
Ku letakkan oleh-oleh untuk Rara di atas kursi makan. Kemudian aku melangkah maju menghampiri Zia yang sepertinya membeku di tempatnya.
"Butuh bantuan?" tawar ku yang mulai bisa mengatasi rasa terkejut yang menyerang karena Zia berada di rumah ini. Sengaja aku tidak memedulikan pertanyaan ku yang tidak terjawab tadi. Aku tidak peduli. Melihat keadaan Zia dengan kepalaku sendiri, sudah cukup tahu bagaimana keadaannya.
Dia tidak sakit, tapi mungkin sedikit ada pikiran yang mengganggu. Apa kamu mulai percaya bahwa Hanen menjalin hubungan lagi dengan Kayla? Meski aku memberitahu tentang itu, sebenarnya aku mengkhawatirkan kamu.
Bola mata Zia mengerjap melihatku berdiri di dekatnya. Rupanya perempuan ini belum bisa mengumpulkan jiwanya karena terkejut pertemuan kami.
"Sepertinya kamu kesulitan mencari sesuatu tadi," jelas ku soal Zia yang sedang melakukan sesuatu di dapur ini.
"Tidak. Aku tidak mencari apa-apa," sangkal Zia. Aku tahu bahwa Zia akan mengatakan itu meskipun aku sempat melihat apa yang di lakukannya tadi.
Bibi pembantu muncul dari pintu belakang. Beliau terkejut melihat keberadaan ku. "Tuan muda Gara sudah datang?" tanya beliau heran.
"Iya, Bi," sahut ku dengan senyum.
__ADS_1
"Saya pikir besok atau lusa. Ternyata sudah datang." Bibi juga merasa surprise dengan kemunculanku. Kepalaku manggut-manggut pelan. "Emmm ... " Bibi kelihatan kebingungan dengan keberadaan ku dan Zia di dapur. Kemungkinan beliau tahu sempat ada sesuatu di antara kita.
"Kalau ada yang mau di kerjakan, bibi boleh meninggalkan Zia. Sebentar lagi Rara juga muncul. Jadi enggak apa-apa kalau Zia, aku yang bantu sekarang," kataku sengaja mengusir bibi.
Sepertinya Bibi memilih bertanya pada Zia untuk berkonsultasi. Namun mereka melakukan komunikasi dengan kode. Dan aku yakin bibi akan mengerti apa mau ku.
"Saya permisi dulu, Tuan. Saya mau ke belakang," kata bibi. Kulihat Zia sedikit panik saat bibi mulai berjalan meninggalkannya. Dia tidak ingin berduaan denganku. Membenciku atau tidak ingin rasa yang lama itu muncul kembali, Zi?
Melihat alpukat dan blender di atas meja dapur, aku yakin dia membutuhkan sesuatu untuk membuat jus. Dan kenapa harus jus alpukat?
Ku ambil sekotak susu kental manis dari rak yang jauh dari jangkauan Zia.
"Apa kamu juga mau makan alpukat dengan susu bubuk?" tawar ku iseng. Bola mata Zia mengerjap. Apa tawaranku tepat? "Aku juga suka alpukat, jadi aku hanya menebak," kataku memberi tahu.
Bibir Zia masih diam. Kulihat bibir itu di gigit lembut olehnya. Zia gugup. Dan aku yang sedang memperhatikannya juga ikut gugup. Bahkan mungkin gugup ku lebih hebat darinya.
__ADS_1
Detak jantungku terdengar sangat kencang.
Ku letakkan susu kental manis dan susu bubuk cokelat di meja.
"Duduklah, Zia. Kamu pasti lelah jika kelamaan berdiri. Kasihan bayi di dalam kandunganmu," kataku yang sempat melirik ke perut buncitnya.
"Kamu juga pasti lelah karena dari perjalanan. Lebih baik kamu istirahat dan biarkan aku di sini ..."
"Sendiri?" tebak ku memotong kalimat pengusirannya.
Zia tidak mengiyakan tebakan ku. Itu yang membuat ku makin yakin bahwa dia ingin aku pergi.
“Abaikan soal hubungan kita yang dulu, jika itu membuatmu susah dengan keberadaan ku. Atau kamu memang tidak bisa melupakannya dan bahkan tidak mau melupakannya, Zia,” kataku mulai tidak bisa mengontrol mulut.
...________...
__ADS_1