Getir

Getir
Bab. 107


__ADS_3

Siang ini Rara yang menemani Zia di rumah sakit.


"Aku selalu merepotkan mu, Ra," kata Zia saat Rara menyiapkan makan siang yang di dapat dari rumah sakit.


"Enggak apa-apa. Karena bisa saja nanti aku yang merepotkan Kak Zia," kata Rara seraya membuka plastik wrap yang membungkus tempat makan berbahan stainless itu.


"Kamu pasti berpikir aku ini perempuan pembuat masalah. Karena kebodohanku, seluruh keluarga mu jadi repot mengurusi soal kabar itu," ujar Zia. Meskipun Rara tidak menyinggung sama sekali soal konferensi pers itu, tapi Zia ingin membicarakannya. Karena dia merasa tidak nyaman kalau berpura-pura tidak ada masalah.


"Tidak ada yang mengatakan Kak Zia bodoh. Semua mengerti." Rara tersenyum. Dia menyerahkan tempat makan pada Zia. "Keponakanku baik-baik saja kan?" tanya Zia seraya menyentuh perut kakak iparnya.


"Ya. Dia terus saja bergerak aktif di dalam sana," ujar Zia seraya tersenyum bahagia menatap perutnya.


"Wahhh ... aku baka dapat calon keponakan yang menggemaskan ini. Kemungkinan laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


"Wahh ... kenapa aku tetap sendirian nih. Aku sudah punya dua kakak laki-laki, Kak Hanen dan Kak Gara. Sekarang tambah keponakan juga laki," gerutu Rara dengan nada bercanda.


"Bukannya ada aku?"

__ADS_1


"Iya." Rara memeluk tubuh Zia sambil tersenyum. Saat itu pintu di ketuk seseorang. Pintu terbuka dan muncul keluarga Zia yang datang menjenguk di rumah sakit.


"Ibu?" Zia terkejut. Rara langsung berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan mereka. Ibu datang bersama kakak. Wajah ibu tampak lebih tua daripada usia yang sebenarnya. Itu membuat Zia makin tidak tega melihatnya.


Rara menggeser posisinya agar keluarga Zia lebih dekat dengan kakak iparnya. Ibu tersenyum pada Rara.


"Mama kamu sehat?" tanya ibu pada Rara.


"Iya Bu. Semua sehat."


"Itu berita baik. Maafkan tentang keributan yang di buat Zia," kata Ibu membuat Rara terkejut.


"Terima kasih," ujar ibu. Kakak yang ada di samping ibu juga ikut membungkuk sedikit mengucap terima kasih. "Kamu sudah terlihat sehat," ujar ibu seraya mengganti pandangan pada putrinya.


"Ya."


"Syukurlah." Ibu mengusap pipi putrinya.


"Kandungan mu juga sehat?" tanya Kakak.

__ADS_1


"Ya. Semua sehat," jawab Zia dengan senyum. Kakak menepuk bahu adiknya pelan. Rara mendapat pesan.


"Ibu, kakak ... aku keluar sebentar ya," ujar Rara. Mereka mengangguk dan mempersilakan gadis itu keluar dari kamar.


"Ayo, makanlah. Apa kakak perlu menyuapi mu?" tanya Kakak Zia meledek.


"Tidak. Aku bisa makan sendiri."


"Sini, biar ibu yang menyuapi." Ibu memindahkan tempat makan dari tangan Zia ke tangan beliau. "Ayo buka mulutmu." Ibu menyendokkan nasi dan menyuapkan pada mulut putrinya. Rasa haru tidak bisa di bendung. Air mata Zia leleh seketika.


"Zia," lirih kakak terkejut. Ibu meletakkan piring dan mengusap air mata putrinya.


"Jangan menangis lagi. Semua sudah berlalu bukan?" kata ibu. Zia menganggukkan kepala sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya.


Rara yang memisahkan diri dari mereka berada di lorong. Dia mendapat pesan dari saudara laki-lakinya kalau pria itu ada di sini. Rara melihat ada Gara di sana.


"Halo Rara," sapa Gara. Rara langsung menghambur ke dalam pelukan Gara.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2