Getir

Getir
Bab. 127


__ADS_3


"Dia tidak pernah menghubungiku," sahut Zia. Rara yang tadinya hanya melihat ke arah ponselnya, kini mendongak menatap belakang punggung Zia. "Gara hanya muncul dan pergi tiba-tiba. Aku tidak tahu," lanjut Zia setelah menjeda kalimatnya. Rara mengangguk mengerti. Sepertinya semuanya memang murni inisiatif dari kakaknya.


"Baiklah. Aku akan mengirim pesan saja," ujar Rara. Ia pun mulai mengetik pada layar amoled ponselnya. Solusinya adalah ia mengirim pesan. Jadi meskipun tidak bisa di hubungi, pesan itu akan terbaca sewaktu-waktu. "Sudah. Aku sudah mengirim pesan untuk kak Gara." Rara menyimpan kembali ponselnya pada saku celana. "Ayo kita ke kamar Kak Hanen." Gadis ini kembali mendorong kursi roda menuju kamar Hanen.


Papa terlihat berbicara dengan sekretarisnya di luar pintu, ketika Rara dan Zia muncul di sana.


"Selamat siang, Pa," sapa Zia. Laksana menoleh dan tersenyum.


"Oh, Zia. Selamat siang. Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Laksana senang melihat menantunya.


"Zia sehat."


"Lalu bayi mu? Apa cucu papa juga sehat?" tanya beliau begitu ingin tahu.


"Ya. Cucu papa juga sehat."


"Baru saja Kak Zia menyelesaikan pemeriksaan, Pa. Sepertinya semuanya berjalan baik karena dokter tidak mengeluhkan apa-apa," imbuh Rara.


"Oh, syukurlah. Papa harap semua sehat."

__ADS_1


"Hanen sudah siuman, Pa?" tanya Zia.


"Benar. Cepat masuklah. Dia sangat ingin bertemu denganmu." Papa mempersilakan menantunya masuk. Mama yang duduk di sofa dekat bibir ranjang menoleh.


"Ah, Zia. Kamu datang."


Bola mata Hanen memandang Zia yang duduk di atas kursi roda. Tersirat rasa rindu yang menggebu di sana.


"Zia ...," panggil Hanen lemah. Rara mendorong kursi roda mendekat pada ranjang. Mama berdiri membiarkan Zia menggantikan posisinya. Perempuan ini mendekat dan duduk di sofa. Ia ingin memeluk Hanen, tapi perutnya yang membesar tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


Mendengar kabar Hanen sudah siuman tadi saja, Zia sudah merasa sangat bahagia. Apalagi ketika ia bisa melihat sendiri pria itu membuka mata dan menatapnya.


"Aku datang, Han ..." lirih Zia. Air mata tak mampu lagi di bendung. Ia pun menangis seraya menggenggam tangan Hanen. Bibir Han tersenyum dengan menitikkan air mata juga melihat Zia di sini. Tak terelakkan lagi, semua yang ada di sana ikut menangis menyaksikan mereka berdua. Suasana dalam kamar menjadi baru.


"Bisa ... bisa biarkan aku berdua dengan Zia, Ma?" pinta Hanen. Zia menghapus air matanya dan menoleh pada mama. Perempuan paruh baya itu mengerjapkan mata. Sepertinya berat hati untuk meninggalkan putranya. Ada rasa cemas dalam hati beliau.


"Mama pasti ingin tetap di sini, Han," ujar Zia paham.


"Tapi aku ingin hanya berdua dengan mu,* kata Hanen memohon. Suaranya berat dan tertatih. Rara menatap mamanya.


"Tentu. Tentu saja bisa. Mama akan tinggalkan kalian berdua. Maafkan mama." Mama langsung tersadar bahwa sudah sejak pertama dirinya hanya memperhatikan Hanen. "Ayo, Ra. Kita keluar. Mama akan tetap di luar pintu. Jadi kalau ada apa-apa, kamu tinggal panggil saja," pesan mama pada Zia.

__ADS_1


"Iya, Ma."


"Aku keluar ya Kak Zia," pamit Rara. Zia mengangguk. Kini hanya ada Zia yang menemani Hanen.


"Bagaimana keadaanmu, Zi?"


"Aku baik-baik saja Han." Tangannya masih tetap menggenggam tangan Han.


"Bagaimana bayi kita? Apa dia tidak mengalami hal yang buruk?" tanya Han cemas.


"Tidak. Baru saja ada pemeriksaan. Kandunganku tidak mengalami hal buruk yang fatal. Semuanya dalam keadaan baik. Bayi kita juga sehat. Bahkan makin aktif," ujar Zia bercerita dengan riang. Dalam angannya teringat sekelebat bayinya tengah bergerak. "


"Syukurlah." Han benar-benar lega.


"Dia sering menendang-nendang, Han. Aku sampai sedikit meringis merasakan nyeri di perut, tapi itu hanya sebentar."


"Benarkah?"


"Ya. Sebentar. Biasanya ia bergerak-gerak ketika jam-jam begini." Zia ingat itu ketika Gara terus menemaninya. Bayinya sangat aktif ketika itu.


Tubuh Zia menjauh dari bibir ranjang karena ingin menunjukkan perutnya. Namun di tunggu-tunggu, tidak ada pergerakan apapun. "Kenapa kamu tidak bergerak sayang? Padahal waktu itu kamu sangat aktif." Zia gagal menunjukkannya pada Hanen.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2