
Gara menyesap lagi minumannya secara perlahan. Bibirnya tersenyum mengingat tawaran yang membuatnya gila dan kacau. Bahkan hati dan tubuhnya sudah terpaku hanya pada Zia.
"Kamu candu bagiku, Zia. Untuk hati dan tubuhku," lirih Gara seraya memejamkan mata.
Ponsel di sampingnya bergetar. Ada pesan masuk. Gara melirik dengan malas. Ternyata itu Rara. Setelah tahu itu adiknya, Gara memaksakan meletakkan gelas minumannya dan meraih ponsel.
"Kak Gara dimana? Apa kakak baik-baik saja? Aku cemas." Begitu bunyi pesan dari adiknya yang manis itu. Bibir Gara tersenyum.
"Aku baik-baik saja." Gara membalas dengan singkat.
"Kakak ada dimana?" Ternyata Rara tidak menanggapi balasan pesan darinya.
"Di rumah. Tetap di rumah sakit, jangan pulang. Aku sedang kacau, tapi tetap baik-baik saja. Semua masih aman. Namun tidak ingin bertemu siapa-siapa." Gara melepas kekang angkuhnya untuk mengaku hancur.
"Syukurlah kakak di rumah. Jangan kemana-mana."
"Ya."
Rara bukan tidak tahu kalau Gara berantakan. Namun dia butuh tahu dimana sebenarnya kakaknya itu berada. Karena dengan begitu, dia bisa langsung melesat kesana tanpa ketahuan.
__ADS_1
"Mama bilang kakak harus istirahat." Ternyata obrolan ini masih berlanjut. Rara menambahi pesannya. Bibir Gara hanya tersenyum pedih. Jika tadi dia minum dengan pelan, kali ini dia minum beberapa gelas langsung.
****
Kondisi Zia lumayan stabil. Keadaan kandungannya juga sehat meski keadaan Zia terbilang naik turun.
"Dokter bilang bayi mu sehat, Zia." Mama mengelus perut buncit menantunya. Zia tersenyum.
"Han mana, Ma?" tanya Zia yang sejak ia membual mata belum melihat suaminya sama sekali.
"Si Han masih keluar mencari makan. Sebentar lagi pulang kok sayang," ujar mama menenangkan. "Jangan berpikir hal lain lagi ya ... Keadaan sudah mulai tenang."
"Sudah, sudah. Jangan bahas itu lagi. Sekarang fokus pada bayi ini. Kasihan kalau kamu tertekan terus. Bayi ini akan ikut tertekan." Mama memutus pembicaraan itu. "Sebentar lagi mama pulang kalau Han datang."
"Aku sudah datang." Hanen muncul dengan paper bag sebuah resto cepat saji. Bola mata Zia melebar lega melihat pria itu datang.
"Oh, syukurlah." Mama terlihat ikut lega.
"Mama pulang dengan siapa?" tanya Hanen seraya meletakkan paper bag di atas nakas.
__ADS_1
"Sebenarnya sama Rara, tapi sepertinya anak itu sibuk, jadi mama telepon sopir rumah. Dia ada di lorong, kamu lihat tidak?" tanya mama.
"Lorong? Tidak ada." Hanen tidak melihat pak sopir di lorong yang di lewatinya tadi.
"Mungkin ke toilet." Mama benar karena setelah itu pintu di ketuk, muncul pak sopir untuk menjemput beliau. "Mama pulang ya sayang ... Jangan berpikir macam-macam. Semua sudah bisa teratasi," bisik mama ketika memeluk menantunya.
"Iya Ma."
"Mama pulang Han, ya ..."
"Ya Ma," kata Hanen dan Zia hampir bersamaan. Setelah itu kamar perawatan sepi. Hanya tinggal mereka berdua. Hanen langsung mendekat dan memeluk istrinya.
"Semua sudah teratasi, Zia. Publik tidak akan lagi membuat kamu tertekan," bisik Han menciumi kepala istrinya.
"Terima kasih Han," ujar Zia sambil berkaca-kaca.
"Tidak, Zi. Jangan berterima kasih. Semuanya karena aku yang bodoh. Jadi kamu tidak pantas mengucap terima kasih untuk hal yang sebenarnya karena aku sendiri," kata Hanen.
...____...
__ADS_1