
Pyar!!!
Terdengar benturan benda berbahan kaca yang keras. Ternyata itu adalah sebuah vas bunga yang pecah berserakan. Rupanya seseorang sudah melemparkan vas bunga itu ke lantai dengan marah. Sampai-sampai pecahan itu berhamburan di lantai.
Tidak jauh dari pecahan itu tampak seorang wanita berdiri dengan napas naik turun. Sepertinya amarah tengah menyelimuti wanita ini.
"Sialaaaann!!!" teriak Kayla marah dan jengkel. Melihat berita muncul tentang Hanen yang membuka borok rumah tangganya sendiri, membuat Kayla marah. Bahkan Hanen membuka tentang dirinya. Membeberkan hubungan mereka yang masih menjalin hubungan di saat pernikahan sah Hanen dan Zia sudah di laksanakan.
Jika bayangan di awal Kayla memilih menguak affair Zia dan Gara pada publik adalah, gosip itu bisa menggiring opini masyarakat untuk mencela Zia yang sudah melakukan Skandal. Namun tujuan itu gagal. Karena saat ini mereka lebih simpati pada keadaan perempuan itu daripada mencelanya.
"Dasar brengsek!! Jika begini aku yang akan di makan banyak orang karena menjadi kekasih Hanen." Kayla mengusap wajahnya berulang kali dengan kasar.
Kayla sudah bisa membayangkan bagaimana publik melihat dirinya nanti. Karena lebih banyak orang yang akan memihak istri sah daripada dirinya yang sebenarnya adalah kekasih Hanen. Orang yang pertama menjalin hubungan dengan putra sulung keluarga Laksana itu.
__ADS_1
Kabar perselingkuhan Zia dan adik iparnya kini bergeser menjadi kabar Kayla yang mengganggu rumah tangga Zia. Sorotan publik berpindah pada Kayla.
"Akhhhh!" teriak Kayla frustasi. Semua barang yang ada di dekat tangannya di sapu dan jatuh berantakan. Dia yang ingin Zia menderita ternyata salah. Justru dialah yang akan kena sanksinya.
"Aku tidak bisa membiarkan hidup Zia dan Hanen bahagia. Tidak. Ini tidak benar. Mereka harus menderita seperti aku yang sudah di campakkan oleh Hanen," tekad Kayla dengan napas memburu.
*****
"Dengan munculnya Hanen dan mengatakan dengan jujur apa yang sedang terjadi, memang mungkin membuat orang-orang di luar sana menjadi lebih tenang. Mereka sudah tidak lagi menganggap Zia sepenuhnya punya salah," kata mama seraya menatap tubuh Zia yang terbaring di atas ranjang. Perempuan itu tengah memejamkan mata setelah di beri obat tadi. "Namun bagaimana Hanen selanjutnya?" tanya mama khawatir. Bagaimanapun mama mencemaskan putranya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ma. Kak Hanen pasti sudah tahu konsekuensinya sebelumnya. Karena itu dia mau mengadakan konferensi pers ini." Rara berusaha menghibur mamanya. Dia menepuk punggung tangan mamanya.
"Ya. Hanen pasti punya persiapan." Mama tersenyum berusaha percaya seraya ikut menepuk punggung tangan Rara.
"Mungkin sebaiknya sekarang kita berdoa saja, semoga Kak Zia tidak terlalu stres menghadapi semua ini," kata Rara. “Bukankah itu yang utama.”
"Benar sayang. Karena pikiran ibu yang tidak stabil bisa mempengaruhi bayi di dalam kandungannya. Makanya banyak yang menyarankan menghindarkan ibu hamil dari stres." Mama menatap iba pada menantunya.
“Apa ... mama tidak cemas pada Kak Gara?” tanya Rara dengan hati-hati. Karena sejak tadi mama hanya mencemaskan kakak pertamanya.
Mama menatap Rara dan menyentuh garis wajah gadis ini.
“Mama tentu lebih mencemaskan kakak mu itu, Ra. Namun mama tidak bisa berbuat banyak selain berupaya membungkam berita itu yang ternyata gagal,” ujar mama dengan wajah tampak sedih.
__ADS_1
...______...