
Zia mulai berangkat kerja dengan di temani oleh Hanen. Sejak berkata ingin memperbaiki hubungan, pria ini benar-benar melakukannya. Han mulai memperhatikan Zia. Mulai dari hal kecil, dia berusaha melakukannya.
Saat sarapan pagi pun, Han melakukan hal yang tidak biasa dia lakukan. Seperti menarikkan kursi untuk Zia. Menanyakan makanan kali ini enak atau tidak. Han bertanya banyak hal sepele yang membuat telinga Zia memerah karena malu dan risih. Itu tidak biasa.
Sementara Rara hanya bisa tersenyum. Namun begitu melihat kursi yang lain, Rara terlihat sedih. Gara tidak pulang. Kursi itu kosong. Rara ikut merasa kesedihan yang di rasakan Gara.
Walaupun Gara tidak pulang kerumah, dia masih tetap bekerja seperti biasanya. Pria itu tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai pekerja.
"Zi, nanti kalau berangkat tolong kasih laporanku ke Pak Han, ya?" ujar Memey.
"Aku?"
"Ya. Bukannya kamu juga akan berangkat meninjau bareng."
"Kenapa aku harus meninjau bareng dengan Han?"
"Suamimu belum kasih tahu?"
"Soal apa?"
"Karena kamu habis sakit, dia sengaja menemanimu untuk meninjau tempat promosi berikutnya," kata Memey membuat Zia terheran-heran. Itu pasti hanya rencana Han agar terus bisa memantau dirinya. Sakit? Iya, aku habis sakit hati. "Dan sekalian ... titip buat Pak Gara. Dia meminta data penjualan bulan ini. Aku sudah meminta ke bagian penjualan semua datanya." Memey menyerahkan satu amplop tebal.
"Gara?"
"Ya. Mantan partnermu. Cepet ya, Zi. Terima kasih," ujar Memey tanpa melihat ekspresi wajah perempuan ini. Lalu dia kembali mengerjakan sesuatu di komputer.
Jika hanya bertanya pada Hanen soal dia yang akan di temani olehnya, tidak masalah. Namun jika harus bertemu Gara ... Tangan Zia bergerak resah. Bagaimana dia bisa menuju ke ruangan Gara sementara saat ini dia sedang mengabaikan pria itu. Langkah Zia tersendat-sendat.
Iya, tidak. Iya, tidak. Zia gamang. Tiba-tiba pintu ruangan Gara terbuka. Lelaki itu muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Zia ..." tegur Gara terkejut melihat wanita ini berada di depan pintu ruangannya.
"Aku mau ..."
"Masuklah." Tangan Zia di tarik masuk ke dalam ruangan oleh Gara. Zia terkejut. Dia kebingungan. Pasti Gara berpikir mereka akan membicarakan soal mereka berdua.
"Gara, aku ..." Tiba-tiba Gara memeluk tubuh Zia dengan erat.
"Aku rindu." Gara seakan menumpahkan semua kerinduannya pada pelukan ini. Itu di rasakan oleh tubuh Zia yang di peluk begitu erat oleh pria ini. Bola mata Zia memejam merasakan rindu yang sama. Namun, dia harus segera mengatakan sesuatu.
"Ga. Aku ke sini untuk mengantar sesuatu," ujar Zia di sela-sela pelukan Gara. Tangan Gara menjauhkan tubuh Zia darinya sambil menatap wanita ini.
"Apa?"
"Lepaskan dulu aku. Ini agak sesak."
"Maaf. Aku terlalu senang melihatmu." Akhirnya tangan Gara terlepas dari tubuh Zia.
"Ah, itu. Terima kasih Zia." Gara menerima amplop itu dengan senyum. "Lalu ... apa kamu ke sini juga ingin berbicara denganku?"
"E ... itu ...."
"Duduklah." Tangan Gara membimbing tubuh Zia untuk duduk di sofa. "Aku sudah mencoba menelepon dan mengirimu pesan. Namun satupun tidak kamu balas. Apa Han melarangmu menyentuh ponsel?" Zia hanya menjawab dengan senyum.
Bukan melarang, tapi pria itu hanya memberikan pilihan sulit baginya. "Kenapa baru datang menemuiku, Zi?" tanya Gara dengan sorot mata teduh. Tangan Gara meremas-remas jari-jari Zia dengan lembut. Seakan-akan begitu senangnya berbincang dengan Zia lagi. "Aku menunggumu tadi malam." Gara mengecup jari jemari Zia.
Hati Zia merasakan getaran. Dia senang, tapi juga gundah. Perlahan dia melepaskan tangan Gara. Gara heran dan terkejut melihat itu.
"Kenapa, Zi?" tanya Gara saat Zia gelisah. Kepala Zia menunduk. Dia tahu apa yang sedang di pikirkan Zia. "Apa kamu berpikir mau memperbaiki hubungan dengan Han?" tanya Gara. Dia merasa sikap Zia padanya mulai berbeda. Zia sedikit menjauh darinya.
"Aku ... aku tidak tahu, Ga," ujar Zia terus saja menundukkan kepala. Dia dalam dilema. Gara menatap Zia lama. Kemudian menghela napas panjang.
__ADS_1
"Mungkin, bagimu aku hanya pelabuhan sementara." Gara menghempaskan punggungnya pada badan sofa.
"Jangan berkata seperti itu, Ga." Zia mendongak dan menatap Gara dengan bersalah.
"Aku sadar dan mengerti. Kamu datang padaku saat kamu sedang terluka oleh perlakuan Han. Aku terlena saat itu. Aku terbujuk."
"Ga, soal itu ..."
"Sejak awal di hatimu memang hanya ada Hanen. Kamu mau di nikahinya karena kamu mencintainya. Hanya saja kamu kurang beruntung. Kamu di nikahi Han hanya sebagai pajangan, marah, dan alasan lain yang masih menjadi misteri. Boleh aku menyebutmu hanya memanfaatkanku?" tanya Gara dengan gurat wajah terluka.
Zia memejamkan mata sebentar mendengar Gara menghinanya. Namun dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia memang seperti apa yang dikatakan Gara. Dia hina.
Jika saat ini dia bimbang, kemungkinan dia mendekati Gara hanya karena ingin memanfaatkan pria ini. Itu yang ada di pikiran Gara. Dia hanya butuh perhatian sesaat.
"Ga, aku masih sayang kamu, tapi ... keadaannya ..." Zia berusaha memberi penjelasan. "Maaf, Ga."
"Tidak apa-apa, Zi."
"Tidak. Kamu pasti sangat terluka. Maafkan aku Ga."
"Kamu tidak salah. Keadaan juga yang memaksamu berbuat seperti itu. Kamu adalah korban dari sikap memuakkan seseorang yang mulai menjadi pelaku karena marah," ujar Gara seraya mengepalkan tangan. "Kamu tersakiti dan tanpa sadar ikut menyakiti karena tertekan dan butuh kasih sayang ..." Gara mengatakannya dengan tenang.
Zia sangat tahu tidak mungkin Gara begitu. Sekarang pria ini tidak mungkin baik-baik saja. Dia pasti marah pada dirinya dan Han. Bola mata Zia mulai berkaca-kaca.
"Kamu pasti juga akan memikirkan keluargamu dan orangtuaku. Jika akhirnya kamu memilihku, itu akan menyakiti banyak orang, termasuk ibumu. Sepertinya lebih baik aku akhiri perasaanku padamu," ujar Gara dengan manik mata juga berkaca-kaca. Air mata Zia mulai mengalir. Kedua tangan Zia mulai menutupi wajahnya. Wanita ini menangis.
Sebenarnya Gara ingin membiarkan Zia menangis, tapi dia tidak tega. Tubuhnya mendekat.
"Kemarilah." Gara menarik tubuh Zia lembut lalu memeluknya. "Jangan menangis Zia. Aku tidak apa-apa," ujar Gara menenangkan. Zia semakin menangis. Gara berpura-pura kuat. Padahal dari ujung manik matanya juga ada sebutir air mata.
Hanen yang memang sejak kemarin mencari adiknya dan ingin bicara, tengah berdiri di luar pintu. Dia yang hendak masuk, berhenti saat mendengar Gara berbicara yang membuat airmata Zia meleleh. Han berdiri terdiam di tempatnya. Lalu kembali ke ruangannya sebelum ada yang tahu dia mendengar percakapan mereka.
__ADS_1