Getir

Getir
Bab. 118


__ADS_3

Kaki Gara melangkah dengan sedikit terburu-buru ke lorong lain. Dia belum ingin keluar dari rumah sakit. Gara masih ingin melakukan sesuatu di sini.


Tiba di lorong yang ia tuju, kaki pria ini berhenti. Tampak pintu sebuah kamar pasien. Sepertinya ini kamar VIP. Dua orang penjaga yang sedang berdiri di depan pintu mengangguk memberi hormat padanya. Rupanya mereka mengenal Gara. Jadi siapa yang ada di dalam?


"Siapa saja yang ada di dalam?" tanya Gara dengan suara rendah.


"Tidak ada Tuan. Hanya perawat yang tadi memeriksa nyonya," kata penjaga itu. Gara mengangguk. Pria itu membukakan pintu.


"Terima kasih," ujar Gara seraya berjalan masuk ke dalam kamar. Pintu mulai tertutup perlahan. Gara diam sejenak ketika melihat seseorang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kakinya perlahan menghampiri. Tampak Zia terbaring dengan wajah pucat dan lemah. Namun itu tidak memudarkan rona cantik dari wajahnya. "Aku datang Zia," bisik Gara lemah.


Sejak awal mendengar kabar kecelakaan ini, dalam benaknya hanya ada Zia. Gara mencemaskan wanita ini dari siapapun. Juga lebih terkejut ketika melihat semua keluarganya berada di kamar Hanen. Dia ingin melihat keadaannya.


Mata Zia masih menutup. Entah bagaimana keadaannya, Gara tidak mendapat kabar apapun dari keluarganya. Tidak ada yang membahas keadaan perempuan ini sama sekali. Bahkan mama juga tidak ada di dalam kamarnya. Zia sendirian. Karena itu ia ingin memastikan sendiri keadaan Zia dengan mendatangi kamar dimana dia di rawat.


"Bagaimana keadaanmu Zia?" bisik Gara. Tidak ada jawaban apapun karena sepertinya Zia tidur dengan lelap. Mungkin dia sudah minum obat yang di berikan dokter hingga bisa tidur nyenyak seperti ini. Tangan Gara berangsur mendekat ingin menggenggam jari-jari perempuan ini. Ia ingin menyentuhnya.


Karena sentuhan itu, tubuh wanita ini bergerak pelan. Gara menjauhkan tangannya dari tubuh Zia.


"Nnggg ..." Zia bergumam dalam tidurnya dengan mata terpejam. Perlahan tapi pasti, kelopak mata itu bergerak. Sepertinya Zia akan terbangun. Gara menarik napas menunggu wanita itu membuka mata dan melihat dirinya, tapi harapannya pupus ketika mata itu gagal terbuka. Zia kembali tidur.


Gara mengulurkan tangan mengelus kepala wanita ini. "Aku rindu, Zia." Karena sentuhan ini, tubuh Zia bergerak.


"Han, Hanen ...," igau Zia dengan mata tertutup. Sepertinya Zia memimpikan suaminya. Gara menipiskan bibir mendengar igauan itu. Rasa pedih mulai muncul di dinding hatinya.


Dalam tidurnya pun ia menyebut nama Hanen.


Awalnya Gara ingin mengabaikan, tapi ketika melihat buliran air mata uang mengalir di pipi Zia, ia mulai mengeluarkan tangan. Mengusap air mata itu dan berbisik, "Aku di sini Zia."

__ADS_1


"Hanen ..." Rupanya dalam mimpi Zia, pria itu yang muncul. Hingga sekarang Gara yang berada di sampingnya terasa seperti pria itu.


"Ya, tenanglah. Aku menemanimu," ujar Gara lembut. Meski dia tidak senang Zia mengira dirinya adalah Hanen, tapi Gara tidak tega untuk membiarkan perempuan ini sedih dalam mimpinya. Gara menggenggam tangan Zia sambil terus menatapnya. Sepertinya genggaman tangan Gara berhasil menenangkan mimpi buruk Zia. Nyatanya igauan itu mulai tenang.


Bola mata Gara menatap perempuan yang terbaring lemah itu dengan lekat. Hatinya terenyuh melihat keadaan wanita ini. Meskipun tidak banyak luka yang ada di tubuhnya, tapi Gara tahu pasti Zia syok berat.


Ponselnya berdering. Buru-buru Gara mematikan untuk meredam suaranya. Namun ternyata ponsel itu bukan hanya sekali berdering. Dering itu terus saja terdengar untuk mengganggu ketenangan Gara menikmati lelapnya tidur Zia.


Gara berdecak harus mengambil ponsel dari sakunya dengan sebelah tangan. Pria ini tidak ingin melepaskan genggaman tangannya. Dia masih ingin lebih lama lagi dengan Zia. Karena kesulitan, Gara akhirnya melepas tangan Zia. Ia harus rela melakukan itu karena dering telepon memaksanya.


Sialan, geram Gara dalam hati karena akhirnya kalah dengan dering telepon. Ternyata penelepon bukan hanya satu orang. Ada sekretaris papa dan Rara. Adiknya ini yang sekarang tengah menghubunginya.


Gara sedikit menjauh untuk menerima telepon. Lalu kini ia mulai memunggungi ranjang seraya menatap ke luar jendela.


"Ada apa?" tanya Gara setengah menggeram. Bola mata Rara mengerjap mendengar nada suara yang tidak biasa.


"Ya. Tidak apa-apa. Ada apa?" Gara tidak membantah soal permintaan maaf Rara, itu berarti saat ini ia tengah mengganggu.


"Papa menelepon, kak Gara belum sampai di kantor polisi?"


"Ya. Aku masih ada urusan." Bola mata Gara melirik ke arah ranjang sejenak.


"Tapi jika bisa, kak Gara segera ke kantor polisi ya," ujar Rara dengan lembut dan hati-hati.


"Aku akan kesana sebentar lagi." Gara tidak langsung mengiyakan.


"Baiklah kalau begitu." Rara tidak perlu banyak bicara lagi. Suasana hati kakaknya tidak baik rupanya.

__ADS_1


"Ya." Gara mematikan ponselnya. Hhh ... menghela napas sejenak kemudian membalikkan badan. Deg! Dia terkejut tatkala melihat Zia sudah membuka matanya. Mungkin perempuan itu terbangun karena suaranya.


"Kamu?" tanya Zia tampak tidak menyangka kalau pria ini yang justru ada di depannya. Bola mata Zia beredar ke sekitar. Ia memastikan bahwa dirinya masih berada di kamar perawatan. Gara membiarkan perempuan itu sedikit kebingungan dengan keberadaannya. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Zia setelah dia yakin bahwa dia bukan di tempat lain.


"Aku ingin melihat keadaanmu," jawab Gara jujur.


"Kemana Hanen? Kenapa dia tidak melihat keadaanku?" tanya Zia seakan lupa kalau terakhir mereka berdua, Hanen jatuh ke arah kendaraan yang melintas demi menggantikan dirinya.


"Apa kamu lupa apa yang terjadi terakhir kalian berdua?" tanya Gara hati-hati. Dia tahu kronologi kejadian dari Rara yang sudah mendapat informasi dari sekretaris papa. Zia mengerjap seraya menatap Gara. Sepertinya Zia tengah berusaha mengingat apa yang tengah terjadi sebelum ia tiba di rumah sakit.


"Apa Hanen ..." Wajah Zia mulai terlihat makin pucat saat ingatannya soal kejadian terakhir mulai melintas di benaknya.


"Hanen terluka. Dia sedang di rawat di kamar terpisah." Gara biacra dengan jujur.


"Terluka?" Zia begitu terkejut mendengarnya. Tiba-tiba saja ia bergerak ingin bangun. Tangannya bergerak cepat ingin melepaskan selang infus di tangannya.


"Tunggu, Zia!" Dengan cepat, Gara mendekati ranjang.


"Aku ingin menemui Hanen. Aku tidak apa-apa. Jadi aku tidak memerlukan ini." Zia menunjuk selang infus di tangan dengan bola matanya.


"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Gara seraya menahan tangan perempuan ini untuk melakukannya. Dia marah Zia melakukan itu.


"Mungkin kamu tidak apa-apa, tapi apa kamu berpikir soal bayi mu?" tegur Gara. Zia diam. Ia menunduk menatap perutnya yang membesar. Mungkin dia tidak banyak terluka, tapi bagaimana keadaan bayinya? "Berhenti bersikap keras kepala, Zia. Sekarang kamu bukan hanya sedang bertanggung jawab dengan tubuhmu saja. Kamu juga bertanggung jawab dengan bayi yang ada dalam rahim kamu."


Sepertinya teguran Gara berhasil. Tangan Zia yang kaku karena ingin lepas darinya kini perlahan mengendur.


...______...

__ADS_1


__ADS_2