Getir

Getir
Bab. 99


__ADS_3

"Ya. Dia pasti sakit hati olehmu." Gara yakin itu. Mereka berdua sama-sama menghela napas.


Pikiran Gara kini kembali di ruang kerjanya lagi. Rencana Han yang di katakan padanya malam itu sungguh membuatnya cemas.


Sejak tadi ia mencoba menghubungi Han, tapi pria itu tidak mengangkat ponselnya. "Kemana dia?" tanya Gara cemas.


Tok! Tok!


"Masuk!" perintah Gara saat pintu ruangan di ketuk.


"Tuan memanggil saya?" tanya pria yang menjadi tangan kanan Gara di perusahaan ini.


"Ya. Bagaimana dengan para orang-orang di lobi?"


"Para reporter dan wartawan sebenarnya tidak sabar menunggu. Pihak kita sudah mencoba menenangkan mereka dengan mengatakan Tuan Han akan datang sebentar lagi karena macet. Namun jika tetap saja Tuan Han tidak datang, mereka akan marah dan membuat berita keributan," jelas sekretaris Gara.


"Cih, sialan," Gara berdecih. Apa yang di katakan sekretarisnya benar. "Jadi memang aku yang harus membereskan masalah ini." Dia pun beranjak dari kursi.


"Anda akan mendatangi mereka?" tanya sekretaris terkejut.


"Ya. Han tidak muncul, padahal sudah mengumpulkan mereka. Jadi terpaksa aku yang menghadapi mereka," kata Gara.

__ADS_1


"Tapi jika Anda muncul, mereka justru ..."


"Aku tahu, tapi tidak ada pilihan." Gara merapikan jasnya dan berjalan menuju lift. Sekretaris itu mengikutinya dari belakang.


Memang sejak awal akulah yang harusnya muncul untuk menghapus berita itu. Kenapa aku diam? Apa aku terlalu senang mendengar semua orang tahu hubungan spesial ku dengan Zia yang sempat terjalin itu? Entahlah.


Sementara itu para reporter sudah jenuh dan geram. Mereka menunggu Hanen yang akan berbicara di depan kamera. Namun sampai satu jam, pria itu belum muncul.


"Kemana ini Pak Hanen? Kenapa tidak muncul?" tanya mereka gusar.


"Susah-susah mengumpulkan kita, ternyata zonk saja. Mau bohongin kita?" gerutu mereka.


Gara menghela napas dulu beberapa detik sebelum pintu lift terbuka. Ting! Akhirnya pintu lift terbuka. Dia berjalan dengan tegas menuju lobi perusahaan.


Namun bagaimana jika Han sebenarnya ingin mengadakan konferensi ini untuk dirinya? Dia sengaja tidak muncul untuk membuat dirinya berhadapan dengan para reporter itu?


Pikiran Gara berkecamuk. Dia tidak tenang. Namun kakinya terus saja melangkah. Tinggal belokan do depannya, dia akan sampai di lobi perusahaan. Maka dia harus siap segalanya saat itu juga.


Satu ...


Dua ...

__ADS_1


Tiga ...


"Hei, itu dia Hanen!" teriak seorang reporter yang melihat kemunculan Hanen di luar gedung. Mereka langsung berbondong-bondong menyambut kedatangan Hanen.


Hanen?


Gara melongok ke arah dinding kaca. Pria itu tengah berjalan masuk sambil di kerubuti para reporter. Padahal mereka bisa saja menemukan Gara saat kakinya sudah mau belok, tapi kemunculan Hanen menyelamatkannya.


"Tuan Han datang," kata sekretaris di sampingnya.


"Ya. Aku melihatnya. Cepat kawal dia. Biarkan aku sendirian," perintah Gara.


"Baik Tuan." Sekretaris dan beberapa orang yang mengawalnya barusan mendekat pada Hanen. Meninggalkan Gara yang memilih tetap berdiri di samping dinding belokan tadi.


Dari lobi tubuhnya tidak terlihat. Jadi kemunculan Han benar-benar menyelamatkannya dari incaran reporter.


Gara menghela napas.


"Han tidak berbohong. Sepertinya dia bertekad untuk melakukannya. Hhh ... Maaf, aku sempat berburuk sangka padamu, kakak. Silakan lakukan apa yang kau bisa untuk menyelamatkan Zia."


...____...

__ADS_1



__ADS_2