Getir

Getir
Bab. 76


__ADS_3

Gara membiarkan tangannya di tarik oleh Zia. Ternyata perempuan ini membawanya kembali menuju ke dapur. Gara tidak ingin tangan itu lepas darinya. Jadi dia diam saja sampai tepat di dapur, Zia melepas sendiri tangannya.


 


Sepertinya dia juga terkejut sendiri dengan dirinya yang memegang tangan Gara.


 


"Maaf," ujar Zia melempar pandangan ke arah lain. Gara mengangguk dan tersenyum tipis. Pria ini kegirangan sendiri.


 


"Tidak apa-apa," kata Gara. Gara paham Zia mungkin jadi canggung karena tanpa sadar menyentuh tangannya. Bahkan itu inisiatifnya sendiri. Itu berbanding terbalik sangat jauh dengan tadi. Dimana rasa kaku saat pertama kali mereka bertemu.


 


"Aku hanya merasa kita tidak tepat berada di sana. Kita tidak harus menemaninya. Dia sudah dewasa untuk di temani saat pacaran. Jadi aku pikir lebih baik kita ke belakang," kata Zia repot menjelaskan. Tangannya menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal.


 


"Ya. Aku paham," sahut Gara. Maksud dari kata paham di mulut pria ini sepertinya berbeda dari apa yang di jelaskan Zia. Karena ujung bibir pria ini terus saja terangkat. Itu melukis senyuman misterius di bibir Gara.


 


Kaki Zia segera melesat ke meja dapur. Dia menuangkan air putih dalam gelas. Setelah minum beberapa teguk, ia merasa lebih tenang. Lalu ia teringat untuk mengambil alpukat yang sudah di kupas dari kulkas. Buah ini di tinggalkan karena dia harus ikut keputusan Gara menemani Rara dan kekasihnya di ruang tamu.


 


Awalnya dia hanya ikut, tapi setelah benar-benar duduk di sana, suasana sungguh tidak menyenangkan seperti yang di perkiraannya. Dengan tekad kuat, dia mendobrak keputusan Gara dan mengajaknya pergi dari ruang tamu.


 


Namun tidak di sangka, tangannya justru bergerak tanpa terkendali.


 

__ADS_1


"Sepertinya kamu belum selesai mengeksekusi buah alpukat karena aku mengajakmu ke ruang tamu tadi," kata Gara ingat saat melihat alpukat di meja dapur.


 


"Tidak apa-apa,” kata Zia seraya tetap membelakangi pria ini. Tangan Zia meraih toples  tempat susu bubuk cokelat kesukaan. Kemudian menuangkan ke dalam mangkuk yang  berisi alpukat potong.


 


“Kalau begitu, aku akan mengupas buah alpukat yang lain.” Gara berinisiatif.


 


“Tidak perlu. Aku tidak membutuhkannya," kilah Zia. "Kamu mau ngapain?" tanya Zia terkejut karena mendadak Gara menghampirinya. Berdiri begitu dekat dengannya.


 


"Akan aku buatkan jus alpukat untukmu.”


 


“Tidak. Aku butuh jus,” kilah Zia. Padahal dia sudah menelan ludah saat mengingat jus alpukat.


 


 


"Tidak. Aku masih harus membersihkan wadah yang kotor tadi," tolak Zia enggan menjauh.


 


"Jadi kamu akan tetap di sini saat aku membuat jus?"


 


"Aku tidak memintamu membuatkan jus. Itu untukmu sendiri. Jadi selesaikan urusanmu dan aku akan menyelesaikan urusanku bersih-bersih," kata Zia memuat aturan.

__ADS_1


 


Gara diam.


 


"Oke. Baiklah. Ini jus untukku sendiri." Gara setuju seraya mengangkat bahu. Dia mengalah. Zia pun mencuci wadah untuk mengupas alpukat beserta pisaunya. Sementara Gara memakai pisau lain untuk mengupas alpukat di tangannya.


 


"Oh!" keluh Zia mengaduh.


 


“Kenapa Zi?” Gara langsung menoleh dengan cepat.


 


Bisa sabun memercik hingga mengenai matanya. Ini membuat Zia menutup mata karena perih. Dia kerepotan karena tidak bisa langsung mengucek mata. Tangannya masih kotor.


 


“Matamu perih?” tanya Gara cemas. Kepala Zia mengangguk. “Aku gosokkan ya?”


 


“Tidak,” tolak Zia cepat. Tangannya yang mengambang mulia bergerak-gerak ingin meraih keran air. Dia ingin cuci tangan dan mengucek matanya sendiri. Namun kesulitan karena matanya tertutup.


 


Grep!


 


Napasnya tertahan saat sebuah tangan menggenggam kedua tangannya. Gara menyatukan kedua tangannya.

__ADS_1


...____...



__ADS_2