
Hanen
Mau tidak mau, aku terpaksa keluar rumah saat Kayla menghubungi lewat pesan padaku. Dia memberitahuku untuk datang menemuinya di suatu restoran.
"Mau kemana?" tanya Zia yang sedang menonton tv. Aku yang masih mengenakan jaket menoleh.
"Ada perlu sama teman. Orang kantor." Bohong. Aku sedang berbohong.
"Hmmm ... "
"Hanya sebentar, tidak lama," kataku meyakinkan dia. Zia mengangguk. Di rumah sekarang sudah ada pelayan yang di bawa dari rumah mama. Jadi Zia bisa lebih tenang bila di rumah karena tidak sendirian. Dengan berbohong, aku keluar rumah. Ponselku berbunyi. Ada pesan dari Kayla. Wanita itu sengaja memberitahu tempat pertemuan dengan mendadak. Mungkin ia ingin aku ketahuan oleh Zia.
Setelah melakukan perjalanan beberapa menit, aku tiba di restoran tempat Kayla menungguku. Aku menghela napas sejenak sebelum masuk. Berat hati rasanya harus menemui mantan kekasih saat Zia sedang hamil. Rasa bersalah begitu besar. Berbeda dengan dulu ketika aku tidak menginginkan Zia.
Langkahku mengantarkan pada sebuah sofa, dimana perempuan itu sudah menungguku.
"Hai," sapa Kayla dengan senyuman yang entah kenapa terasa memuakkan untukku. Padahal dulu aku memujanya. Mungkin benar bahwa Zia-lah yang sebenarnya menjadi orang ketiga dari hubungan kita. Karena aku dan Kayla lebih dulu menjalin sebuah hubungan romantis daripada dengan Zia. Namun hatiku kini terpaut olehnya. Perempuan yang sekarang menjadi istriku secara resmi.
Aku duduk di sofa tanpa membalas sapaannya.
__ADS_1
"Hei, jangan terlalu kaku, Han. Bukannya kita sering melakukan ini. Makan malam." Kayla tampak senang aku tidak nyaman dengan pertemuan.
"Jadi kita hanya akan makan malam?" tanya ku meremehkan hal tidak penting ini.
"Kenapa? Kamu menginginkan yang lain? Seperti yang bisa kita lakukan?" goda Kayla membuatku kesal. Dia tertawa. Kayla sengaja mempermainkan aku. "Makanlah dengan tenang. Kita tidak akan melakukan hal itu. Kita hanya makan dan bicara." Kayla menunjuk piring di depanku dengan garpu miliknya.
Bagaimana mungkin aku bisa makan, jika seperti ini. Aku harap Zia baik-baik saja, selalu.
Saat itu Gara muncul dengan rekan bisnisnya. Awalnya dia tidak melihat adanya Hanen di tempat ini dengan Kayla, tapi rekan bisnis yang juga mengenal Hanen memberitahu keberadaan kakak Gara itu.
"Hei, apa itu Hanen?" seru Brahman menunjuk Hanen dengan dagunya. Aku menoleh ke arah yang di tunjuk pria ini. Sungguh itu membuat darahku mendidih. Hanen tengah makan malam bersama perempuan lain. Kayla. Aku menggeram di dalam hati.
"Sepertinya," sahutku singkat. Aku tidak ingin kemarahan ku membuat suasana aku dan rekan bisnisku berantakan. Brahman mengangguk. Setelah melihat keberadaan Hanen dengan Kayla, aku menjadi tidak tenang. Hingga ada kesempatan kita hanya berdua di halaman parkir. Entah dimana perempuan itu, aku sekarang hanya melihat Hanen yang akan berjalan masuk ke dalam mobilnya.
"Hei," tegur ku. Hanen menoleh. Dari raut wajahnya ia terkejut melihatku. Aku yakin itu tidak akan terjadi jika dia tidak melakukan kesalahan, yaitu bersama Kayla. "Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, tapi mungkin aku perlu mengingatkanmu lagi. Jangan sakiti Zia," desis ku tidak bisa menahan amarah yang sejak tadi tersimpan.
"Apa maksudmu?" tanya Hanen tampak tenang.
__ADS_1
"Kayla. Aku tahu kau bersama Kayla malam ini. Berhenti menyakiti Zia," ujar Gara geram.
Bukannya mengelak atau membantah, Hanen hanya mendengus. "Jangan mengurusi urusanku. Cukup urusi perusahaan kosmetik dengan baik. Perusahaan itu sangat berharga," kata Han.
"Kau tidak perlu mengajariku," kataku merasa tidak perlu di beritahu soal itu. "Aku tahu bagaimana menjalankan perusahaan meskipun tidak sepandai dirimu." Gara mengakui kalau ia masih kalah dengan Hanen soal itu.
"Bagus kalau begitu." Han mengatakannya dengan santai.
"Kau memang orang yang pandai dalam menjalankan perusahaan Han, tapi kau bukan pria yang pandai menjaga hati seorang wanita. Istrimu. Kamu tidak tahu caranya. Kamu tidak tahu." Saat mengatakan ini, ku dorong bahunya dengan telunjukku berulang kali. Sepertinya kurang puas karena aku ingin menghajarnya sampai babak belur. Namun aku tidak boleh berlebihan menangani Han. Zia yang sedang mengandung, pasti terluka jika tahu Han di hajar olehku.
"Aku memang pernah keliru soal itu. Aku memang pernah salah, tapi untuk kali ini aku bukan sedang bersenang-senang dengan perempuan itu. Bukan," bantah Han tegas.
"Bukan?" Itu terdengar palsu bagiku. Hingga aku mendengus meremehkan dia bicara. "Apa yang kamu bilang tidak sama dengan apa yang aku lihat. Kamu bersama Kayla malam ini. Kamu. Tidakkah hati nurani kamu terketuk untuk tidak terus saja menyakiti Zia?" Aku mencengkeram kerahnya karena tidak sabar. Hanen melepaskan tanganku dengan kasar.
"Urusan Zia adalah urusanku, karena aku adalah suaminya. Aku harap kamu mengerti posisi kamu, Gara. Kamu hanya adik ipar. Kamu bisa saja melindunginya, tapi tidak bisa mendekatinya. Aku anggap waktu itu adalah mimpi indah mu semata. Cukup saat itu saja," ujar Hanen seakan mengingatkan aku soal hubungan singkat Kuta berdua.
Aku terdiam merasa kalah. Kisah ku dengan Zia mungkin memang hanya mimpi indah semata. Itu hanya sementara.
...----------------...
__ADS_1