
Sementara itu, mendengar ada suara deru mobil di halaman, kakak yang berada di dalam kamar muncul.
"Selamat siang," sapa Hanen. Kakak melebarkan mata terkejut melihat mereka datang.
"Zia. Ayo masuk. Kenapa ibu hanya diam saja," kata kakak Zia memberi kode. Karena di belakang Zia muncul Hanen. Kakak langsung mendekat pada ibu dan membantunya berdiri.
"Tidak apa-apa. Ibu bisa duduk saja," ujar Han yang mulai berjalan mendekat.
"Tidak apa-apa," ujar Kakak Zia.
"Lama tidak bertemu dengan ibu," kata Han sambil bersalaman dengan ibu dan mencium punggung tangan beliau. Saat bersalaman dengan Zia, ibu langsung memeluknya erat. Seperti ada hal yang membuat beliau sedih.
Dada Zia terkesiap. Apa ibu akhirnya tahu soal skandalnya dengan Gara?
***
__ADS_1
Malam ini Zia sengaja menginap karena lama tidak menjenguk ibunya. Han yang tadi langsung berangkat lagi ke kantor belum muncul. Dia akan ikut menginap. Pulang kerja nanti dia akan langsung ke rumah keluarga Zia.
Di ruang tengah yang tidak begitu luas, Zia duduk dengan kedua tangan menyatu di atas tikar. Kegelisahan hatinya terjawab.
"Apa berita di tv itu benar Zia?" tanya ibu dengan suara sedih. "Berita tentang kamu dan adik ipar mu." Ibu mengatakan lebih jelas.
Kakak yang ada di samping ibu hanya diam. Dia juga tahu tentang berita itu, tapi bibirnya cukup diam.
Zia diam dengan napas naik dan turun. Rongga dadanya terasa sempit. Matanya panas dan nanar. Zia menahan sekuatnya untuk tidak menangis.
"Maafkan aku, Ibu," kata Zia dengan menundukkan kepala.
"Maafkan aku Ibu," ujar Zia yang hanya bisa mengucap itu. Matanya nanar. Suasana hening. Hanya terdengar helaan napas berat dari bibir ibu.
Bahkan kakak sampai menutup mulutnya karena terkejut dengan kenyataan ini.
__ADS_1
Zia sendiri tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi ibu dan kakaknya. Karena ia tidak berani mengangkat wajah. Hanya menebak dalam hati bagaimana respon mereka mendengar kenyataan ini.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Ada apa dengan dirimu, anakku?" tanya ibu dengan suara serak. Sepertinya ibu menangis. Mendengar ini, Zia makin tidak bisa mengangkat wajah.
Zia yang duduk di tikar bersama mereka berdua, langsung merundukkan wajah bersimpuh.
"Maafkan aku, ibu. Maafkan aku sudah mengecewakan ibu dan kakak." Tidak ada lagi yang bisa di lakukan Zia selain bersimpuh dan meminta maaf. Air matanya pun menetes.
"Apa ada sesuatu antara kamu dan suami mu, sampai kamu terjerumus dalam hal tidak baik?" tanya Kakak ingin tahu.
Perempuan ini teringat lagi ketika mereka menjenguk ibu yang sakit. Zia bukan datang bersama suaminya, Zia justru datang bersama adik iparnya, Gara. Sebenarnya dari sana sudah terlihat kalau ada yang tidak beres dengan hubungan suami istri ini. Namun kakak tidak ingin banyak bertanya.
Zia bungkam.
"Bangunlah, anakku. Bangunlah," pinta ibu. Beliau menarik tubuh putrinya dengan susah payah. Lalu memeluknya. "Ibu yakin kamu punya alasan untuk melakukannya meski tidak di benarkan. Pasti sudah terjadi sesuatu," kata ibu mencoba memahami situasi putrinya.
__ADS_1
Bukannya tenang, tangisan Zia makin menjadi dalam pelukan ibu.
...____...