
Zia menatap ke arah cermin di atas wastafel toilet. Matanya sedikit bengkak. Dia harus memoleskan sedikit bedak lagi agar tidak ketahuan habis menangis. Sebentar lagi dia akan ke ruangan Hanen. Dia tidak mau pria bertanya macam-macam.
Dengan langkah gontai, Zia kembali ke ruangannya terlebih dahulu sebelum ke ruangan Han.
"Sudah ke ruangannya Pak Gara, Zi?" tanya Memey yang melihat Zia kembali.
"Ya."
"Jadi belum ke ruangannya pak Han, ya?" Sekali lagi Zia mengangguk. Bola mata Memey mengikuti temannya yang duduk di kursinya.
"Iya. Aku belum ke sana."
"Tadi Pak Han mencarimu. Mungkin saat kamu masih ke ruangannya pak Gara." Tangan Zia yang sedang menggeledah tas untuk mencari bedak berhenti.
"Kamu kasih tahu dia, kalau aku ke ruangannya Gara?" tanya Zia panik.
"Enggak. Aku enggak bilang pada Pak Han bahwa kamu sedang ke ruangannya pak Gara. Kan enggak enak Zi, aku nyuruh kamu. Jadi aku bilang sepertinya kamu sudah ke ruangannya." Hhh ... Zia menghela napas lega. Dia tidak ingin ada drama di kantor. Soal dia, Gara dan Hanen cukup terjadi di rumah saja.
Tangan Zia mengeluarkan bedak dari tasnya. Memey melongok.
"Emm ... kamu mau tampil cantik di depan suami, ya ... Mau bertemu aja mesti molesin bedak dulu," ujar Memey sambil mencibir.
"Bukan. Aku kan mau meninjau tempat promosi, jadi sekalian aja memoles dikit," sanggah Zia.
"Alasan aja. Bilang iya juga enggak apa-apa, kok. Pakai malu-malu segala. Berdandan untuk suami kan di anjurkan." Memey menowel lengan temannya. Zia hanya tersenyum tipis sambil menoleh pada Memey.
Kemudian melanjutkan touch up bedak dan lipstik. Setelah cuci muka menghilangkan sembab tadi, make-upnya sedikit memudar. Setelah itu membubuhkan blush on warna terracota pada tulang pipi.
"Sudah. Aku pergi ke ruangan Han ya ..." ujar Zia berusaha tampil dengan wajar. Melihat reaksi Memey yang biasa saja, menunjukkan bahwa dirinya tidak terlihat sudah menangis tadi. Ini memudahkannya bersikap seperti biasa di depan Hanen juga.
"Oke," sahut Memey.
__ADS_1
Langkah Zia di buat ringan menuju ruangan Han. Dia ingin menghapus gurat sedih di wajahnya karena bertemu Gara tadi. Rupanya Han sudah menunggunya. Dia sudah berdiri di depan pintu.
"Kamu sudah di beritahu Memey?" tanya Han.
"Ya. Aku meninjau lokasi promosi di temani olehmu."
"Benar. Sudah siap?"
"Aku ambil tasku dulu."
"Ya." Badan Zia berbalik menuju mejanya. Dia harus mengambil tasnya dulu. Han menatap punggung itu dengan helaan napas berat. Melihat Zia bersikap biasa, Han paham wanita itu tengah menahan diri. Dia yang mendengar tangisan Zia tahu, bahwa wanita itu tidak baik-baik saja.
Ada rasa sakit dalam hatinya. Dia menyakiti hati wanita itu lagi. Bahkan setelah dia meminta maaf dan berusaha berubah, dia masih melukainya.
Tidak lama Zia muncul dengan menenteng tasnya. Mereka pun berangkat menuju lokasi menggunakan mobil Han.
"Kamu tidak perlu menemaniku. Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Zia di dalam mobil.
"Tidak," jawab Zia sambil mengerjapkan mata. Dia merasa Han mulai menyadari wajah habis menangisnya.
"Kamu terlihat sedikit pucat. Katakan saja jika memang tidak enak badan. kamu tidak harus memaksakan diri untuk terus berkerja. Kamu istriku. Kamu bisa bersantai di rumah dan tidak memikirkan pekerjaan."
"Tidak apa-apa. Aku sehat."
Dering ponsel Han berdering. Zia melihat lurus ke depan lagi. Dia tidak ingin tahu telepon itu dari siapa.
"Ini mama." Namun Han ternyata memberitahunya. Pria ini berusaha terbuka. Zia tidak menjawab. "Ya Ma. Aku sedang di luar. Bukan ... Aku menemani Zia meninjau lokasi promosi. Besok? Baiklah. Aku akan beritahu semua orang di rumah." Pembicaraan di telepon selesai. "Mama besok datang ke rumah, Zi. Beliau ingin mengunjungi kita."
Ini pertama kalinya mertua Zia mengunjunginya setelah suasana menegangkan Gara dan Hanen. Zia hanya mengangguk pelan merespon berita itu.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
Pulang dari kerja, Zia mendapati ranjang tidurnya tinggal satu. Entah sekarang yang ada di kamar ini ranjang siapa, yang pasti Han sudah menyingkirkan satu ranjang mereka.
"Kamu memindahnya?" tanya Zia sambil tetap memandangi ranjang itu. Namun di sadari Zia berikutnya adalah kemungkinan ini ranjang baru. Karena Zia merasa ranjang itu lebih besar. Ranjang ini khusus di gunakan untuk dua orang. King size.
"Ya. Kita tidak harus tidur dalam ranjang terpisah." Han membuka satu persatu kancing kemejanya di belakang Zia.
"Jadi kita ..." Zia tidak melanjutkan kalimatnya. Jadi kita akan tidur dalam satu ranjang, ujar Zia dalam hati.
"Aku harap kamu tidak keberatan, Zi." Tiba-tiba Han memeluk Zia dengan tubuhnya yang setengah telanjang dari belakang. Zia bergerak ingin lepas dari lengan Han yang merengkuh tubuhnya. "Tolong ... jangan bergerak. Aku sangat ingin memelukmu saat ini," bisik Han di dekat telinganya. Zia terpaksa diam.
Hanen memeluk Zia seraya memejamkan mata. Dia juga bagai musafir yang sudah melanglang buana jauh dan kini rindu pulang ke rumah. Pria ini ingin menetap di rumahnya. Yaitu istri sah-nya.
"Aku tidak menyangka memelukmu lebih terasa damai. Hatiku tenang. Aku lupa akan ini. Seorang istrilah yang bisa membuat kita merasa damai dan tenang." Zia tahu Hanen sekarang tengah membandingkan dirinya dan Kayla. Pria ini pasti sudah merasakan perbedaan memeluk dirinya dan wanita itu.
Kelopak mata Han masih menutup.
"Han, aku lelah. Aku ingin ganti baju dan istirahat," pinta Zia. Han membuka mata dan melepas pelukannya perlahan.
"Maaf," ucap Han. Kemudian Zia menuju lemari kecil yang kini entah kemana. "Aku lupa memberitahumu. Lemari itu juga aku pindah. Kita tidak memerlukan dua barang dengan fungsi sama, kan?"
Zia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Dia baru sadar. Banyak barang yang hilang. Atau juga barang yang awalnya ada dua, sekarang tinggal satu. Kepala Zia menoleh pada Han.
"Aku merubah nuansa kamar kita. Semua aku ubah menjadi satu. Kali ini tidak perlu sendiri-sendiri. Bukan lagi aku dan kamu, tapi kita. Kita bisa berbagi." Zia terdiam. Hanen berusaha keras menyatukan mereka berdua. Menata lagi semuanya dari awal.
"Aku harap ini bukan hanya sementara saja. Aku sudah membuang Gara demi memperbaiki hubungan denganmu yang menjadi suami sahku. Gara sudah tersakiti olehku karena keegoisanmu. Jangan sia-siakan itu, Han," nasehat Zia dengan sorot mata penuh dengan ancaman dan marah.
Bukan hanya Hanen yang egois, tapi dirinya juga. Dia memilih menyakiti Gara demi dua keluarga dan pria yang sudah menyakitinya sangat dalam.
"Aku berjanji Zi. Aku tidak akan menyakitimu lagi," ujar Hanen lirih.
__ADS_1