Getir

Getir
Bab. 75


__ADS_3

“Jangan bicara sembarangan Gara,” sergah Zia dengan mata tajam. Aku terluka, tapi kenapa aku juga merasa Zia juga tengah terluka?


 


Bibirku terdiam seraya menatap Zia lurus. Suasana hening mulai merambati kita berdua.


 


“Maaf aku agak lama Kak Zi ... Kak Gara?!” Rara muncul menyeruak di antara kesunyian dapur karena aku dan Zia diam dengan terkejut. Rara mendekat dan memelukku. “Kenapa Kakak sudah datang? Bukannya harusnya besok atau lusa baru pulang?”


 


“Pekerjaanku sudah selesai. Jadi aku pulang,” jawabku santai.


 


“Kenapa enggak kasih kabar dulu atau gimana gitu...” Rara melirik ke arah Zia. Mungkin dia sudah memberitahu perempuan itu bahwa aku tidak ada. Jadi dia mau di ajak ke rumah ini. Dan sekarang sepertinya Rara merasa tidak enak dengan Zia karena ternyata aku muncul.


 


“Maaf, aku hanya ingin memberi kejutan untukmu.”


 


Rara melirik pada Zia lagi. Sengaja aku mempertegas kata maaf, agar Zia tahu kalau semua ini tidak pernah di rencanakan oleh Rara. Ini murni suatu kebetulan saja.


 

__ADS_1


“Kenapa Kakak datang malah ke dapur? Bukannya harusnya masuk kamar dan mandi.” Tangan Rara menepuk lenganku pelan. Sepertinya itu bermaksud menyuruhku pergi. Namun aku tidak mau kesempatan ini hilang. Bertemu Zia adalah keinginanku.


 


Suara deru mobil terdengar di luar. Rara menggeram pelan lalu melesat pergi keluar. Meninggalkan aku dan Zia yang masih tetap saja seperti tadi. Namun kini kita berdua lebih penasaran dengan suara mobil tadi. Siapa itu?


 


“Kak Gara.” Rara muncul di pintu dengan panik. Aku diam menunggu apa yang akan di bicarakannya. Melihat gelagatnya, aku yakin Rara sedang melakukan sesuatu yang tidak biasa. “Itu. Anu ...”


 


“Bicara saja. Aku sedang berhati baik. Jadi lebih baik katakan sekarang atau aku akan marah saat kamu sudah yakin akan membicarakan itu besok,” ancam ku.


 


 


“Kekasihmu?” tebak ku. Siapa lagi pria yang berani datang ke sini setelah sekian lama tidak ada pria satu pun yang muncul. Pasti itu orang spesial.


 


“Ya,” sahut Rara dengan gerakan tubuh canggung.


 


“Kalian akan ngobrol di sini kan?” tegasku. Karena tidak mungkin Rara meninggalkan Zia sendiri dan hanya denganku saja. Meskipun aku menginginkan itu, tapi aku lebih mengkhawatirkan Zia yang pasti panik jika hanya bersamaku di rumah ini.

__ADS_1


 


“Ya. Aku akan ngobrol di depan. Dan ... “ Rara menghampiri Zia. Wajah perempuan itu seperti sudah mengira akan ada hal seperti ini terjadi. Dia menghela napas. “Aku boleh ngobrol dengan kekasihku kan Kak Zia?” rajuk Rara. “Aku minta maaf sudah membuat Kak Zia harus di sini sendirian. Padahal aku sudah bilang kalau ada Kak Zia di sini.”


 


“Lebih baik kita berempat ngobrol bareng di depan,” kataku memutuskan. Rara dan Zia melihat ke arahku. Mungkin keputusan ini membuat Rara cemberut.


 


Akhirnya kita berempat duduk di sofa ruang tamu. Rara tidak bisa pacaran dengan bebas. Kekasih Rara yang di beritahu bahwa rumah sedang kosong hanya kakak iparnya terkejut saat mengetahui aku dan Zia ikut duduk di sofa.


 


Tentu saja ini membuat kedua anak itu canggung. Rara meringis. Mungkin saat ini dia kesal. Padahal dia ingin hanya berduaan saja.


 


“Sepertinya kami sudah selesai berkenalan,” kata Zia tiba-tiba. Itu mengejutkan. Karena aku sudah mengatakan akan mengobrol di depan. Zia menatap ke arahku. Aku mengerjapkan mata. “Kami harus pergi ke belakang,” ujar Zia yang tiba-tiba meraih tanganku. Memaksa tubuhku beranjak pergi untuk meninggalkan mereka berdua.


... _____...



 


 

__ADS_1


__ADS_2