Getir

Getir
Pesan dari Gara


__ADS_3


Sementara itu suasana pagi di kamar Hanen dan Zia.


Hanen membuka matanya lambat-lambat. Kemudian bola mata itu melebar. Kepalanya menoleh ke samping. Ada perempuan itu di sampingnya. Perempuan yang sempat tidak di pedulikan olehnya karena lebih memilih bersama kekasih lamanya, Kayla.


Tubuh Zia terbaring miring menghadapnya. Setelah penyatuan tadi malam, dia memeluk tubuh Zia hingga tertidur. Ada berbagai macam rasa menyelimuti Han. Rasa lega, bahagia dan juga tidak tenteram. Meski akhirnya Zia mau menyerahkan dirinya, tetapi ingatan soal Zia dan Gara tetap membuatnya resah.


Kepala Hanen mendekat dan mengecup bahu yang masih terbuka itu.


"Terima kasih. Aku mencintaimu, Zia ...," ucap Hanen sembari mencium kening istrinya. Laki-laki ini terbangun terlebih dahulu setelah malam panjang mereka berdua. Setelah gagal melakukannya saat pertama kali mereka mencoba, tadi malam Zia menyerahkan dirinya sepenuhnya. "Terima kasih sudah menerimaku tadi malam. Itu membuktikan kamu juga bersungguh-sungguh untuk kembali mencintaiku yang sudah menyakitimu." Tangan Hanen mengelus lembut pelipis Zia. Kemudian merapikan rambut perempuan ini. Kemudian bangkit dari duduk dan menuju ke kamar mandi.


Zia masih terlelap dengan tenang. Sampai aroma masakan menyergap Indra penciumannya. Tubuhnya menggeliat dan membuka mata perlahan.


"Selamat pagi," sapa Han sambil membawa nampan berisi sarapan pagi. Dia meletakkan nampan itu di atas nakas di samping.


”Hanen ...," Zia terkejut dan segera bergerak. Mengubah posisi tidur tadi menjadi duduk sekarang. Dia juga langsung merapikan rambut yang berantakan. Sekaligus menarik selimut guna menutupi tubuhnya yang masih polos.


"Tidak apa-apa jangan keburu bangun. Kamu bisa tidur lagi jika masih mengantuk. Aku tahu kamu pasti lelah.” Hanen segera menahan bahu Zia agar tidak perlu bangkit dari ranjangnya. Zia melemaskan tubuhnya dan duduk dengan tenang.


Kepalanya menoleh ke arah lain, saat bunyi ponsel di atas meja rias mengganggunya. Hanen juga ikut menoleh. Zia ingin turun dan mendekati meja rias untuk mengambil ponselnya, tapi ia ragu untuk melakukannya.


”Kamu mau mengambil ponsel?" tawar Han yang tahu dari raut wajah Zia, bahwa perempuan itu begitu ingin mendekati meja dan memegang ponsel. Zia menoleh padanya dan mengangguk. "Akan aku ambilkan." Hanen berdiri dan mendekati meja rias. Kemudian menundukkan pandangan untuk menyentuh benda itu. Namun saat tangannya terulur, dia melihat notifikasi pesan dari Gara. Seketika terdengar gemeretak gigi. Hanen kesal. Namun dia mencoba menahan.


Hanen mengambil dan menyodorkan ponsel pada Zia. "Ada banyak pesan di sana," kata Hanen menyiratkan makna bahwa dia tidak senang. Zia terkejut dengan ekspresi wajah itu. Saat menerima uluran ponsel, Zia menemukan puluhan notifikasi pesan dari Gara.


Gara.


Zia menghentikan gerakan tangannya. Dia bingung harus bagaimana. Dia yakin bahwa pria di depannya tahu bahwa di ponselnya ada pesan dari Gara. Kemungkinan raut wajah tidak senang itu di maksudkan untuk pesan ini. Gigi Zia menggigit bibir bawahnya dengan cemas.


"Ada apa?" tanya Hanen. Namun pertanyaan ini seakan ingin menginterogasi dirinya.

__ADS_1


"Tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Zia sambil tersenyum tipis.


"Aku tahu itu Gara." Mendengar kalimat ini tubuh Zia menegang. "Aku tahu Gara mengirimi mu pesan."


"Ya. Gara memang mengirim pesan padaku." Setelah beberapa detik diam, Zia akhirnya mengaku.


"Dia masih peduli padamu?" Pertanyaan kali ini jelas adalah sebuah interogasi.


"Aku tidak tahu."


"Benarkah? Benarkah kamu tidak tahu?" selidik Hanen. Zia terkejut dan heran.


"Apa maksud kamu Han?"


"Aku ragu kamu tidak tahu. Karena sekarang aku melihat pesan Gara di sana."


"Pesan ini tidak bisa membuat kamu menuduh aku tahu perasaan Gara. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Hanen diam. Sekarang dia sedang menimbang lagi. Ingin membahas soal kejadian di balkon atau tidak. Mengatakan ia mengetahui semuanya atau yg tidak.


Apa Hanen tahu peristiwa di balkon?


"Apa aku harus tahu tentang perasaan Gara? Aku harus bertanya kepadanya?" cecar Zia dengan sengaja. Ia berusaha menyembunyikan kesalahannya.


"Tidak. Aku tidak ingin kamu menanyakan soal itu pada dia. Aku bahkan berharap kalian tidak perlu bertemu lagi." Hanen menampakkan ekspresi wajah dingin saat mengatakannya. Dia sengaja menyimpan fakta bahwa dia tahu apa yang sudah di lakukan Zia dan Gara di balkon.


Zia mengangguk. Dia mengerti ekspresi wajah dingin itu. Karena pria itu bertekad mengubah keadaan mereka berdua yang semula berantakan, jadi Hanen tidak menginginkan hal-hal lain mengganggu kehidupannya.


...----------------...



...----------------...

__ADS_1


Gara berangkat ke kantor dengan perasaan menyesal masih menumpuk di hatinya. Tidak seperti biasanya. Kali ini Gara berangkat sedikit lebih siang. Hatinya yang kacau mempengaruhi jam berangkat kerjanya. Dia tidak bersemangat. Namun tidak mungkin dia mengabaikan tugas menjadi pemimpin perusahaan.


Tubuhnya masih berjalan dengan tegap meskipun tidak selaras dengan hatinya. Kepalanya mengangguk pelan saat beberapa karyawan menyapanya. Asistennya muncul dengan wajah tegang menghampirinya.


"Maaf Tuan," ujar pria muda itu tampak tidak tenang saat mengatakannya. Kaki Gara tetap berjalan dengan perlahan meskipun asistennya berbicara.


"Ada apa? Kenapa kamu seperti ketakutan?" Gara bisa menemukan jejak ketakutan itu.


"Nona Mina datang," ujarnya yang langsung di tanggapi dengan menghentikan langkah kakinya.


"Mina?”


"Ya. Dia sekarang berada di ruangan Anda," lanjut asistennya. Tubuh Gara langsung bergerak menuju ke ruangannya dengan cepat. Asisten itu mengikuti dari belakang. Tangan Gara membuka pintu ruangannya dengan lebar. Lalu tampak seorang wanita yang duduk di sofa.


"Hai," sapa wanita itu tenang.


"Kenapa kamu berada di ruangan ku"? tanya Gara geram.


"Aku rekan bisnismu. Kamu masih ingat bukan? Beberapa waktu yang lalu kita makan malam bersama di sebuah restoran," ujar wanita ini mengingatkan. Gara bukan tidak ingat. Dia hanya kesal kenapa wanita ini muncul disini. Apalagi dengan kondisi hatinya yang tidak damai.


"Tentu saja aku ingat. Kita menjadi rekan bisnis karena rekomendasi keluargaku." Gara duduk di kursi kerjanya dengan asisten muda itu di sampingnya.


"Kamu masih ingat. Itu sudah bagus," jawab Mina sambil tersenyum lembut. Mina adalah putri kawan lama keluarga Laksana. Jadi saat ini wanita cantik ini jadi brand ambassador produk kecantikan milik perusahaan Gara. Pria ini tidak memilihnya, tapi dengan suara terbanyak terutama dari papanya, maka terpilihlah wanita yang menjadi model dan pemain drama di channel tv berlangganan yang begitu populer ini.


"Kenapa pagi-pagi sudah datang ke perusahaan ini?" tanya Gara masih menunjukkan sikap dingin yang kentara.


"Ponselmu tidak bisa di hubungi. Jadi aku berinisiatif mendatangimu." Gara hanya menghela napas saat wanita ini merogoh isi tasnya. Lalu memegang sebuah kertas dengan ketebalan sekitar 500mm. "Aku punya undangan VIP untukmu."


"Aku tidak tertarik,” sahut Gara tanpa basa basi. Dia tidak ingin terlalu berurusan dengan perempuan ini selain sebuah pekerjaan. Dia tidak ingin kedekatannya nanti di salah artikan.


__ADS_1


__ADS_2