
...Gara...
.......
.......
.......
Suasana ruang makan keluarga Laksana terlihat penuh pagi ini. Itu di karenakan kedua anak mereka ada di sana. Juga putri teman bisnis mereka, Mina. Mama sengaja mengundang gadis itu karena ingin bertemu setelah hanya bicara lewat telepon. Gara pikir gadis itu menolak karena ini masih pagi untuk bertamu ke rumah orang, tapi ternyata Mina setuju.
Tiba-tiba telepon mama berdering. Ternyata Han yang ingin mengabarkan berita bahagia. Segera mama ingin semuanya mendengar kabar bahagia itu dengan mengubah mode ponsel pada loud speaker. Rara memberi jempol pada mama karena ide bagus itu. Aku mendengus kecil sambil meneruskan makan. Mina yang duduk di dekatku menoleh. Mungkin dia mendengar decihanku. Aku tidak peduli.
"Sebentar lagi, mama akan menjadi nenek," kata Han membuatku langsung mendongak.
"Nenek? Apa itu ... istrimu ..." Mama terdengar terbata-bata.
"Ya. Zia hamil, Ma." Tanganku berhenti seketika. Mendengar itu, hatiku terasa di hujam beribu bola besi. Sakit. Jantungku berdetak tidak karuan. Paru-paru ku serasa menyempit karena tiba-tiba aku merasakan susah bernapas. Segera ku ambil gelas berisi air di dekatku. Namun jarak sempit itu terasa sangat jauh karena tangan ku kesulitan mengambilnya. Tanganku gemetar.
Tiba-tiba gelas itu berpindah pada tanganku dengan cepat.
"Kamu mau minum?" tanya Mina yang ternyata membantuku mengambil gelas.
"Ya," sahutku pelan. Aku yakin dia melihat tanganku yang gemetar tadi. Karena setelah itu Mina tidak lagi bicara padaku. Ku dekatkan pinggiran gelas pada bibirku. Meneguk minuman itu dengan cepat hingga tersedak. "Uhuk! Uhuk!" Itu membuatku terbatuk-batuk membuat mama yang tadinya terus tersenyum dan mengutarakan kebahagiaannya berhenti dan menoleh padaku.
"Gara. Kalau minum pelan-pelan," ujar mama menasehati. Beliau tampak cemas. Begitu juga papa. Tanpa perlu nasehat aku tahu, tapi tubuhku tidak begitu. Mendengar kabar gembira yang di katakan Han membuat tubuhku tidak terkontrol.
Rara bangkit dari duduknya dan hendak mendekatiku, tapi Mina segera berdiri dan menepuk punggungku terlebih dahulu berulangkali. Aku tidak bisa menolak karena sibuk terbatuk-batuk. Dia berusaha membantuku meredakan batuk. Setelah itu batuk mulai mereda.
"Kakak sudah tidak apa-apa?" tanya Rara masih berdiri dengan cemas. Kepalaku mengangguk.
"Duduklah. Aku sudah tidak apa-apa," kataku. Rara kembali pada kursinya. "Kamu juga, duduklah," kataku pada Mina yang kemudian juga ikut duduk. Lalu aku mengambil tisu di meja untuk mengelap kemejaku yang basah terkena air. Handphone mama sepertinya masih tersambung dengan Han. Ini membuatku berdecih di dalam hati.
"Ada apa, Ma?" tanya Han.
__ADS_1
"Gara tersedak minumannya." Mama memberitahu.
"Gara? Jadi dia ada disana sekarang?" tanya Han yang sepertinya terkejut mendengar aku berada di rumah ini sekarang. Namun aku yakin dia tidak terkejut seperti aku saat mendengar kabar yang ia bawa.
"Ya, dia tidak sendiri. Ada Rara juga." Mama menjelaskan.
"Bisa bicara dengan Zia, Han," kata papa mengejutkan.
"Sebentar, Pa ... " Terdengar sunyi di sana. Pasti Han berusaha membujuk Zia untuk bicara. Dadaku berdebar menunggu suara perempuan itu terdengar. Aku makan dengan pelan. Setengah tidak bernafsu lagi untuk makan. Namun aku coba paksakan.
"Halo papa, selamat pagi ..." Suara Zia mulai terdengar. Aku terkesiap. Tanganku berhenti dan mulai mendengarkan suara yang ku rindukan itu bicara.
"Selamat pagi."
"Selamat ya Zia, atas kehamilanmu," ujar mama menyerobot.
"Terima kasih, Ma." Suara Zia memasuki gendang telingaku. Membuatku makin ingin pergi dari meja makan ini.
"Mama ingin kalian juga berada di sini. Jadi bisa melihat kalian semuanya dalam satu meja." Satu meja dengan mereka setelah kabar kehamilan itu? Itu akan sedikit menyesakkan. Namun tidak mungkin aku kabur dan menolak makan bersama. Sepertinya aku harus terbiasa.
...Zia...
.......
.......
.......
Gara? Ada dia di sana? Aku menelan saliva ku sendiri. Tangan Hanen meraih ponsel yang aku pegang. Tanpa sadar aku melamun setelah menutup pembicaraan dengan keluarga Laksana.
"Sebaiknya kita segera pulang. Kamu harus segera beristirahat." Hanen memasukkan ponsel pada sakunya. Aku mengangguk. Bahuku di bimbing melewati lorong menuju pintu keluar. Sesampainya di dalam mobil, Han mengeluarkan ponselnya lagi. "Sebaiknya aku menelepon kantor untuk meminta ijin hari ini."
"Jadi kamu tidak bekerja? Aku sudah di periksa. Aku tidak apa-apa. Muntahku bukan karena sakit, melainkan karena kehamilan ini." Ku sentuh lengan pria ini dengan lembut.
__ADS_1
"Aku tahu. Namun aku perlu mempersiapkan segalanya."
"Kamu akan mempersiapkan apa?" tanyaku heran. Karena umur kehamilan masihlah dini. Apa yang harus di persiapkan?
"Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian di rumah. Harus ada seseorang yang menemani. Aku akan meminta mama mencarikan pembantu di rumah," ujar Han. Tangannya terulur menyentuh rambutku. Mengelusnya pelan sambil menatapku perhatian.
"Baiklah." Setelah itu Han menyalakan mesin mobil. Mobil mulai melaju. "Kita mau kemana?" Kulihat ke jendela, jalan yang di tuju bukanlah jalan ke rumah kita.
"Ke rumah mama."
"Sekarang?" tanyaku sedikit terkejut.
"Ya. Kamu keberatan?" tanya Han menoleh ke arahku sesekali.
"Bukan itu."
"Aku ingin konsultasi dengan mama soal pembantu. Jadi kamu bisa segera dapat orang yang akan menemanimu di rumah. Tidak apa-apa, kan?" tanya Han.
"Sebenarnya aku sedikit lusuh pagi ini. Jadi aku ingin pulang sebentar untuk merapikan diri," ujarku sambil merapikan diri.
"Tidak Zia. Kamu tidak pernah lusuh. Bagiku kamu selalu tampak cantik," ujar Han membuatku tersenyum.
"Kamu jago menggombal. Aku kalah soal itu."
"Aku tidak menggombal. Aku sungguh-sungguh, Zia."
"Baiklah." Aku akhirnya terpaksa setuju. Han tersenyum sambil menowel daguku pelan. Selain aku masih merasa mengantuk, mungkin memang aku keberatan ke rumah mertua sekarang. Karena bisa saja aku akan bertemu dengannya dia. Gara. Bukannya pria itu sekarang ada di sana?
Sepanjang perjalanan menuju rumah mertua aku selalu berharap kita tidak bertemu. Karena itu adalah yang terbaik bagi kita berdua. Setelah dia mengatakan aku mencintaimu saat di toilet itu, aku makin tahu dia tetap akan membayangiku.
Mobil kami tiba di halaman rumah mertua. Aku gelisah saat melihat mobil yang aku kenal. Itu milik Gara. Ku kepalkan jari-jari ku untuk menenangkan diriku. Hanen sepeti juga sadar bahwa masih ada Gara di rumah mama. Karena sebelum turun hingga kita berjalan menuju pintu, bola mata Hanen melihat ke arah mobil itu.
Panjang umur. Gara muncul dari dalam rumah. Oh, astaga! Tidak! Kenapa aku masih harus bertemu dengannya. Tidak bisakah ... Dia tidak sendiri. Dia bersama seorang wanita cantik. Wanita yang sepertinya pernah aku lihat.
Tatapan mata kita beradu.
__ADS_1