
Kaki Gara berhenti melangkah. Ia yang membawa mangkuk alpukat tadi membalikkan tubuhnya dan melihat kakak laki-lakinya.
“Selamat datang Han,” sapa Gara dengan senyuman yang di paksakan.
"Aku dengar dari Rara kamu sedang berada di luar kota. Apa aku salah dengar?" tanya Han mencoba mengulik kebenaran informasi yang di berikan Rara. Zia menggigit bibirnya sebentar. Ia takut akan ada pertengkaran. Rara ikut khawatir.
“Aku juga kaget tadi. Soalnya Kak Gara enggak kasih kabar dulu kalau mau pulang,” timpal Rara ingin membuat kesan kemunculan Gara memang tidak di rencanakan menjadi kuat. Ia juga agak takut terjadi hal-hal buruk dengan mereka berdua.
Rara cemas. Gara tahu itu. Akhirnya Gara tergelak ringan.
“Urusanku sudah selesai di sana. Jadi aku pulang. Itu tidak aneh bukan, kalau aku sudah pulang sebelum waktu yang di jadwalkan?" jelas Gara.
Zia hanya diam di samping Hanen. Membuang muka ke arah lain saat Gara melihatnya. Kemudian ia kembali menoleh ke tempat cuci piring. Menyalakan kran untuk mencuci tangannya.
__ADS_1
“Kita ke depan, Han?” ajak Zia yang tidak ingin suasana memanas. Ia sudah tidak tahan untuk mengajak Han pergi dari dapur. Namun Han masih diam.
“Aku memang ingin membuat kejutan untuk Rara,” kata Gara menegaskan lagi kalimat adiknya benar. “Sebenarnya aku pulang sekarang atau lusa atau tidak pulang sama sekali bukan suatu masalah, bukan? Aku bukan pria beristri. Jadi tidak perlu sangat terkejut hanya karena aku pulang tidak sesuai dengan yang aku katakan. Lagipula ini tempat tinggal ku." Gara menatap Han dengan senyuman tipis di bibirnya.
Rara tahu kalimat ini bukan untuk dirinya, tapi untuk kakak pertamanya_Hanen. Gara mendekat ke kursi dan mengambil bungkusan yang sudah ia siapkan tadi, tapi belum di berikan pada Rara.
“Oleh-oleh untukmu, Ra.” Gara memberikannya pada adiknya.
“Maaf, aku tidak membelikan oleh-oleh untuk kamu dan istrimu, Han. Aku tidak tahu kalian akan muncul di rumah ini sekarang,” Kata Gara menyempatkan bola matanya melirik Zia sebentar. Perempuan ini tetap diam dan menundukkan pandangan.
Gara berjalan keluar dapur menuju ke kamarnya. Meninggalkan Han dan Zia yang menatap punggung pria itu dari belakang. Rara menggigit bibir.
“Kak Han mau makan? Kebetulan Rara juga belum makan siang,” kata Rara ingin mengalihkan perhatian mereka dari Gara.
__ADS_1
“Aku akan mengajak Zia makan siang di luar. Kamu bisa ikut jika mau.”
“Ah, tidak Kakak bisa makan siang berdua saja dengan Kak Zia. Mungkin aku akan makan siang di rumah,” tolak Rara.
“Benar kamu tidak ikut, Ra?” tanya Zia.
“Tidak. Aku di rumah saja, Kak Zia,” tolak Rara sembari tersenyum. Rara tidak ingin meninggalkan Kak Gara. Lebih baik dia tetap di rumah.
Mobil Han menderu keluar dari rumah. Gara yang ada di lantai 2 memperhatikan mereka. Sebenarnya sudah tadi pria ini menunggu dua orang ini muncul di halaman.
“Aku sudah mengatakan semuanya, Zi. Aku pikir aku bisa membuang perasaan ku, ternyata tidak. Aku masih menginginkan mu. Apa kamu benar-benar bahagia bersama Han?”
Gara menghela napas. Berjalan menuju ranjang dan naik untuk meletakkan punggungnya. Kemudian menutup mata dengan lengannya.
...______...
__ADS_1