
"Kamu bertemu dengan Han?" tanya Kayla saat Juno muncul di cafe tempat ia berjanji akan bertemu dengan pria ini.
"Ya. Ia dan istrinya."
"Huh. Perempuan itu. Aku tidak mengerti kenapa Han tiba-tiba saja berubah. Ia langsung mencampakkan aku, Jun. Malam itu!" seru Kayla geram.
"Kenapa?" Juno masih tidak mengerti dengan pasti soal hati Hanen yang berpaling dari Kayla yang begitu di cintainya.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja ia marah padaku saat melihat istrinya dengan Gara. Ia langsung membuatku seperti barang tidak berguna. Aku tidak di pedulikan, Jun," seru Kayla dengan raut wajah sangat mewakili apa yang sedang di rasakan hatinya.
"Gara?" Juno terkejut pembicaraan mereka membawa nama adik Hanen. Setahu dia Zia tidak terlalu kenal dengan Gara.
"Ya. Aku tidak mengerti sebenarnya. Namun sepertinya, perempuan itu ada main dengan adik Han," ungkap Kayla dengan muka tidak suka. Bola mata Juno mengerjap.
"Benarkah?" tanya Juno sangat terkejut. Kayla mengangguk dengan jengkel. Beberapa detik Juno diam. Bahkan saat Kayla tetap mengomel, mencurahkan isi hatinya. "Atau kamu sudah berbuat salah, mungkin." Juno masih berharap ada penjelasan lain.
"Tidak. Aku tidak berbuat salah, Juno! Justru perempuan itu yang salah." Tangan Kayla menunjuk ke suatu arah seakan ada Zia di sana. Juno tergelak. Tiba-tiba perutnya sepeti ada yang menggelitik. Ia terpingkal kemudian. "Kenapa kamu tertawa? Aku tidak sedang membicarakan hal yang lucu." Kayla tidak suka cara tertawa pria ini.
"Sungguh lucu sebenarnya mendengar kamu bilang bahwa kalian tidak bersalah saat Han sudah punya istri, tapi kalian berdua menjalin cinta," kata Juno seakan mencela.
"Kamu sedang berpihak pada siapa, Jun?" tanya Kayla kesal. Juno seperti sedang menghakiminya.
"Oh, maaf. Aku hanya bicara fakta." Juno menarik kata-katanya yang terdengar memojokkan Kayla.
"Fakta itu membuatku semakin marah. Jika kamu datang hanya untuk menambah kesal, lebih baik pergi! Aku tidak butuh!" sembur Kayla.
"Oke. Oke. Sorry." Juno meletakkan kedua telapak tangannya di depan. Menahan amarah Kayla yang memuncak. "Aku hanya terkejut melihat Hanen memperlakukan istrinya sangat lembut selayaknya pasangan suami istri normal. Itu hal yang baru buatku. Karena sejak awal aku tahu Han hanya ingin mempermainkan Zia."
"Itu sangat menjengkelkan, Juno. Padahal aku sudah menemaninya lama. Ku abaikan semua pria demi dia yang ingin mendapatkan mimpinya." Juno tergelak. "Apa maksud ketawa mu itu? Ini sudah dua kali kamu menertawakan aku," desis Kayla makin jengkel.
"Kau mengabaikan semua, seakan sudah berjuang Kayla. Kamu menemani Hanen karena ingin menjadi istri pewaris perusahaan kosmetik yang besar itu kan? Kamu ingin menjadi nyonya kaya." Tanpa perlu membuang fakta yang ia tahu, Juno mengatakannya dengan terbuka.
__ADS_1
"Kamu pikir itu tidak berjuang? Aku sudah berjuang melenyapkan semua kandidat, Juno. Melakukan itu juga butuh perjuangan. Meskipun begitu, aku ini mencintai Han. Aku tidak akan melakukannya jika tidak mencintainya," ucap Kayla lalu menyeruput minumannya.
"Begitu juga hartanya. Kamu juga mencintai harta keluarga Hanen," imbuh Juno mengingatkan.
"Itu adalah bonus," kata Kayla menanggapi kalimat Juno.
"Tapi kamu gagal saat Han justru mencintai Istrinya sekarang."
"Benar. Itu memuakkan. Aku kesal. Aku tersakiti!"
"Lebih baik kamu cari pria lain saja. Toh masih banyak pria yang menginginkanmu. Apalagi dengan reputasimu yang sudah pernah menjadi wanita Hanen." Juno memberikan usulan yang bagus. Kayla menyeruput lagi minumannya.
"Ya. Aku memang bisa melakukannya, tapi aku tidak ingin perpisahan ini hanya begitu saja."
"Maksud kamu?" tanya Juno tidak mengerti.
"Kalau memang Han tidak menginginkan aku lagi, tidak apa-apa. Namun aku tidak bisa pergi begitu saja. Setidaknya aku harus memberi pelajaran bagi Hanen dan perempuan itu," ucap Kayla dengan mata berkilat jahat.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Juno tegang.
"Oh begitukah? Tidak apa-apa." Juno berusaha tenang meski dia sangat ingin tahu apa yang akan di lakukan Kayla. Karena itu bisa saja sesuatu yang membahayakan.
...Zia...
.......
.......
.......
Ku rasakan punggungku sakit. Ini masih empat bulan, tapi kenapa sudah membuatku kelelahan? Aku berhenti melangkah, merasakan napasku yang tersengal-sengal. Menata ritme pernapasan agar tidak membebani paru-paru ku. Mataku sempat memejam ketika melakukannya.
__ADS_1
Hhh ... menghela napas kemudian setelah rasa sakit di punggung perlahan mereda. Mendongakkan kepala dan terkejut melihat Gara di depan mata. Bibirku tersenyum. Bahkan saat ini pun aku sedang memikirkannya. Menggelengkan kepala kemudian merasa kejam. Sudah memilih untuk kembali pada Han, tapi pikiranku tetap pada Gara. Bukankah itu kejam?
"Zia ..."
Mungkin saja aku hanya berkhayal. Namun suara itu terdengar jelas di telinganya. Ku kerjapkan mata. Berusaha mengusir embun yang singgah di mataku.
"Aku memang ada di sini, bukan khayalan mu," ujar Gara yang membuatku terperanjat. Susu ibu hamil kemasan tetra pack di tanganku terjatuh. Sosok pria di depanku memang dia. Gara. Pria itu merunduk memungut barang yang aku jatuhkan tadi.
Ku coba mengerjapkan mata lagi. Berusaha menenangkan diri yang langsung gugup dan panik melihat kemunculannya.
"Ah, iya. Itu kamu," ujarku mengusir kekagetan itu. Tangan Gara terulur. Menyodorkan minuman yang terjatuh tadi. Ku terima minuman itu dengan bola mata menatap ke bawah. Aku tidak ingin menatap ke arah matanya.
"Sendiri?" tanya Gara melihat ke sekitar aku yang berdiri.
"Ya."
"Kenapa Hanen membiarkanmu belanja sendiri saat sedang hamil?" tanya Gara seperti sedang menggerutu.
"Dia tidak mengijinkannya. Akulah yang memaksa. Lagipula ini masih sekitar daerah rumah. Jadi masih terbilang dekat," ujar memberi penjelasan. Sedikit ada nada pembelaan untuk Hanen. Karena pertanyaan Gara seperti ingin memojokkan suamiku.
"Jauh dekat, bisa di bilang bahaya saat kamu hamil. Karena kamu juga tidak tahu kapan perutmu rewel," kata Gara. Tanganku langsung memegang perutku saat Gara mengatakan itu. Seperti merasakan ada gerakan pada janin di dalam perut. "Perutmu sakit? Benarkan?" Gara langsung menunjukkan kekhawatirannya saat melihatku mengelus perut sambil meringis.
Janin bergerak kadang membuatku mendesis merasakan sakit. Aku tidak tahu kenapa. Bukankah seringkali seorang ibu tersenyum saat bayinya bergerak-gerak? Namun tidak padaku. Kali ini aku mendesis menahan sakit.
Karena aku tidak segera menjawab, Gara langsung memegang lenganku. Melihatku lebih serius saat aku menunduk. Itu membuat wajahnya dekat dengan tubuhku. Hampir saja mengenai perutku.
"Zia ... Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Gara masih menunjukkan wajah cemasnya. Aku terkejut hingga membuat tersentak kecil.
"Y-ya ... Aku tidak apa-apa," ujarku mengurangi rasa khawatirnya yang berlebihan padaku. Kakiku mundur sedikit demi merentangkan jarak di antara kita berdua. Gara tersadar akan dirinya yang begitu dekat denganku. Akhirnya ia menegakkan lagi punggungnya. Mendehem. Menetralkan keadaan yang tidak terduga barusan.
"Aku terlalu dekat rupanya," gumam bibirnya lirih. Namun masih bisa di dengar Indra pendengaranku.
__ADS_1