
"Tentu. Ini." Gara menyodorkan tisu yang di pegang tangannya.
Daripada harus merasakan kecanggungan yang sangat di antara mereka, Zia memilih makan untuk terlibat sibuk.
Ternyata Gara sudah mengambilkan nasi untuknya.
"Ini." Gara meletakkan piring di depan Zia.
"Terima kasih, tapi aku bisa sendiri."
"Iya aku tahu," sahut Gara begitu tenang. Zia menghela napas. Dia justru tidak tenang. Mereka makan dengan hening. Gara tidak mengatakan apapun. Ini malah membuat Zia gugup. Karena ia tahu, Gara terus saja memperhatikannya di balik sikap diamnya.
"Sudah sehat Zi?" tanya Gara lembut.
"Aku tidak sakit," jawab Zia.
"Tapi kamu pingsan," sahut Gara. Zia diam. "Aku menjenguk mu di rumah sakit, tapi Han menyuruhku pergi karena takut berita itu makin besar karena aku terlihat berkeliaran di dekatmu."
Zia tidak menanggapi. Mulutnya terkunci.
"Mendengar itu aku cemas. Kamu pasti syok berat mendengar kabar itu." Gara mengungkapkan perasaannya ketika melihat berita di tv. Tangan Zia mengaduk makanan di depannya dengan malas.
__ADS_1
"Apa ada makanan lain yang kamu mau agar berselera makan?" tawar Gara tiba-tiba. Ia melihat Zia tidak begitu berselera.
"Ah, tidak." Zia tidak sadar sudah menunjukkan keengganannya makan.
"Aku akan buatkan jus alpukat. Sepertinya kamu menyukai itu ketika hamil."
"Tidak perlu," tolak Zia cepat.
"Aku tidak terima kata tidak." Gara sudah berdiri dan berjalan menuju pantry. Sepertinya Gara kegirangan bisa berinteraksi dengan Zia. Bahkan menyiapkan jus ini pun, dia terlihat senang.
"Oh, kalian sudah makan?" Mama muncul di dapur.
"Ya," kata Gara dan Zia hampir bersamaan. Beliau heran melihat Gara di pantry. "Dia ngapain?" tanya Beliau.
"Kamu ngapain Gara?" tanya Mama memilih mengeraskan suaranya agar Gara bisa menjawab.
"Buat jus alpukat Ma. Mama mau?" tawar Gara.
"Boleh. Buatkan Zia juga. Jus alpukat sehat untuk ibu hamil," pinta Mama.
"Ya." Gara makin bahagia mendengar permintaan mamanya.
__ADS_1
"Kamu tahu, Gara paling suka buah alpukat," cerita mama. Zia tersenyum tipis. Mama ikut makan siang bareng Zia.
Tidak lama jus sudah jadi. Gara memberikan pada mama dan Zia.
"Terima kasih sayang," kata Mama. "Ayo, Zi minumlah. Buatan Gara enak lho."
Zia mengangguk. Ia ikut minum tatkala Gara memperhatikannya. Tiba-tiba Zia tersentak kaget.
"Kenapa Zia?" tanya mama terkejut. Gara juga ikut menatap cemas.
Zia tersenyum canggung. "Tidak, Ma. Hanya kaget karena bayi di dalam perutku bergerak aktif," kata Zia.
"Benarkah? Berarti bayinya sehat sekali." Mama langsung berdiri dan menuju Zia. Mengelus perut menantunya. "Sehat-sehat ya sayang. Jangan nakal di dalam. Lalu nanti pas lahirannya juga jangan bikin Mama mu susah. Cepat keluar saja, jangan rewel lho." Mama mencoba berinteraksi dengan cucunya.
Zia tersenyum mendengar perbincangan lucu mertuanya. Tak sengaja ia pandangan matanya beradu dengan Gara. Pria itu tersenyum tipis mendengar kebahagiaan mama. Zia langsung menundukkan pandangan.
"Semoga bayi dan kamu sehat selalu," ujar Gara berharap. Zia hanya mengangguk menanggapi.
"Hei, lihat lah Gara. Dia bergerak lagi," seru mama gembira. Benar juga, Zia merasakan perutnya bergerak. "Ini bayi tahu kalau ada Oma sama om-nya. Jadinya gerak terus." Mama menunjuk perut Zia.
Sepertinya mama ingin melenyapkan suasana canggung keduanya. Beliau paham bagaimana perasaan masing-masing.
__ADS_1
...___...