
“ ... Menantu keluarga Laksana berselingkuh dengan adik ipar, Gara Laksana ...”
Berita ini bukan hanya muncul di televisi Hanen dan Zia saja. Berita juga di lihat oleh Gara.
Gara melebarkan mata saat tidak sengaja melihat berita tentang Zia di televisi.
Sepertinya bukan hanya Zia yang bingung. Pria ini juga demikian. Namun itu bukan karena dirinya di sebut dalam berita itu. Pria ini lebih mengkhawatirkan keadaan Zia.
"Zia ... Dia pasti terkejut melihat ini. Dia pasti kebingungan." Gara langsung mencari ponselnya.
Kaki Gara mondar-mandir ke kanan dan kiri. Dia cemas juga gusar. Teleponnya tidak tersambung.
"Kemana Zia?" tanya Gara gundah. "Oh, sial. Dia tidak akan menerima telepon dariku. Dia pasti sengaja mengabaikan." Gara baru ingat kalau Zia menutup diri untuknya.
Gara tidak patah semangat. Dia matikan telepon ke Zia, kini berganti menelepon kakaknya.
"Kemana juga Han? Kenapa sekarang dia tidak segera mengangkat telepon ku?" Gara gusar.
Brak!
Hingga lemari pakaian di sampingnya menjadi sasaran amukannya.
"Ayolah, Han. Kenapa kamu juga tidak mengangkat handphone mu?!" Gara naik pitam. Namun setelah berulang kali Gara mencoba menghubungi, ponsel Han tetap tidak tersambung.
"Oh, tidak. Sepertinya aku harus pergi ke rumah mereka." Gara langsung mengambil keputusan cepat. Dia merasa sudah terlalu lambat ia menemui mereka.
Saat terburu-buru keluar dari kamar, Rara melihat Gara.
__ADS_1
"Kak Gara, kenapa terburu-buru? Ada apa?"
"Kamu pasti belum lihat berita pagi ini. Tidak ada waktu menjelaskan. Kamu bisa lihat sendiri." Gara tidak mengatakan perihal berita itu. Dia tergesa-gesa melesat keluar untuk menuju rumah Han.
"Zia, bagaimana keadaanmu? Semoga semua baik-baik saja." Gara berkata lirih sambil menyetir.
Rara sendiri kebingungan mendapat penjelasan tidak lengkap dari Gara.
"Berita pagi ini? Berita apa?" Rara segera ke dapur. Dia belum makan pagi.
Tv masih menyala di dapur. Namun tidak lagi mengungkap berita itu.
"Memangnya ada berita apa?" tanya Rara masih belum menemukannya. Namun saat ia pindah saluran tv, berita itu muncul lagi.
Bola mata Rara membeliak. Dia yang sempat tahu kisah itu jadi panik juga.
**
Gara sudah tiba di depan rumah Han. Namun tidak ada mobil pria itu di carport. Suasana rumah juga lengang dan sepi.
Namun Gara tidak ragu untuk turun mencari tahu. Dia membuka pintu pagar. Lalu berjalan agak cepat menuju pintu utama.
Tok! Tok!
Dengan keras Gara mengetuk pintu. Dia ingin orang yang ada di dalam segera membuka pintu. Namun setelah mengetuk berulang kali, pintu tidak terbuka.
"Ternyata tidak ada orang di dalam. Sial!" Gara kesal. Ia mencoba menelepon Hanen. Berharap ada kejelasan dimana mereka sekarang.
__ADS_1
Namun saat ia mencoba menelepon Han, telepon dari Rara juga masuk. Han menakjubkan ponselnya dan menatap layar.
"Rara? Kenapa dia meneleponku? Maaf, Ra. Aku harus menelepon Hanen."
Ternyata Rara gigih menelepon.
"Ada apa?" tanya Gara.
"Kak Gara ada di mana sekarang?"
"Kenapa ingin tahu? Katakan saja ada apa kamu meneleponku?"
"Apa Kakak di rumah Kak Han?" Rara bertanya hati-hati.
"Ya. Jadi kamu tahu berita itu?" tebak Gara.
"Sebaiknya kakak kembali."
"Aku mencemaskan Zia, Ra."
"Aku mengerti, tapi bisa kakak kembali ke rumah dulu?"
"Kamu pasti tahu kemana dua orang ini."
"Ya," sahut Rara.
...______...
__ADS_1