
Di dalam mobil, Zia terus saja diam. Han yang mengemudi di sebelahnya juga diam dengan mata tetap menatap lurus ke depan.
"Ini seperti bukan kamu saja. Tidak biasanya kamu menjadi gila seperti itu," ujar Zia mencemooh. Acaranya dengan Gara menjadi berantakan. "Bukannya kamu ..."
"Diam Zia. Diamlah. Aku tidak sedang ingin mendengarkanmu berbicara terlalu panjang," pinta Han dengan masih melihat lurus ke depan.
"Kamu ingin aku terus saja bungkam? Seperti aku yang tetap saja diam saat kamu terus saja bersama Kayla. Bahkan saat seharusnya kamu menciumku kamu justru bercumbu dengannya, begitu?!" Han langsung menepikan mobilnya tiba-tiba meskipun mereka masih berada di tengah jalan. Zia berusaha tenang meski dirinya terkejut melihat mobil langsung memotong jalan.
Bunyi klakson dan makian pengemudi yang berada di belakang Han terdengar. Han tidak peduli. Dia hanya ingin menghentikan mobil di tepi jalan sekarang juga.
Malam ini memang terlihat sepi. Hanya kebetulan mobil barusan melintas tepat di belakang mobil yang di tumpangi Hanen. Jadi hampir saja mobil itu menabrak mobil Hanen yang membelok dengan tiba-tiba.
"Diam Zia. Diam ..." desis Han. Mesin mobil sudah berhenti. "Bisakah kamu tidak membuatku semakin marah dengan kicauanmu. Tolong ..."
"Kenapa? Aku mengatakan kebenaran. Aku mengatakan ...." Kalimat Zia tenggelam. Tubuh pria itu mendekat padanya. Zia terkesiap. Dia tidak menyangka pria itu akan membekap kata-katanya dengan bibirnya. Han mencium bibir Zia dengan rakus. Setelah memuaskan diri mencium Zia, Han melepaskan bibirnya.
Zia yang terkejut dengan apa yang di lakukan Han itu, terengah-engah. Bibirnya yang di cium dengan paksa juga memerah. Wajah Zia menatap Han tidak percaya. Ciuman? Pria ini menciumnya? Kenapa?
"Apa-apaan itu, Han?!" tanya Zia masih merasa terkejut.
"Aku menciummu," sahut Han datar.
"Aku tahu kamu sedang menciumku. Namun apa itu? Kamu sedang berusaha membuat seseorang cemburu? Kamu kesal dan ingin melampiaskan kemarahanmu karena Gara?"
"Tidak ada Gara. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada kita. Aku menciummu saat ini karena memang ingin menciummu. Tidak perlu menyebut nama Gara disini." Han menggeram. Zia langsung linglung seraya mengusap bibirnya.
__ADS_1
Mendadak jari Han menahan tangan Zia. Jari Han menggantikan tangan Zia. Perempuan ini ingin menghindar, tapi Han menahan dagu Zia. Kemudian jarinya mengusap bibir Zia dengan lembut. Hanen menatap bola mata wanita di depannya lebih lama. Napas Zia masih menderu cepat. Antara marah dan kesal. Tubuhnya tidak berkutik karena di tahan oleh Hanen.
Setelah merasa cukup mengamati wajah Zia, Han melepaskan pegangan tangannya.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu bersikap seperti ini. Padahal sejak awal menikah kamu tidak pernah peduli padaku!" ujar Zia kesal lau membuang muka dengan melihat keluar jendela. Han menghela napas.
"Ya. Aku memang tidak mencintaimu."
"Maka dari itu biarkan aku bertingkah semauku."
"Aku tidak mau. Aku tidak rela jika kamu lepas dariku."
Zia menoleh ke Han dengan cepat. Manik matanya melebar. Dia tidak percaya dengan kata-kata pria ini. "Kamu egois! Jika kamu tidak mencintaiku seharusnya kamu melepasku. Aku bisa bebas tanpa perlu melihatmu bermain-main dengan Kayla. Aku dan kamu bisa melakukan apa yang di inginkan kita masing-masing. Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi suamiku. Lalu aku tidak perlu tersakiti olehmu," ucap Zia panjang.
Han diam. Dia menjadi aneh. Ya. Sejak melihat Gara dan Zia di kantor waktu itu, Han merasa gelisah. Dia ingin tahu tentang keseharian perempuan yang menjadi istrinya. Dia memang tidak punya cinta. Hanya rasa kesal dan muak karena wanita biasa itu sudah mengalahkan Kayla yang jelas lebih berstandar tinggi, di hadapan orangtuanya. Namun, saat melihat Zia dan Gara tersenyum bersama, dia merasa tidak suka. Tidak rela.
Zia mengurungkan niat menerima panggilan telepon Gara. Dia tahu Gara pasti sedang mengkhawatirkannya. Begitu juga dirinya.
"Aku juga bisa membuatnya menghilang jauh dari rumah, jika kamu tetap memaksa."
"Kamu tidak bisa melakukannya, Han. Jika Gara salah karena dekat denganku, berarti Kayla juga patut di salahkan. Dan yang paling bersalah di sini adalah kamu. Kamu penyebab kita berempat menjadi satu bagian yang saling menyakiti. Kamu yang salah, Han."
...----------------...
Mereka berdua sampai di depan rumah besar milik Han. Awalnya Zia enggan turun, tapi Han segera menghampirinya. Membuka pintu untuk menyuruhnya turun.
"Turunlah ... " Zia tidak beranjak dari tempat duduknya. Masih diam dan malas menanggapi Han yang menyuruhnya turun. "Kamu tidak mau turun dari mobil? Baik. Aku yang akan menurunkanmu dari sana." Mendadak tangan Han menyusup ke balik pinggul Zia. Kemudian mengangkat tubuh perempuan yang ramping ini.
__ADS_1
"Han!" teriak Zia. Dia terkejut. Namun Han tetap berusaha menggendongnya. "Turunkan aku!" teriak Zia lagi.
"Jika telalu banyak gerak, kamu dan aku akan jatuh," kata Han. Zia tetap memberontak. Tangan Han semakin erat memegang tubuh Zia. "Patuhlah atau memilih untuk berjalan sendiri." Han memberi dua pilihan.
"Aku bisa jalan sendiri." Zia memilih pilihan kedua.
"Maaf, aku tidak jadi mengabulkannya." Han berbohong.
"Han!"
"Berpeganglah pada leherku," pinta Han tidak peduli pegawai rumah memperhatikan mereka. Bukan Han yang merasa malu, tapi justru merekalah yang harus memalingkan wajah untuk melihat ke arah lain.
Melihat banyak pegawai yang memperhatikan, membuat Zia juga malu dan malah menyusupkan kepalanya ke balik dada Han. Saat ini dia sangat malu. Han menunduk sekejap. Entah kenapa bibirnya menyunggingkan senyum tatkala melihat wanita ini merapatkan tubuhnya.
Tidak. Ini membuatku tidak bisa berkutik.
Setelah yakin mereka sudah masuk ke dalam rumah, Zia meminta turun.
"Turunkan aku." Han menuruti. Dia menurunkan tubuh Zia. "Aku tidak paham semuanya. Tingkahmu, marahmu dan sikapmu padaku." Han hanya diam dengan keheranan Zia.
Perempuan itu naik ke lantai dua. Han mengikutinya. Rara yang sebenarnya akan masuk ke dalam kamar karena baru saja dari dapur melihat itu.
Sebenarnya ada apa? Banyak hal yang tidak bisa di pahami di sini. Baik kak Han maupun kak Gara. Apa aku harus melapor pada mama?
Setelah mereka sampai di lantai atas, Rara berjalan menuju ke kamar tidurnya sambil berpikir keras.
Zia melempar tasnya begitu saja di atas sofa di sudut kamar yang dekat dengan ranjangnya. Pintu terbuka dan Han muncul dari belakang. Jarak mereka berjalan memanglah tidak jauh.
Raut wajah Zia masih sama seperti tadi. Masam. Dia ingin tahu bagaimana keadaan Gara.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu bisa dekat dengan Gara?" tanya Han. Zia diam. Ini membuat Han mendekat karena geram. Lalu menyentuh dagu Zia. Memaksa perempuan ini menatapnya. "Jawab," desis Hanen dengan mata tajam.