Getir

Getir
Bab. 79


__ADS_3

Kantor Han.


 


Padahal dia sudah mengijinkan istrinya untuk berkunjung ke rumah Rara, tapi kenapa ia cemas? Perempuan itu tidak mungkin kemana-mana tanpa kabar. Rara pasti mengabari. Sejak tadi Han memang gelisah. Ia tidak tenang dan cemas.


 


Han mencoba menghubungi ponsel Zia. Setelah menunggu beberapa dering, telepon itu tidak segera di angkat. Hanen mencoba menelepon lagi, tapi tetap saja tidak ada respon dari istrinya.


 


“Aku akan datang ke sana, Zi. Menjemputmu makan siang. Aku rindu jadi aku terpaksa menjemputmu sebelum pulang kerja.”


 


Setelah mengirim pesan itu, Han bergegas keluar. Ia ingin segera tiba di rumah lama itu.


 


...***...


 


Kekasih Rara pulang, sekarang berganti mobil Hanen yang datang menderu muncul di halaman.


 


“Kak Hanen?” Rara yang masih berdiri di teras terkejut melihat kakak pertamanya itu. Dia kebingungan. Karena Zia dan Gara sepertinya masih ada di dapur berdua. Kakinya sudah mau ke belakang menyusul Zia, tapi suara Han mencegahnya.

__ADS_1


 


“Kamu di luar sedang apa? Kemana Kak Zia?” tanya Hanen heran. Rara urung. Menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


 


“A-ada. Di dapur,” sahut Raras sedikit gugup. Dia berdebar-debar dan tegang. Sesat, Hanen mengedarkan pandangan ke arah halaman.


 


“Kenapa mobil Gara ada di sini?” tanya Han menunjuk ke arah mobil Gara di halaman.


 


 “Ya, itu ...” Bola mata Rara melihat ke arah lain. Ia ragu mengatakan bahwa Gara sudah pulang sejak tadi. Karena di awal dia meminta ijin mengajak Zia ke rumah ini, Rara bilang bahwa Gara sedang berada di luar kota.


 


 


Sementara itu hening di dapur sebenarnya sudah lenyap saat mendengar suara mobil di luar. Zia merasa itu mobil Hanen.


 


“Han?” tebak Zia terkejut. Gara menoleh. Dia belum yakin ada kakaknya itu di sini. Namun melihat respon Zia yang terkejut, dia yakin pria itu akan muncul di sini.


 


Tubuh Zia mendorong kursi ke belakang. Lalu berdiri dan hendak keluar. Namun sebelum perempuan ini berhasil sampai di dekat pintu, Han sudah muncul dari balik pintu.

__ADS_1


 


“Aku datang Zia,” kata Hanen dengan tersenyum. Rara muncul di belakang pria ini kemudian.


 


“Ah, kamu sudah pulang? Aku pikir ini belum waktunya pulang kerja,” kata Zia seraya mendekat. Dia tidak menduga bahwa Hanen benar-benar akan muncul. Padahal ini belum masuk jam pulang kerja.


 


 “Ya, aku menyempatkan melihat keadaanmu karena ingin bertemu,” kata Han menyuarakan isi hatinya. Zia tersenyum. Han memeluk Zia dan mengecup keningnya.


 


Gara melempar pandangan ke arah lain. Lalu ia berdiri.


 


Bola mata Hanen melirik ke arah Gara.


 


“Aku pikir kamu ada urusan di luar kota, tapi kenapa justru ada di rumah?” tanya Hanen seraya menyipitkan matanya. Zia mendengar itu dengan dada berdegup kencang. Ia ingin mengajak Hanen keluar dapur, tapi ia sadar itu akan membuat kecurigaan pada Hanen bahwa sempat ada sesuatu yang terjadi di sini tadi.


 


...______...


__ADS_1


 


__ADS_2