
"Kak Gara di sini?" tanya Rara akhirnya setelah kesunyian terbentang beberapa detik tadi.
"Ya," sahut Gara tanpa mempedulikan keterkejutan adiknya melihat dirinya berada di sini.
"Kakak belum ke kantor polisi?" tanya Rara yang masih dalam pengaruh rasa terkejutnya tadi.
"Ya. Aku pikir tidak ada orang yang akan datang menjenguk Zia." Gara tampak geram ketika mengatakannya. Ya, dia melihat semua orang berada di kamar Hanen di rawat, sementara Zia sebenarnya mengalami hal yang sama. Apalagi perempuan ini hamil.
Bibir Rara menipis mengakui kalau mama cenderung lebih ingin menemani putra pertamanya daripada menantunya.
"Apa yang sedang kamu bicarakan Gara?" tegur Zia. Dia tahu kalau Rara tidak akan membela diri. Gara mengganti pandangannya pada perempuan ini.
"Tidak ada. Hanya bicara suatu hal yang sedang aku lihat," sahut Gara seraya bertingkah seakan apa yang dibicarakannya tidak salah. "Aku berangkat sekarang. Sesekali temani Zia. Dia juga mengalami syok berat meski tidak terjadi apa-apa padanya," pinta Gara. Meski dengan nada tegas, tapi pria ini sedang memohon pada adiknya.
"Rara akan menemani Kak Zia selama mama tidak membutuhkan Rara." Gadis ini berusaha menjawab dengan bijak.
"Aku berangkat." Gara berpamitan. Zia menundukkan pandangan ketika pria itu memperhatikannya agak lama. Rara menyaksikan itu. Dia yakin kalau Gara masih memendam rasa untuk perempuan ini.
"Ya. Hati-hati Kak Gara," kata Rara mengantarkan kepergian Gara.
"Bagiamana keadaan Hanen, Ra?" tanya Zia langsung ketika Gara sudah menghilang dari kamar ini. Rara diam. Dia ragu bicara sesungguhnya atau tidak. "Antarkan aku kesana. Aku ingin melihat suamiku," desak Zia yang melihat Rara ragu untuk bicara. Rara menatap kakak iparnya. "Kamu tidak mungkin melarang ku untuk melihat Hanen kan?" selidik Zia.
"Tentu saja tidak, Kak Zia."
"Terima kasih. Jadi tolong antarkan aku ke ruangan Hanen. Aku ingin melihatnya," tegas Zia.
"Baiklah. Aku akan ambil kursi roda dulu." Rara setuju.
***
Roda kursi roda berjalan terasa lambat. Karena Zia begitu ingin melihat keadaan Hanen, dia terburu-buru ingin bertemu.
__ADS_1
"Jadi ... bagiamana keadaan Hanen, Ra?" tanya Zia sambil tetap menatap lurus ke depan.
"Kak Hanen masih dalam keadaan koma. Dia belum membuka mata sama sekali," ungkap Rara akhirnya. Mata Zia langsung berkaca-kaca. Setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai di depan pintu kamar Hanen. Rara memutar kenop pintu dan mendorong pintu pelan. Gadis ini pikir di dalam akan melihat mama, tapi ternyata di dalam kosong. Tidak terlihat mama di sana. Rara mendorong kursi mendekat pada bibir ranjang.
"Hanen ..." lirih Zia yang tak kuasa lagi menahan air matanya. Seketika perempuan ini menangis tersedu-sedu. "Ini salahku. Ini salahku, Rara," ujar Zia di sela air matanya.
"Tidak. Ini hanya jalan takdir saja untuk Kak Hanen," kata Rara berusaha tenang.
"Tidak." Zia menggelengkan kepalanya. "Jika aku ... jika aku tidak melakukan kesalahan dengan Gara, Hanen tidak akan mengalami hal seperti ini." Zia merasa bersalah. Rara memeluk Zia. Ia merasa iba.
"Semua sudah takdir, Kak. Baik kakak maupun kak Hanen. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri."
"Meskipun kamu mengatakan itu, tapi aku sadar semuanya berasal dari kesalahanku, Ra. Aku yang bodoh," ujar Zia dengan air mata meleleh. Rara tidak berkata apa-apa lagi. Dia membiarkan Zia menumpahkan seluruh kesedihannya melalui air mata.
Hingga beberapa menit tangisan itu akhirnya reda.
Pintu kamar terbuka karena mama datang. "Oh, Zia? Kamu mulai sehat?" tanya mama seraya memeluk menantunya.
"Lihatlah, Hanen. Dia tetap saja terbaring dengan lemah. Dia belum membuka sama sekali Zia." Mama menunjuk putranya dengan dagunya. Tatapan beliau begitu sedih. Zia menggigit bibir bawahnya merasakan getir yang sama.
"Maaf, Ma," lirih Zia.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Yang kita lakukan adalah berdoa agar Hanen cepat sembuh. Kamu juga harus menjaga kesehatan mu, Zia. Kamu sedang mengandung. Tidak baik kalau pikiran kamu kusut." Mama menyentuh pipi Zia. Kepala Zia mengangguk pelan.
**
Di kantor polisi.
Gara datang dengan wajah beraura gelap. Sepertinya pernyataan saksi sudah diterima. Rupanya papa sudah pergi lebih dulu karena di sana tinggal sekretaris beliau saja.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Gara pada beliau.
__ADS_1
"Semua sudah jelas pak. Hanya saja perempuan itu masih terus menyangkal."
Bola mata Gara melihat ke arah Kayla. Perempuan itu duduk sambil marah-marah di depan meja petugas kepolisian. Gara melangkah mendekat di dampingi sekretaris papa.
"Selamat siang petugas," sapa Gara. Beberapa polisi mendongak.
"Ah, Pak Gara." Mereka langsung berdiri dan bersalaman. Kayla menoleh.
"Gara! Aku bukan bermaksud mencelakai Hanen. Itu tidak mungkin aku lakukan. Aku mencintainya meski aku sempat marah karena dia memilih Zia, bukan aku!" Kayla masih menyangkal.
"Nona, cobalah untuk tenang." Pengacara yang mendampingi Kayla mencoba menenangkan.
Gara melirik ke arah mantan kekasih Hanen itu sekilas, lalu melihat ke arah petugas kepolisian. "Bagaimana prosesnya?" tanya Gara.
"Semua sudah hampir selesai, Pak Gara. Saksi saksi sudah mengatakan semuanya. Bukti ada saksi ada. Jadi ini begitu mudah." Polisi mengabaikan pernyataan Kayla.
"Lebih baik di segerakan saja, Pak." Gara begitu lembut mengatakannya tapi bagai petir menyambar di telinga Kayla.
"Gara! Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan?! Aku ini tidak mungkin mencelakai Hanen. Yang aku ingin celakai adalah Zia!" teriak Kayla tidak bisa berpikir jernih.
"Nona Kayla!" teriak pengacara terkejut dengan pernyataan Kayla. Semua menatap perempuan ini dengan iba. Bagaimana bisa ada pengakuan seperti itu. Jika ingin menyangkal, tetap menyangkal saja hingga keputusan hakim di umumkan. Karena bisa saja apa yang kamu katakan bisa ikut di jadikan bukti bahwa kamu memang sengaja ingin melakukan penganiayaan atau mencelakai orang lain.
Gara tersenyum lucu. "Aku tahu. Aku tahu kamu tidak mungkin mencelakai Hanen, tapi ..." Gara mendekatkan wajahnya pada Kayla. "Justru karena kamu ingin mencelakai Zia, jadi aku harus bisa membuatmu lebih menderita, Kayla." Bibir Gara tersenyum puas.
"Tutup mulutmu!" teriak Kayla marah. Dia lupa Gara begitu mencintai kakak iparnya itu. Baik Hanen maupun Gara tidak mungkin membiarkan dirinya melukai Zia, karena mereka berdua sudah terpikat pada perempuan itu.
"Jadi apa ada lagi yang harus aku lakukan?" tanya Gara.
"Masih ada beberapa berkas yang butuh tanda tangan Pak Gara. Tuan besar belum menyelesaikannya karena masih ada kepentingan mendadak. Mari." Pak Polisi membawa Gara ke ruangan lain karena Kayla masih berteriak.
"Tidak! Kamu harus bisa mengeluarkan aku dari sini!" teriak Kayla pada pengacaranya. Tangan Kayla mengguncang-guncangkan tubuh pengacaranya dengan kuat. Itu membuat orang-orang di sana menggelengkan kepala.
__ADS_1
...________...