Getir

Getir
Menerima rasa sakit


__ADS_3


Hanen berjalan menuju tangga ke lantai atas. Seperti yang ia ketahui tadi, Zia sedang berada di lantai atas. Tanpa ragu, pria ini berjalan menaiki tangga. Dengan wajah ceria, Han berharap segera bertemu dengan istrinya.


Entahlah. Dia sedang begitu ingin bertemu Zia. Rasa rindu yang tiba-tiba menyerangnya membuat dia tidak berhenti membayangkan akan bertemu istrinya. Wajah yang cerah, tatapan yang hangat, dan pelukan yang menenangkan. Han begitu ingin bertemu Zia dan memeluknya.


Namun, dia sedikit merasa heran dengan rasa cemas dan was-was yang mendera hatinya. Perasaan ini bersebelahan dengan perasaan bahagia tadi. Sampai Hanen sendiri tak yakin. Apakah dia sedang rindu pada Zia atau sedang merasa was-was dengan apa yang akan terjadi nanti. Entah itu dirinya dan Zia, atau ada hal lain.


Dari lorong menuju ke ruang santai, Han merasa suasana di ujung lorong itu begitu sunyi. Han berpikir mungkin karena masih belum masuk kesana, jadi kemungkikan suara suara para gadis tadi tidak terdengar. Kakinya tetap melangkah mendekati ruang santai.


Setelah kakinya tiba di depan ruang santai yang lapang karena tidak ada sekat atau pintu saat akan masuk ke sana, Hanen berhenti. Bola matanya mengedar ke seluruh ruangan. Namun dia tidak menemukan siapapun. Ruang santai terlihat lengang.


"Kemana mereka ...," gumam Hanen melihat lagi ke sekeliling ruangan di depannya. Kakinya melangkah maju untuk lebih yakin bahwa tempat ini benar-benar kosong. Sebenarnya tanpa melihat lebih dekat pun, tempat ini memang sangat sepi karena di tinggalkan banyak orang. "Sepertinya Zia dan Rara sudah tidak di sini. Kemana mereka? Dan kenapa Zia tidak memberitahuku kalau tidak lagi ada di atas sini."


Saat hendak memilih kembali turun, Hanen melihat pintu ke balkon terbuka. Bola matanya mengerjap.


Apa mungkin Zia masih di sana?


Kakinya melangkah mendekat ke pintu. Lalu keluar dari area ruang santai. Udara menerpa wajahnya. Ini di luar ruangan. Angin bertiup sepoi-sepoi dan dingin, karena ini malam.


Selangkah demi langkah dia berjalan di balkon. Seketika pria ini terhenti saat menyaksikan dua manusia ada di atas sofa. Setengah telanjang, sedang menyatukan diri. Gara dan Zia.


Sontak bola mata Han panas dan memerah.


"Mereka ..." desis Hanen marah. Samar-samar suara langkah kaki terdengar. "Sial." Hanen menjauh. Urung untuk mendekati mereka. Hanen memilih mundur dan bersembunyi. Rara muncul dengan ponsel di dekatkan ke telinganya. Celingukan kesana-kemari. Sepertinya gadis itu sedang mencari Zia.


Hanen melihat langkah Rara menuju balkon. Matanya memejam.

__ADS_1


Sakit. Han merasakan sakit di hatinya. Mungkinkah ini sebuah pertunjukan yang sedang di tujukan padanya, untuk memberitahukan apa rasa sakit itu. Zia pasti merasakan hal yang sama saat dia selalu menyakitinya. Mungkin lebih sakit daripada apa yang dia rasakan sekarang.


Tidak butuh waktu yang lama hingga Rara muncul bersama Zia. Tangan Hanen terulur ingin mendekati mereka, tapi di urungkan niatnya. Dia diam, hingga mereka menghilang dari ruangan ini.


Hanen keluar dari kegelapan di sudut ruangan. Pria ini keluar dari kegelapamdengan kepalan tangan menggenggam kuat-kuat. Matanya merah menahan marah.


"Brengsek," geram Hanen. Masih dengan tubuhnya yang diam dan tidak melakukan apa-apa. Dia berdiri di dekat sofa di dalam ruang santai sambil melihat keluar pintu. "Brengsek kau, Gara." Sekarang dia bimbang. Mau maju atau mundur.


Maju dan menghajar Gara adalah keinginannya. Namun di balik semua kemarahan yang sedang menyelimutinya, hati kecil Hanen juga sedang terbungkus bimbang. Jika saat ini dia marah dan bukan hanya ingin menghajar Gara, melainkan ingin membunuhnya, bagaimana Zia saat dia memilih malam pertama dengan Kayla daripada dengannya.


Langkah Hanen terhenti bukan tanpa maksud. Dia diam bukan sengaja membiarkan. Hatinya sangat sakit. Dia memilih menelan rasa sakit dan marah karena merasa bersalah. Hanen berhenti karena merasa dia juga melakukan kesalahan yang sama.


Saat itu Gara yang berjalan dengan sedikit gontai menuju pintu, menemukan kakaknya di sana. Sorot mata tajam Hanen menghujam ke arah Gara.


"Brengsek," desis Hanen.


"Kenapa diam saja dan memilih bersembunyi?" Gara memprovokasi. Dengan mata sayu dan langkah sedikit gontai, Gara berjalan melewati Hanen.


"Aku ingin menghajarmu. Aku juga ingin membunuhmu," desis Hanen menahan diri. Pengakuan ini membuat Gara berhenti dan menengok ke arah kakaknya.


"Lakukan saja jika kau mampu," tantang Gara. Matanya menatap tajam ke arah Han.


"Jadi menurutmu aku tidak pantas menghajarmu? Aku tidak pantas membunuhmu?" tanya Han dingin.


"Tidak. Kau tidak cukup pantas bersikap seperti sedang melindungi Zia. Kau sendiri yang membuangnya. Aku hanya mengambil permata yang belum di poles dan akhirnya di campakkan olehmu."


Hanen mendengkus. "Kita sama. Dengan kamu memperlakukan Zia seperti tadi, aku rasa letak kita di hatinya adalah sama. Mungkin cintanya memang untukmu sebelum ini, tapi ... kamu menghancurkannyaKamu jadi seperti pemabuk yang sedang berhasrat pada seorang perempuan."

__ADS_1


Itu kata-kata yang cukup menampar Gara sat ini. Mungkin sekarang dia seperti itu. Hingga membuat air mata wanita itu menetes. Hanen pergi menjuh dari ruang santai mendahului Gara. Saat tiba di depan kamar Rara, Hanen berhenti. Ia ingin mengetuk pintu dan menanyakan keadaan Zia.


Tangannya diam dan mengambang, saat dirinya ragu untuk melakukannya. Hanen memilih pergi tanpa mengusik Zia di dalam kamar.


"Selain karena kak Gara masih mencintai kak Zia, aku rasa dia juga masih terpengaruh alkohol." Rara menyimpulkan. Zia tetap diam. Masih teringat soal Gara yang tadi.


Ada apa, Ga? Kamu melakukannya karena marah dengan keputusanku?


"Ponsel kak Zia mana? Sudah ketemu?" Rara ingat soal ponsel yang ketinggalan. Zia menggeleng. Dia ingat sudah menemukan ponsel itu, tapi saat itu terlempar di lantai dan di abaikannya.


"Pasti masih di sana. Di balkon. Aku yakin itu terlempar di sekitar sana. Aku akan mengambilnya," ujar Zia lambat. Ia berdiri.


"Tidak. Biar aku yang mengambilnya. Kak Zia harus tetap di sini. Jangan kemana-mana. Tenangkan dulu dirimu." Rara mencegah iparnya kembali ke balkon. Apabila Gara masih di sana, itu akan membuat pria itu mendekatinya lagi.


"Kamu tidak akan bisa segera menemukannya."


"Itu benar, tapi membiarkan kakak ke sana untuk mengambilnya ... itu tidak mungkin."


"Aku bisa kesana bersamamu. Kamu bisa temani aku."


"Baiklah. Ayo kita kesana," ujar Rara mengalah. Aku rasa kak Gara sudah pergi dari sana. Jadi tidak masalah kak Zia kesana sekarang. Rara berjalan lebih dulu mendekati pintu. Dan sungguh mengejutkan bahwa ada Gara melintas di depan kamarnya. Letak tangga turun memang berada di sebelah kanan kamar Rara. Pria itu barusan pergi dari balkon rumahnya.


Gara tidak bermaksud mencari Zia di sana, tapi saat melihat perempuan itu berada di belakang Rara, ia berhenti.


"Zia ..."


__ADS_1


__ADS_2