
Gara masih terus mengunjungi kamar Zia meski perempuan itu meminta untuk tidak melakukannya. Bahkan Rara pun yang biasanya menasehati kakaknya juga lelah melakukannya. Gadis itu membiarkan Gara menjenguk Zia. Dia juga tidak mengadu pada orangtuanya. Karena mama juga terlihat lebih mencurahkan semua perhatian pada kakak pertamanya, jadi kurang memperhatikan menantunya.
"Bisa kamu menasehati Gara untuk tidak mengunjungi ku terus?" bisik Zia seraya melirik Gara yang sedang menerima telepon di dekat jendela.
"Maaf, Kak Zia. Aku enggak mau mengatur kak Gara," jawab Rara.
"Bukan mengatur, tapi ..."
Gara membalikkan tubuhnya bersamaan dengan tangannya yang memutus telepon. Pria itu melihat ke arah Zia membuat perempuan ini langsung membungkam mulutnya sendiri untuk tidak meneruskan kalimatnya.
"Jangan berpikir dengan keras soal keberadaan ku di sini, Zia. Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Abaikan aku. Kamu cukup perhatikan kesehatanmu sendiri saja. Itu lebih penting untuk kamu dan kehamilan mu." Rupanya Gara mendengar dengan jelas perbincangan mereka berdua. Dia tidak menutup telinganya meski dia sendiri tengah berbincang dengan orang di telepon.
Zia terdiam. Rara melirik Zia dan menatap kakaknya yang berdiri di depannya. Gadis ini menghela napas pelan lalu menunduk kembali sibuk dengan ponselnya.
"Jika kamu takut media akan memberitakan kita macam-macam, aku rasa itu tidak mungkin. Banyak orang yang melindungi kamu dan Hanen sekarang." Gara juga paham apa yang di takutkan Zia. Rara juga tahu kalau orang-orang papanya menjaga ketat area lorong kamar mereka berdua di rawat.
Perempuan ini menipiskan bibirnya mendengar itu. Dia tidak bisa membuat Gara tidak berkeliaran di sekitarnya. Zia harus pasrah.
__ADS_1
***
Kabar kecelakaan yang menimpa Hanen terdengar oleh keluarga Zia. Kakak Zia, Mila mencoba menghubungi ponsel Zia untuk menanyakan kabar itu. Awalnya nada tunggu terus terdengar dari seberang. Zia tidak segera menerima telepon. Namun setelah di ulang dan berdering berulang kali, ada juga yang menerimanya.
"Halo Zia, kakak dengar suami kamu ... "
"Maaf, Kak. Ini bukan Zia."
Kakak terkejut ketika mendengar suara bariton di sana. Itu adalah suara seorang pria. Perempuan ini langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Mencoba melihat lagi nama kontak yang ia telepon. Mungkin saja dia salah menghubungi orang lain. Namun nama yang ada di layar ponsel adalah nama Zia adiknya. Jadi ia merasa heran.
"Halo. Ini benar nomor Zia kan?" Mila mencoba menegaskan.
"Lalu kamu siapa? Han? Bukankah dia ..."
"Maaf Kak. Aku Gara. Kita pernah bertemu ketika Zia menjenguk ibu yang sakit." Gara menjelaskan tentang dirinya sebelum kakak Zia melanjutkan kalimatnya. Benak Mila melayang pada momen ketika Zia datang menjenguk ibu dengan seorang pria. Namun Kakak Zia tidak mungkin tidak mengenal nama Gara setelah kabar perselingkuhan itu.
"Ah Gara adik Han, ya ..." Nama ini langsung membuat Mila ingat juga tentang skandal yang menimpa Zia.
"Benar."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Hanen? Aku mendengar kabar kecelakaan itu dari berita yang sedang beredar sekarang," tanya Mila hendak mencoba mengalihkan pikiran heran, kenapa justru Gara yang menerima telepon bukan orang lain.
Jadi mereka sedang berdua sekarang?
"Keadaan Hanen masih belum siuman setelah operasi."
"Oh, astaga. Semoga dia cepat siuman. Lalu ... lalu bagaimana keadaan Zia?" tanya Mila cemas. Sejak berita ini terdengar, rasa cemas selalu menggelayuti pikirannya. Apalagi kejadian ini tidak lama setelah skandal itu terkuak ke publik. Dia yakin betul kalau Zia pasti tidak baik-baik saja.
"Zia tidak apa-apa, Kak." Gara mengatakannya seraya melihat ke ranjang, dimana perempuan itu terbaring sekarang. Ya, Gara terus saja muncul di kamar ini seakan tidak peduli akan apa yang terjadi nanti meski Rara sempat membicarakannya. Pun di saat ponsel perempuan ini berdering, Gara mencoba mengintip ke layar ponsel. Ternyata kakak Zia yang sedang menelepon. Tanpa ragu ia langsung menerimanya. Karena menurutnya ini penting.
"Benarkah? Apakah Zia juga ada di rumah sakit?"
"Ya. Meski tubuhnya tidak banyak luka, tapi Zia tetap harus di rawat. Kemungkinan dia syok. Apalagi dia sedang mengandung," jelas Gara.
"Benar. Kami akan menjenguknya. Dimana dia di rawat?"
"Kakak akan datang ke rumah sakit sekarang?" tanya Gara setelah menyebut nama rumah sakit tempat Zia di rawat.
"Mungkin nanti setelah depot ibu tutup."
__ADS_1
...----------------...