
"Aku juga akan pulang dan ke kantor meskipun nanti akan banyak orang bertanya padaku soal itu,” kata Rara.
Rara sudah bisa membayangkan reaksi banyak orang atas berita tersebut. Meskipun mungkin semua orang tidak melihat berita itu, kemungkinan berita dari mulut ke mulut juga lebih dahsyat.
"Lebih baik kau juga bisa menyelesaikan ini, Han. Aku pikir kamu sudah mengerti siapa yang membuat berita ini terkuak ke publik," kata Gara sebelum menjauh. "Kalau bisa aku akan mencarinya sendiri dan membuatnya tidak bisa kemana-mana lagi karena malu." Gara mengatakannya dengan aura dingin dan hitam yang kental.
Pria ini begitu marah.
Rara tidak mengerti apa yang di maksud Gara. Gadis ini menoleh pada kakak pertamanya. Namun sepertinya Han paham yang di katakan Gara.
Han menghela napas.
"Ya. Aku paham." Han mengangguk.
"Jadi Kak Han tahu siapa yang menyebarkan berita ini?" tanya Rara tidak percaya. Han hanya tersenyum tipis. Itu artinya iya.
"Bagus. Memang kamu yang harus menyelesaikan. Akar dari rasa sakit hati Zia adalah kamu," ujar Gara lalu pergi.
**
Benar saja, semua orang melihatnya dengan aneh di kantor. Pasti mereka berpikir tentang dirinya dan Zia yang juga pernah bekerja di perusahaan ini.
Namun sebagai bawahan, mereka tidak bisa menekan Gara. Justru merekalah yang membeku saat mata dingin Gara melirik mereka tajam.
__ADS_1
Gara meletakkan kepalanya pada badan sofa. Meski berangkat ke kantor, tapi pikirannya kemana-mana. Ia tidak bisa berhenti berpikir soal Zia.
"Dia pasti baik-baik saja. Ya. Aku harap begitu." Gara menenangkan dirinya sendiri.
**
Keluarga besar Han juga tahu soal ini. Mama cemas. Beliau langsung menghubungi Han, tapi pria itu tidak bisa di hubungi.
"Han tidak bisa di hubungi Pa." Mama bicara pada suaminya.
"Pasti Han kalang kabut. Coba telepon Gara. Bukankah ini tentang dirinya. Pasti dia juga tahu soal ini." Papa mengusulkan. Mama mengangguk.
Kali ini beliau mencoba menelepon putra keduanya.
"Kamu tahu soal berita itu kan?"
"Oh, tentang aku dan Zia?" tanya Gara dengan santai.
"Kenapa kamu terdengar santai begitu? Ini kan masalah yang kamu buat ... Kamu tidak kasihan dengan Han?" Mama mengomel.
"Untuk apa kasihan? Aku lebih peduli pada Zia," jawab Gara tegas.
"Iya. Mama juga cemas sama Zia. Lalu kemana Han? Kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi?"
__ADS_1
"Mungkin Han sibuk dengan perempuan yang membuat ini semua heboh," kata Gara sinis.
"Perempuan? Siapa lagi?" Mama melihat papa dengan khawatir dan ingin marah juga.
"Kayla. Kekasih Han."
"Apa dia yang menyebarkan berita ini?" tanya mama terkejut.
"Tentu. Siapa lagi yang tahu kisah itu selain dia. Karena dia adalah saksi Zia yang terluka karena ulah Han dengan Kayla. Perempuan itu juga pernah mendatangiku," jelas Gara.
"Untuk apa dia juga ke kamu? Untuk merayu kamu juga?" Mama kesal.
"Aku tidak tertarik pada wanita itu, Ma," tepis Gara. Mama menghela napas.
"Apa kamu mendatangi Zia?" selidik Mama. Mendengar semua kisah mereka, mama sadar Gara lebih mencintai Zia daripada Han. Namun tidak mungkin mama membiarkan Zia bersama Gara karena masih ada Han berstatus suami Zia.
"Ya."
"Bagaimana dia melihat mu?"
"Dia tidak bisa melihat ku karena saat ini dia ada di rumah sakit. Kondisi kesehatannya memburuk karena berita itu." jelas Gara.
..._____...
__ADS_1