu saja. Karena aku punya kartu as untuk membuat mu mengikuti perintahku." Kayla yakin sekali kalau kartu as-nya ampuh. "Aku akan membeberkan semuanya tentang kamu dan Zia di depan publik. Bagaimana? Kedua putra keluarga Laksana berebut wanita." Kayla menunjukkan wajah liciknya.
"Hanya itu?" tanya Gara membuat Kayla ragu.
"Berita itu bukan 'hanya'. Keluargamu akan menanggung malu."
Glek! Kayla menelan ludah.
"K-kamu tidak peduli jika ketahuan oleh orang lain?" tanya Kayla terheran-heran.
"Tidak. Aku tidak peduli dengan omongan orang. Lakukanlah jika kamu memang ingin melakukannya. Aku justru berterima kasih padamu nantinya."
__ADS_1
"Kau ... Gila!"
"Bukankah kita sama-sama gila demi orang kita cintai?" sahut Gara dingin. Kayla beranjak dari kursi. Mendadak dia lebih takut pada Gara yang dulu di anggapnya lemah. Kayla keluar ruangan dengan segera.
Aku memang sudah gila. Tergila-gila dengan wanita itu. Gara mendesah lelah.
...***...
Meskipun suasana di antara mereka berdua sempat ada gejolak karena foto yang di kirim oleh Kayla, Zia tetap melayani Hanen seperti biasa. Membantu bibik yang bekerja di rumah untuk memasak. Hanya membantu saja. Bukan tidak bisa, tapi keluarga Hanen menginginkan dia tidak banyak bekerja karena hamil.
Hanen muncul di ruang makan mereka yang kecil, dan duduk. Bibir Zia tersenyum tipis saat Hanen menatap Han.
“Tunggu sebentar, lalu kita sarapan bareng,” kata Zia meminta waktu untuk menyelesaikan masakan terakhir. Han menghela napas.
“Aku bisa menunggu, tapi apa kamu tidak kelelahan jika membantu bibik?” tanya Hanen mengkhawatirkan kehamilan istrinya yang mulai besar. Mendengar Han cemas, bibik di sebelah Zia sedikit tidak nyaman. Beliau sudah menasihati perempuan ini tadi. Namun tetap saja Zia membantunya. Jadi sekarang beliau merasa bersalah.
__ADS_1
..._______...