Getir

Getir
Bab. 117


__ADS_3

Rara yang sedang berada di minimarket depan rumah sakit melihat mobil Gara melintas masuk ke dalam halaman parkir rumah sakit.


"Itu Kak Gara." Melihat itu Rara segera menyeberang untuk menyusul kakaknya. Namun karena tidak bisa menemukan pria itu di sana, Rara memilih menunggu di depan lobi rumah sakit. Ini tempat paling tepat untuk menemukannya, karena jalan menuju ke kamar perawatan Hanen melewati ini.


Akhirnya ia bisa menemukan Gara. Pria itu berjalan menuju ke lobi.


"Kak Gara!" panggil Rara seraya melambaikan tangan menunjukkan keberadaannya. Gara menoleh dan melihat ada adiknya. Kakinya berjalan menghampiri.


"Bagaimana Hanen?" tanya Gara dengan wajah cemasnya.


"Dia masih belum bangun dari masa kritisnya." Rara menjelaskan. Lalu mereka bersama-sama berjalan menuju ke kamar Hanen. Rara melirik Gara yang terus saja diam sepanjang perjalanan mereka. Sepertinya banyak hal yang ada dalam pikiran Gara sekarang. Rara tidak ingin mengobrak abrik pikiran kakaknya dengan bertanya.


Setelah berjalan beberapa menit, mereka tiba di depan pintu. Gara masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mama ada di sini?" tanya Gara yang entah kenapa agak terkejut melihat keberadaan beliau. Rara mengikuti masuk.


"Gara ..." Mama tersenyum pedih melihat kemunculan putra keduanya. Gara mendekat dan memeluk mamanya sebentar. "Dia masih belum bangun sejak kecelakaan itu," ujar Mama seraya mengelus kepala putra sulungnya dengan wajah sedih.


Gara menatap Hanen yang menutup mata. Banyak selang yang terhubung di tubuhnya dengan alat medis. Pria ini begitu tidak berdaya. Meski hubungan mereka berantakan, tapi sebagai saudara, Gara juga merasakan hal yang sama ketika melihat keadaan kakaknya. Rara hanya diam seraya melihat keduanya.


"Dia pasti bangun. Hanya kecelakaan seperti ini tidak akan membuat dia lemah," ujar Gara menguatkan mamanya. Dia memeluk mamanya dengan erat.


"Benar. Hanen pasti sembuh. Dia akan bangun," kata Mama menguatkan dirinya sendiri. Namun air mata beliau tetap mengalir.


Ponselnya berdering. Itu papa. Rupanya beliau ingin Gara menuju ke rumah sakit menggantikan beliau. Sebenarnya Gara memang ingin segera menuju ke sana ketika Rara memberi tahu kalau papa mengurusi urusan pelaku di kantor polisi.


Gara masuk dan berbicara pada mama. "Ma, Gara ijin pergi ke kantor polisi," kata Gara pamit.

__ADS_1


"Papa mu ada di sana kan?" tanya mama dengan suara parau karena tangis.


"Ya, tapi lebih baik papa yang pulang menemani mama. Karena aku saja yang akan mengurusi urusan di sana. Beliau mungkin lelah." Gara menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu. Beri hukuman yang tepat untuk orang yang membuat kakakmu seperti ini, sayang. Jangan biarkan dia lolos," pinta mama dengan penuh amarah.


"Iya, Gara mengerti." Mama memeluk Gara sebentar lalu melepaskannya.


"Aku pergi ya Ma, Ra."


Mama dan Rara mengangguk.


"Hati-hati Kak," ujar Rara.

__ADS_1


"Ya." Gara pun keluar dari kamar. Langkahnya terhenti ketika belokan pertama. Sepertinya kaki Gara melangkah ke arah yang salah. Jika ingin turun ke lobi, dia harus berjalan ke arah kiri. Namun sekarang justru ia berjalan berbelok ke lorong sebelah kanan. Ke arah yang berlainan dengan jalan menuju keluar. Sebenarnya mau kemana pria ini? Bukankah ada hal penting yang harus di urus di kantor polisi.


...______...


__ADS_2