Getir

Getir
Bab. 110


__ADS_3

"Ya. Kamu bisa berangkat kerja sekarang. Aku akan menemani kakak. Itu letakkan saja di situ. Sebentar lagi bibi yang akan meletakkan di kulkas." Zia menunjuk ke arah bawaan dari kampung tadi.


"Ya sudah. Aku akan berangkat." Hanen mulai bersiap. "Aku berangkat dulu, sayang." Hanen mengecup kening istrinya. Kakak ipar tersenyum melihat itu. Zia jadi malu sendiri. "Kak, aku berangkat."


"Ya. Hati-hati."


***


Rumah sudah sepi. Bibi masih di belakang membuatkan minum.


"Bagaimana keadaanmu? Kandungan kamu baik-baik saja?" tanya Kakak cemas.


"Ya. Aku baik-baik saja."


"Syukurlah kabar tentang kamu sudah perlahan menghilang," kata kakak. Zia tersenyum tipis. "Aku tidak menyangka Han akan mengungkap sendiri keburukannya." Kakak ingat tentang konferensi pers itu.


"Mengungkap keburukan?" tanya Zia tidak mengerti. Bibi datang membuatkan minum.


"Terima kasih," ujar Kakak.


"Bi, tolong pindah masakan ibu yang di bawa kakak tadi ke dalam kulkas ya," pinta Zia.


"Baik Non." Setelah bibi pergi, Zia kembali menoleh pada kakaknya.

__ADS_1


"Apa maksud kakak Han mengungkap keburukannya?" Zia masih ingat kalimat kakaknya.


"Bukankah Han ... Tunggu, kamu tidak tahu soal konferensi pers itu?" tanya kakak baru menyadari ini karena raut wajah Zia tidak mengerti apa-apa.


"Konferensi pers?" Zia berusaha mengingat. Namun sayang dia tidak ingat sama sekali. "Aku pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Rara mengatakan seperti itu."


Makanya dia bingung saat aku bicara soal konferensi pers, ya ... Kakak Zia mengerti.


"Mungkin kamu tidak tahu karena masih berada di rumah sakit."


"Apa yang terjadi?" tanya Zia dengan wajah tegang. Kakak Zia menceritakan apa yang terjadi di konferensi pers waktu itu.


"Karena Han mengungkap sendiri skandalnya, perlahan ... tentang kamu dan Gara menghilang. Semuanya tertutupi dengan berita tentang Han dan Kayla." Kakak bercerita.


Dia pikir semuanya kembali normal karena kekuatan keluarga Laksana, tapi ternyata bukan.


"Han tidak mengatakan apapun padamu?" selidik Kakak. Zia menggelengkan kepalanya. "Mungkin baginya lebih baik tutup mulut karena tak ingin menjadi beban pikiran. Karena kamu hamil."


Zia menunduk. Pikirannya mulai dipenuhi oleh Hanen yang rela membuat dirinya tampak buruk untuk menutupi skandalnya.


"Ibu tahu?"


"Ya. Ibu tahu semuanya dari kabar itu," jawab kakaknya.

__ADS_1


"Ibu pasti sedih."


"Jika berpikir tentang kisah di balik pernikahan mewah mu itu ternyata keadaan yang kacau seperti ini, ibu sangat sedih. Namun ibu berkata bahwa kamu pasti kuat menghadapinya. Namun ibu sudah tidak memedulikan cerita yang lalu dan berdoa untuk masa yang baik dan bahagia kedepannya."


Mendengar kalimat kakaknya, hatinya hancur. Manik mata Zia berkaca-kaca. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Air matanya mengalir perlahan. Melihat adiknya menangis, kakak Zia langsung memeluknya. Mereka menangis bersama-sama.


...____...


Tanpa menunggu Han datang, Kakak Zia pulang lebih dulu.


"Jadi kakak ipar sudah pulang?" tanya Hanen yang datang dan melihat di dalam rumah tidak ada kakak ipar.


"Ya," sahut Zia menyambut pria ini. Lalu membantu membuka kancing kemejanya.


"Kenapa tidak di cegah? Aku ingin mengantarkan kakak pulang."


"Dia tidak akan mau. Ibu juga mungkin protes karena kakak diantarkan. Beliau takut merepotkan mu," ujar Zia masih membuka kancing.


"Aku menantunya, jadi tidak aneh kalau merepotkan."


"Ibu tidak mau begitu. Beliau tetap bersikeras tidak ingin merepotkan orang lain."


...____...

__ADS_1


__ADS_2