Getir

Getir
Bersama keluarga


__ADS_3


Karena ini hari libur, semua penghuni ada di rumah. Tak terkecuali Gara. Melihat Gara melintas, Han memanggilnya.


"Gara!" Langkah Gara berhenti saat panggilan itu terdengar. Hanen turun dari lantai atas. Gara memutar tubuhnya menanti kakaknya. "Sebaiknya aku memberitahumu soal kedatangan papa dan mama nanti malam," ujar Han saat sampai di depan adiknya.


"Ya," sahut Gara singkat.


"Aku harap ketegangan di antara kita berdua usai."


"Kamu berharap begitu?" tanya Gara seakan tidak ingin ketegangan itu hangus. Dia seakan terus saja mengibarkan bendera perang. Tidak ada kata menyerah.


"Kamu ingin aku mengungkap bahwa kamu sedang mendekati Zia istriku?"


"Kalau kamu bisa melakukan itu, lakukanlah. Karena kamu juga punya skandal di balik kesempurnaanmu." Gara mengatakan itu dengan tenang, tapi tajam. Hanen mendesis ingin berteriak. Namun dia mencoba untuk lebih tenang.


"Urusan aku dan Kayla biar aku yang mengurusinya. Kau tidak perlu ikut campur soal itu."


"Aku memang tidak berminat ikut campur soal kau dan Kayla. Aku bukan pria senggang yang bisa membagi pikiran untuk banyak wanita." Ini sebuah cemoohan. Gara bermaksud memprovokasinya.


Hanen mengingat lagi bahwa Gara dan Zia berniat mengakhiri hubungan mereka berdua. Mereka juga tersakiti. Maka Hanen perlu tahu juga bahwa keduanya juga berpisah dengan tidak mudah. Han memejamkan mata sebentar mengusir amarah yang melintas karena sikap Gara.


"Ya. Mungkin aku terlalu senggang hingga perlu menambah satu wanita lagi untuk memuaskanku. Padahal sudah ada istri di rumah, aku masih saja mencari yang lain." Hanen berusaha mengakui apa yang di tuduhkan Gara. Kenyataannya memang begitu. "Aku hanya meminta kita tenang. Bukan memintamu untuk menghormatiku. Aku tidak berhak."


Gara mendengkus mendengar kalimat kakaknya. Lalu pergi tanpa permisi.


"Ingat, Ga! Malam ini papa dan mama datang!" teriak Han yang sepertinya tidak di gubris oleh Gara.


Sementara di dapur. Zia dan Rara berusaha ikut membuat masakan untuk orangtua mereka. Sebenarnya mudah bagi mereka memesan makanan, tapi mereka ingin membuat masakan sendiri. Apalagi Zia juga jago memasak.


...----------------...



...----------------...

__ADS_1


Kedatangan mama dan papa yang di tunggu tiba. Rupanya Gara tidak membelot. Dia sudah ada di rumah sebelum kedua orangtuanya tiba. Itu juga berkat Rara yang terus saja menelepon dan mengirimi pesan agar kakaknya ini cepat pulang.


Pria ini sebenarnya enggan. Apalagi nantinya akan selalu melihat Zia di sana. Walaupun sudah berkata akan membuang rasa cinta yang tumbuh di hatinya, Gara sebenarnya masih sayang. Perasaannya masih sama.


Namun paksaan Rara adiknya, mampu membuatnya patuh. Dia akhirnya memutuskan ikut dalam makan malam keluarga Laksana.


Suasana di meja makan terlihat wajar seperti tidak ada kejadian apa-apa sebelumnya. Bola mata Gara yang terus saja memperhatikan Zia tahu kalau wanita itu sedang berusaha bersikap tenang.


Walaupun begitu gaya tawa, bicara, dan senda guraunya terlihat menyenangkan. Gara suka itu. Gara tahu bahwa Zia tengah membujuk dirinya sendiri untuk bersikap wajar.


"Masakannya enak. Siapa yang memasak? Bibi atau ..."


"Ini masakan Kak Zia, Ma. Rara cuma bantu sedikit," kata Rara memberitahu. Dagunya menunjuk ke arah kakak iparnya.


"Benarkah?" Mama takjub mendengarnya. Lalu menoleh pada Zia yang tersenyum. "Emmm ... menantu mama memang the best," puji beliau seraya mengacungkan jempol. Papa tersenyum. Sementara Han memandang istrinya dengan kagum.


Gara menggelengkan kepala, menunduk dan mendengkus. Merasa kegembiraan barusan seperti sandiwara. Rara yang tahu Gara mendengkus barusan, langsung memberikan potongan ikan gurami asam manis kesukaan kakaknya.


"Ini kesukaan Kak Gara. Kak Zia pintar memasaknya, lho," bisik Rara menghibur. Gara tersenyum.


"Terima kasih adikku. Pemberianmu sungguh berarti bagiku," canda Gara. Rara tergelak. Mama menoleh pada Gara.


"Baik, Pa," sahut Gara yakin.


"Baguslah. Jika kamu sudah bisa bekerja di dalam perusahaan milik keluargamu sendiri, papa akan memberi kepemimpinan satu perusahaan padamu," ujar Papa.


"Terima kasih," ujar Gara singkat.


"Juga ... cepat cari calon istri. Kalau kamu mau, mama bisa mencarikan seperti kakakmu itu. Lihatlah mereka serasi bukan?" Mama tersenyum sambil menunjuk Han dan Zia. Rara melirik mereka secara bergantian. Dia mengangkat alis dan menundukkan mata melihat ke arah gelasnya.


Serasi? Seandainya mereka tahu ada prahara di dalam rumah ini.


Acara makan malam usai. Semuanya berpindah ke ruang tengah. Bercengkrama dan berbincang. Gara sendiri kurang berminat untuk ikut bergabung, tapi Rara mendelik menyuruh kakaknya mengikuti mereka. Sementara Zia dan Rara masih berada di dapur. Mereka membereskan ruang makan dan membersihkan dapur membantu bibik.


"Seperti yang papa katakan waktu itu, kamu berhak memiliki saham perusahaan kosmetik yang kamu pimpin, Han. Selamat untukmu," ujar papa di tengah-tengah pembicaraan. Papa mengatakan dengan jelas soal kepemilikan ini.

__ADS_1


"Terima kasih, Pa," jawab Han sambil mengangguk.


"Kamu juga sudah menikahi wanita pilihan mama. Lengkap sudah keinginan mamamu ini. Kamu lulus. Kamu berhak menjadi pewaris perusahaan Laksana." Mama menyentuh lengan suaminya. Merasa senang dengan kepatuhan Hanen sebagai putra pertama.


Gara yang barusan datang dan menyimak, merasa ada yang kurang pas di telinganya.


"Jadi ... syarat kak Han mendapatkan saham perusahaan kosmetik, adalah menikahi Zia?" tebak Gara.


Han menoleh pada Gara dengan terkejut. Nada bicara Gara memang acap kali blak-blakan, tapi mama tidak menduga Gara mengatakan itu saat papa sedang berbicara.


"Apa yang kamu katakan, Ga?" tanya mama.


"Jadi mama dan papa yang memberi syarat semacam itu?" tanya Gara lagi.


"Berhenti bersikap tidak sopan pada orangtua, Ga. Kamu sedang berbicara pada mamamu," hardik papa.


"Maaf, jika Gara terlihat tidak sopan, Ma. Namun perlu mama tahu. Dia. Hanen. Anak mama yang terlihat sempurna bukanlah seperti yang mama pikirkan," ungkap Gara.


"Gara diamlah," pinta Han mengepalkan tangannya erat-erat. Mama dan papa menoleh ke kedua putranya dengan bingung.


"Kenapa? Kamu tidak ingin mama tahu tabiat aslimu? Kamu takut?" tantang Gara.


"Tolong," pinta Han setengah memohon. Saat itu Zia dan Rara muncul dari belakang sambil membawa nampan berisi stoples berisi camilan. Gara tahu itu.


"Atau kamu takut bahwa Zia tahu dia hanyalah syarat untuk mendapatkan hak waris atas perusahaan?" tebak Gara yang menyebut nama Zia.


Jadi itu ...


Rara langsung melirik ke arah kakak iparnya. Dimana Zia tengah membulatkan mata karena terkejut. Telinga Zia yang mendengar kalimat ini membuat tubuhnya membeku di tempat.


"Aku bilang diamlah!" Bug! Sekali lagi Han memukul wajah adiknya. Kali ini lebih hebat dampaknya karena tidak hanya Zia yang melihat itu. Mereka berkelahi di depan orangtua mereka.


"Hanen! Gara! Hentikan!" Mama berteriak histeris. Itu bersamaan dengan papa yang menggebrak meja.


Brak!

__ADS_1


"Hentikan!!!" teriak papa. Tubuh beliau berdiri dengan mata membulat marah. Hanen menghentikan pukulannya dengan kesal. Meskipun Gara sudah mendapat pukulan, pria ini justru tersenyum puas dan mengusap ujung bibirnya yang robek.



__ADS_2