Getir

Getir
Ancaman


__ADS_3


Tidak jauh dari mereka, ada Kayla yang tidak sengaja datang ke supermarket ini karena sedang lewat.


"Mereka ... Huh." Kayla mendengus. Dia sangat membenci Zia. Wanita yang sudah membuatnya kehilangan Hanen dua kali. Pertama, ketika pernikahan mereka berlangsung. Zia sudah merebut tempatnya di pelaminan. Kedua, setelah Han memutuskan hubungan gelapnya dan memilih kembali pada istrinya. "Hanen harusnya melihat ini. Dia harus tahu bahwa istrinya saat ini bersama Gara." Kayla mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar mereka berdua. "Hmmm ... lalu aku kirim ke Hanen dan ... selesai." Kayla punya nomor ponsel Hanen yang baru dari Juno. "Jika aku tidak bisa memiliki Hanen, mereka harus merasakan ketidakbahagiaan."


Di kantor cabang.


Hanen tengah mempersiapkan semua hal yang berhubungan dengan promosi produk baru. Ponselnya bergetar. Seseorang tengah mencoba menghubunginya. Tangannya merogoh ponsel yang di letakkan di saku kemejanya. Itu nomor tidak di kenal. Awalnya Hanen tidak peduli karena tidak ada identitas dari nomor kontak tersebut. Namun saat nomor itu mengirim pesan yang berisi gambar, Hanen tertarik.


Bola mata Hanen terkejut saat mendapati itu adalah Zia dan Gara. Tanpa pikir panjang Hanen segera menelepon nomor itu balik. Ia ingin tahu siapa orang yang tidak di kenalnya ini.


"Halo," sapa seorang perempuan di sana.


"Siapa kamu?" tanya Hanen.


"Oh, Han. Itu kamu? Kamu lupa denganku?" Kening Han mengerut karena suara di seberang mengenalnya. "Jadi suaraku juga tidak kamu kenal sekarang? Oh, astaga. Aku benar-benar di tenggelamkan. Kamu tidak mengingatku sama sekali," kata perempuan itu. Han masih mengerutkan kening. Berusaha mengingat siapa pemilik suara menyebalkan ini.


"Itu kau? Kayla ...," tebak Han setengah mendesis.


"Akhirnya ... Kamu ingat juga siapa aku. Jadi kehidupan cintamu yang kedua ini melupakan segalanya, ya? Enak sekali hidup kamu. Saat kamu masih menginginkan aku, aku menerimamu. Saat kamu membuangku karena ingin dengan Zia, dia menerimamu. Sungguh beruntungnya kamu."

__ADS_1


"Ada hal penting lainnya selain soal ini?" tanya Han menanggapi mantan kekasihnya dengan dingin.


"Ughh ...." Kayla menggeram kesal karena sikap dingin Hanen. "Jadi gambar yang aku kirim tidak berpengaruh padamu?" Hanen masih ingat gambar yang Kayla kirim barusan. Tidak berpengaruh? Baginya? Tentu saja iya. Mereka sempat menjadi sepasang kekasih. Kebodohannya membuat mereka menciptakan rasa cinta sendiri.


Meskipun Zia berusaha membuat rumah tangganya utuh kembali seperti dulu, tapi Han tahu. Hubungan spesial yang sempat terjalin di antara mereka tidak akan hilang begitu saja. Itu membuat hatinya sakit.


Kakinya melangkah keluar ruangan. Pamit ke toilet untuk bisa bicara lebih leluasa. Setelah ia berada di dalam lorong kantor yang sepi, ia mulai bicara. "Zia istriku dan Gara adikku." Hanen berusaha tenang.


"Ya. Aku juga tahu soal itu. Mungkin orang lain hanya tahu kalau mereka adalah adik dan kakak ipar, tapi kamu lupa ... kalau aku juga tahu tentang hal yang lain, Hanen. Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Zia dan Gara." Kayla yakin kali ini kalimatnya tidak akan di abaikan oleh Hanen.


"Apa maumu Kayla?" desis Han geram. Dugaan Kayla benar. Hanen langsung bereaksi dengan apa yang di bicarakannya. Dia mulai di pedulikan.


"Banyak Han. Banyak sekali." Kayla bicara dengan santai. Dia sudah bisa memegang kendali. Dia ingin bermain-main.


"Jangan terburu-buru, Han. Kita lakukan perlahan. Kamu bisa memberikan aku semuanya dengan pelan. Jangan tergesa-gesa. Lagipula aku tidak butuh uang."


"Jangan bermain-main, Kayla!" sembur Hanen mulai tidak sabar.


"Kenapa? Bukannya kamu dulu sangat suka bermain-main?" kata perempuan ini makin yakin ia bisa mengobrak abrik kehidupan tenang pria yang sudah menyakitinya ini. Hanen menggeram. Ia tahu siapa dirinya dulu. Kayla benar. Ia suka bermain-main. Bahkan mempermainkan perasaan Zia yang sebenarnya tulus padanya. Hingga ia menyadari ia tidak ingin perempuan itu menjadi milik Gara, adiknya.


Aku harus membuat pria ini menderita sebelum aku mendapatkan pria yang lain. Jadi aku bisa fokus pada pria baruku nanti. Kayla tersenyum berpikir bahwa rencananya mulai terlihat akan berhasil.

__ADS_1


"Pertama kita harus bertemu, Han. Bisa menemuiku nanti malam?" tanya Kayla langsung membuat janji temu.


"Aku tidak harus menuruti perintahmu," geram Han. Dia sudah punya janji makan malam dengan istrinya di rumah. Jadi dia tidak bisa pergi kemanapun. Lagipula ia tidak ingin bertemu dengan wanita ini. Han sudah berjanji akan melepaskan semua hal tentang Kayla.


"Tidak mau? Oke. Terserah kamu. Aku tidak bisa memaksa jika tidak mau. Kalau begitu, kamu bisa melihat berita soal asmara mereka berdua di halaman depan surat kabar. Juga di headline news tv. Bahkan di situs gosip, berita tentang mereka akan tersebar," kata Kayla dengan begitu santai.


"Kamu tidak punya bukti. Berita itu tidak akan mendapat sorotan publik," ujar Han menggeram kesal.


"Tidak punya bukti? Hahaha ..." Kayla tertawa meremehkan. "Bukti kecil pun pasti akan menjadi besar jika tokoh utama dalam cerita ini adalah istri putra pertama keluarga Laksana dengan putra kedua mereka." Kayla benar. Berita ini akan menjadi topik di publik yang begitu mengguncang.


"Mereka tidak akan percaya ...," kata Han berusaha tetap membela. "Lagipula aku juga tahu tentang mereka. Aku bisa menutup cerita mereka berdua. Tidak ada masalah bagiku."


"Emm ... memang benar. Kamu tahu soal perselingkuhan mereka. Istri dan adikmu, tapi ... apa berita menggemparkan itu akan di terima dengan hati yang terbuka oleh Zia?Terutama keluarga ibunya," kata Kayla membuka satu hal penting lagi yang perlu dikatakan.


"Keluarga?" Han terkejut Kayla sudah memperhitungkan semuanya. Ancaman itu bukan hanya berdampak bagi dirinya dan keluarga, tapi ibu dan kakaknya Zia akan terseret dalam berita itu. Han terdiam dan memejamkan mata sejenak dengan kesal. Dia tahu perempuan ini sedang menyerang titik terlemah Zia. Dan itu memang berpengaruh juga baginya karena prioritasnya sekarang adalah istrinya. Awalnya dia tidak begitu menggubris mantan kekasihnya ini, tapi setelah tahu bahwa Kayla mengancam soal Zia, ia kalah.


"Katakan dimana kita harus bertemu." Akhirnya Han mengikuti apa yang di inginkan Kayla. Suara tawa menang terdengar di seberang. Hanen yakin Kayla sedang mencemooh nya.


"Aku tidak akan memberikan alamat itu sekarang. Jadi simpan nomorku baik-baik. Kamu akan ku beritahu jika waktunya sangat dekat. Sudah dulu ya, sayang. Aku sangat bersemangat ingin bertemu denganmu lagi," ujar Kayla menutup pembicaraan mereka.


Hanen menutup teleponnya. Kemudian mendesah lelah. Ancaman Kayla tidak begitu berpengaruh baginya. Itu semua murni menyakiti Zia. Bahkan berita itupun tidak akan punya banyak efek untuk Gara. Satu perempuan diantara dua pria putra keluarga Laksana yang terkenal? Semua orang pasti akan menghujat Zia.

__ADS_1



__ADS_2