Getir

Getir
Pengalihan perhatian


__ADS_3


Sekembalinya dari bertemu Rara, aku segera menuju meja dan membubuhkan make-up pada wajahku. Kuperhatikan di cermin bedak, wajahku kini mulai tertutupi dari kesan aneh setelah menangis tadi.


Srek!


Gara sudah kembali dari berbicara dengan Rara. Dia duduk tepat saat aku sudah selesai memoles tipis wajahku. Tentu saja aku tidak bisa mendongak dan memandanginya. Mencoba terus fokus pada hal lain agar tidak bersirobok dengannya.


"Kamu habis menangis?" tanya Gara yang langsung membuatku mendongak. Pertanyaan tanpa basa-basi itu membuatku terkejut. "Apa pengakuanku bahwa kamulah perempuan pertama yang melakukan ...."


"Mey! Makan siang nanti makan apa?" tanyaku sengaja memperkeras volume suara dengan maksud menghentikan kalimat Gara. Aku tidak ingin orang lain tahu soal itu. Sepertinya berhasil. Gara sepertinya paham bahwa dia tidak harus memperpanjang kata-kata karena kemunculan Memey di sana.


...----------------...


Aku membersihkan sisa make-up dengan milk cleanser favorit. Meski ribet, masih saja aku memakai rutinitas pembersihan make-up seperti ini. Karena dengan ini kulitku yang awalnya kering menjadi sedikit lebih lembab. Usapan kapas menyeluruh membersihkan wajahku.


Ku tatap wajahku di cermin. Namun bayangan Gara justru muncul di sana.  Sontak aku mengerjap dan menggelengkan kepala. Bermaksud menghapus bayangan Gara yang muncul tanpa permisi.


Suara pintu terdengar mengusik. Kepalaku menoleh ke arah pintu. Saat itu Hanen membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Tubuhnya masih dengan pakaian kerja utuh. Walaupun jam pulang kerja sudah beberapa jam berlalu, pria ini baru saja tiba di rumah. Tidak perlu bertanya, dia pasti bersama Kayla.


"Kamu baru pulang?" tanyaku seakan bodoh bertanya.


"Dengan pakaian seperti ini tentu saja aku baru pulang," jawab Hanen seakan terganggu mendapat pertanyaan dariku.


"Sudah makan malam? Aku bisa menyiapkannya." Aku akan bangkit dari meja rias.


"Jangan melakukan hal sia-sia dan melelahkan." Ku urungkan berdiri karena merasa jawaban itu artinya dia menolak. Bisa juga artinya sudah.


Pria itu membuka dasi dan jasnya. Lalu melemparkan sembarangan ke sofa single di sudut. Ekor mataku mengikuti arah baju yang berserakan itu.


Sepertinya dia kelelahan. Belum tuntas melepas kemeja, dia sudah berbaring dan cepat terlelap. Aku menghela napas. Ku hampiri sofa di sudut. Merapikan jas kerjanya. Pria ini selalu saja melempar pakaiannya sembarangan. Dia tidak pernah memintaku melakukannya, tapi aku merasa perlu melakukannya. Sebenarnya itu adalah hal wajar bagi sang istri.


Ku tatap wajah Hanen yang tertidur pulas. Kamu ... kenapa perlu membuat sandiwara seperti ini jika memang ingin menikah dengan Kayla? Apa jaminan yang membuatmu memaksakan diri menikahiku meskipun tidak punya rasa cinta untukku?


...----------------...


Pagi hari, aku ikut berkecimpung di dapur. Sengaja kusibukkan diriku demi mengurangi pikiran soal Gara. Meskipun masakanku pernah di tolak Han, tapi aku tidak berkecil hati. Mungkin kali ini berhasil.

__ADS_1


Pria yang menjadi suamiku di atas kertas itu muncul. Melihatku menyiapkan sarapan pagi, aku yakin dia paham jika masakan di meja makan adalah hasil karyaku. Helaan napas terdengar dari bibirnya.


"Kakak, kita harus sarapan pagi bersama," kata Rara yang sepertinya tahu bahwa Han akan pergi. Dia sengaja mengatakan itu untuk mencegah Han mengurungkan niat sarapan pagi. "Bukankah tujuan mama kita tinggal di sini agar kita tetap rukun seperti dulu?" tanya Rara dengan nada manja khas seorang adik.


"Baiklah ..." Mungkin sebagai pria yang menjadi suamiku dia bukan yang terbaik, tapi dia merupakan kakak yang baik. Mungkin.


Han duduk di kepala meja. Sebagai kepala keluarga dan pemilik dari rumah besar ini, dia memang pantas duduk di sana. Entah kenapa aku terasa mellow pagi ini. Hatiku selalu ingin mengucap kekagumanku padanya.


Mungkin karena masih ada cinta di hatiku atau ... karena tidak ingin memikirkan hal lain yang menjadi bonus menyiksa pikiranku, aku ingin kembali memfokuskan perhatianku yang sudah hancur berantakan pada dia. Pria yang awalnya aku cintai.


Ku letakkan kopi di depan Han. Sebagai perokok, dia menyukai kopi. Bola matanya melirik ke arah kopi yang ku suguhkan. Tanpa bicara, dia meminumnya. Dadaku membuncah dengan perasaan senang. Sungguh miris. Hanya begitu saja aku sudah senang.


Ku yakini kedua bola mata seseorang yang lain terus saja mengamatiku. Sejak tadi. Sejak awal dia masuk ke ruang makan dan duduk.


"Kamu juga ingin aku buatkan kopi, Ga?" tanyaku sengaja. Sejak tadi dia memperhatikanku. Aku mencoba membuatnya berhenti untuk terus saja melihatku dengan menawarinya.


"Aku bukan perokok. Aku tidak suka kopi hitam. Kakak bisa membuatkanku cappuccino jika tidak merepotkan." Ternyata Gara justru meminta di buatkan sesuatu. Aku pikir teguranku akan membuatnya menghentikan pandangannya padaku. Ternyata tawaranku di terimanya mentah-mentah. Ini bukan Gara.


"Ya. Aku bisa membuatkan itu." Aku terpaksa berdiri dan menuju pantry. Bibi di dapur yang mendengar itu sudah menyiapkan air untuk di masak.


"Biar saya buatkan nona ...," bisik beliau. "Nona sarapan saja."


"Kenapa enggak bikin sendiri? Kak Zia kan juga mau sarapan dan berangkat kerja?" tanya Rara tidak setuju.


"Hanya memenuhi tawarannya," jawab Gara singkat.


"Kenapa juga mengikuti tawaran Kak Zia?" sungut Rara.


"Karena dia yang menawarkannya." Gara tetap pada pendiriannya.


"Ih, bisa saja Kak Zia hanya merasa kasihan pada kak Gara karena terus saja melihat cangkir kopi Kak Han. Jadi tanpa berpikir menawarkan kopi." Rara punya pendapat lain.


"Aku orang baik. Jadi saat ada orang yang menawarkan sesuatu padaku, terutama hal tidak merugikanku, aku tentu harus menerimanya. Tentu saja karena aku menghormati Kak Hanen juga." Gara pandai bicara dan berkelit rupanya.


"Itu bisa di sebut orang baik?" tanya Rara tidak mengerti maksud kakaknya. Bibirnya mencebik. Kemudian menggelengkan kepala dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Namun aku paham maksud Gara. Dia mengatakan itu di tujukan padaku. Dia mencemoohku yang sengaja menawarkan diri tapi kemudian berusaha menghindar dan bersikap dingin. Padahal pada kasusku, Gara tidak bersalah.

__ADS_1


Hanen memerhatikan dua adiknya yang berdebat. Lalu melihat ke arahku yang membawa secangkir cappuccino panas. Ku letakkan di samping piring Gara.


"Terima kasih," katanya seraya mendongak. Aku hanya mengangguk mendengarnya berucap terima kasih. Ku upayakan agar mata kita tidak bersirobok saat ini. Lalu aku duduk kembali ke kursiku. Melanjutkan makan yang tertunda karena kelakuan Gara. Saat itu aku justru menemukan Han melihatku. Kenapa? Kenapa dia melihatku?


"Ada yang di butuhkan kamu?" tanyaku spontan.


Han diam tidak menjawab. Baru beberapa detik dia menjawab pertanyaanku. "Tidak." Setelah itu dia kembali menatap piring makanannya.


...----------------...


Saat berjalan di koridor akan menuju lift, ponselku berdering, ternyata nomor dari mertuaku. Mamanya Han.


"Ya, Ma."


"Zia, ada acara pernikahan saudara mama. Kamu datang ya sama Han."


"Baik Ma. Acaranya kapan?"


"Nanti."


"Mendadak sekali, Ma."


"Iya. Mama lupa kasih tahu kamu." Ada gelak tawa lucu menyadari kesalahannya di sana. Pasti beliau merasa bersalah baru memberi tahu. "Kalian bisa datang bukan?"


"E ... iya. Mama sudah kasih tahu Han?"


"Belum. Mama hanya memberitahu kamu. Tolong datang ya. Mama enggak enak kalau kalian enggak datang. Memang salah mama sih baru memberitahu karena lupa."


"Baik Ma. Aku akan kasih tahu Han."


"Terima kasih, sayang ... Kasih tahu juga dua anak mama lainnya. Mereka juga mesti datang."


"Gara dan Rara?"


"Iya. Dua anak mama yang di titipin di sana hehehe ..."


"Baik Ma." Kakiku sudah sampai di depan pintu lift. Saat pintu lift terbuka, seseorang muncul di sana. Han dan Kayla.

__ADS_1



__ADS_2