Getir

Getir
Bab. 112


__ADS_3

"Mungkin kalimat mu benar, Rara. Aku sudah tidak bisa di selamatkan," kata Gara seraya menepuk kepala adiknya dengan lembut. Bibir pria ini memang sedang tersenyum, tapi arti senyuman itu berbeda karena kini justru menampakkan kegetiran yang mendalam, bukanlah sebuah kebahagiaan.


Aku sudah jatuh terlalu dalam pada pesona perempuan itu. Dia sudah meluluhlantakkan hatiku. Meskipun ingin menolak, bayangannya selalu mengikuti ku. Meski tahu dia tidak mempedulikan ku karena memilih kembali cinta pertamanya, aku dengan bodohnya tetap mengharapkannya. Cinta membuat ku bodoh dan hancur dalam waktu yang bersamaan.


***


Sore hari.


Zia melongok ke luar jendela dapur. Langit sudah mulai berwarna gelap. Han biasanya pulang sebentar lagi. Jadi dia bersiap untuk menyambut pria itu pulang.


"Bi, masakan untuk makan malam sudah siap bukan?" tanya Zia pada bibi pengurus rumah yang di pilih oleh keluarga Laksana. Makanan yang di bawakan kakak dari kampung sudah habis. Hanen dengan lahap makan dengan itu, jadi sekarang Zia membuatkan makanan baru.

__ADS_1


"Iya sudah Non." Bibi pengurus mengangguk dengan tersenyum lembut.


"Berarti semua sudah siap. Sebentar lagi Han akan pulang." Zia mengatakan dengan gembira. Sekarang, menunggu kepulangan suami adalah rutinitasnya. Ia begitu menikmatinya. Mendadak bayi di dalam perutnya bergerak. Zia menunduk seraya meringis menyaksikan perutnya berbentuk aneh karena gerakan bayi.


"Bayinya gerak-gerak, Non," ujar bibi ikut menyaksikan.


Zia mendongak. "Benar. Dia sepertinya senang papanya akan datang," ujar Zia memamerkan senyumannya. Bibi ikut tersenyum. Tidak lama terdengar deru mobil di luar. Zia hapal betul itu suara mobil milik Hanen. Kakinya melangkah menuju pintu keluar.


"Selamat datang sayang ...," sambut Zia dengan wajah berseri-seri. Hanen mengerjap mendapat kejutan yang baru ini. Dia tersenyum melihat kemunculan perempuan ini di depan pintu.


"Kamu menyambut ku?" tanya Hanen dengan ekspresi terkejut di buat-buat.

__ADS_1


"Tentu saja. Siapa lagi yang aku tunggu di rumah ini," sahut Zia pura-pura marah. Bibir Hanen tersenyum. Ia langsung melebarkan lengannya. Zia mendekat dan masuk ke dalam pelukan pria itu. Hanen merengkuh tubuh itu, lalu mendaratkan kecupan kecil dan hangat pada kening istrinya.


"Ayo kita masuk," ajak Hanen. Lalu mereka menutup pintu dan masuk. "Masak apa hari ini?" tanya Hanen yang mencium aroma masakan dari dapur.


"Tentu masakan kesukaan mu." Zia menggerakkan alisnya. Hanen mengerjap. "Kamu harus ganti baju dulu. Setelah itu mandi dan makan." Zia perlu mendorong tubuh Hanen masuk ke dalam kamar ketika kakinya berbelok menuju dapur ingin segera makan. Bibi di dapur tersenyum melihat itu.


"Ah, aku pikir kita bisa langsung makan." Hanen pura-pura kecewa.


"Tidak bisa. Makan dengan tubuh yang sudah bersih itu lebih baik. Lagipula kamu harus memberi contoh yang baik pada anak ini," tunjuk Zia pada perutnya. Hanen menundukkan pandangan pada perut buncit istrinya.


"Ah, benar. Aku lupa itu. Aku harus memberi contoh yang baik padanya." Hanen membungkuk untuk bisa mencium perut Zia. "Selalu sehat dan menjadi anak yang kuat ya ..." Hanen berbincang dengan bayi di dalam perut. Itu membuat Zia tergelak.

__ADS_1


...____...


__ADS_2