Getir

Getir
Kedua kali


__ADS_3


"Berhenti, Ga. Berhenti," pinta Zia lirih. Gara seakan tidak mendengar apapun perkataan Zia. Dia terus saja mencumbu leher dan bahu perempuan ini. Zia menggerakkan kepala ke kiri dan kanan menolak cumbuan panas milik Gara.


Cekalan tangan Gara semakin ketat. Ciuman itu mulai merambat ke bagian tubuh yang lain. "Ga ..." Tubuh Zia menggeliat ingin lepas. Namun Gara justru semakin berhasrat. Gerakan tubuh Zia memberahikan Gara. Bahkan tangannya menyingkap gaun Zia dan memperlihatkan bagian bawah tubuhnya.


"Tidak, Ga. Jangan. Cukup sekali kita melakukannya," pinta Zia mengiba. Indera pendengaran Gara seakan buntu. Dia mendadak berubah tuli. Selain gairah dan hasratnya yang ingin menyentuh Zia mendominasi, pengaruh alkohol juga berperan dalam tindakan ini. Dia tidak terkontrol. Gara juga melepas pakaian yang menutupi tubuh bawahnya.


"Aku mencintaimu, Zia," desis Gara.


"Gara ... Jangan! Ohhh ..." pekikan Zia tenggelam bersamaan dengan keperkasaan Gara yang masuk ke dalam inti tubuhnya. Perih. Keperkasaan Gara bergerak semakin dalam dan memenuhi seluruh pusat dirinya.


Ini bukan yang pertama baginya dan Gara. Namun entah karena Zia sekarang dalam keadaan sangat sadar atau karena hal lain, milik Gara sangat terasa di inti tubuhnya daripada saat pertama kali mereka melakukannya. Bahkan menghujam tegas tanpa terkendali. Seakan Gara berniat menanam benih di dalam rahim Zia. Lagi, lagi dan lagi.


Airmata Zia meleleh. Perempuan ini menangis. Gara sudah tidak bisa di hentikan. Tubuh Zia pun melemah seiring dengan pelepasan yang Gara lakukan.


"Aku mencintaimu, Zia," Lirih Gara lagi dengan mata merah berkabutnya. Ini jelas sekali Gara sedang di kuasai oleh alkohol. Entah kekuatan darimana, Zia berhasil mendorong tubuh Gara. Hingga tubuh pria ini terdorong ke belakang dan jatuh terduduk di sofa. Zia segera merapikan pakaiannya. Dengan gerakan lamban,


Rara berhasil naik ke lantai dua.


"Kenapa di sini gelap?" Rara heran lampu ruang santai ini tidak di nyalakan. Kini dia berdiri di pintu balkon. Bola matanya menemukan pintu menuju balkon terbuka. "Pasti Kak Zia mencari handphone-nya di luar." Setelah beberapa langkah, Rara menengok ke sofa di pojok. Ada Zia dan Gara.

__ADS_1


"Kenapa kak Gara ada di sini?" Kening Rara mengernyit. Namun mendadak bola matanya membulat melihat keadaan Gara dan Zia. "Kakak ...," pekik Rara tertahan.


Plak!


Belum selesai keterkejutannya karena keadaan mereka berdua, Rara kian terperangah saat melihat Zia menampar Gara. Itu sisa tenaga yang Zia punya. Tidak begitu keras jika di bandingkan dengan ekspresi marah perempuan itu. Mungkin ini adalah yang pertama dia menampar seorang pria. "Gara, kau ...," tuding Zia dengan air mata mengalir membasahi pipinya. Bibirnya tidak mampu meneruskan kata-kata. Hatinya sakit. Dia juga dilema.


Menampar Gara juga tidak tepat. Bukan karena dia menikmati penyatuan barusan. Namun karena dirinya terlalu egois. Saat dia sendiri butuh dan menawarkan diri, Gara menolak. Namun ia memaksanya. Sekarang saat Gara sendiri yang butuh dan menginginkannya, dia justru marah dan sedih.


Namun haruskah dia diam dan menikmati perlakuan Gara? Dia tidak menyangka Gara melakukannya saat ada semua anggota keluarga di dalam rumah. Di rumah ini. Rumah orangtuanya. Saat dirinya sudah memutuskan untuk kembali pada Hanen.


Gara hanya terdiam. Tubuhnya pun lunglai. Kepalanya mendongak melihat Zia menitikkan airmata. Bola matanya juga sedih.


"Kalian?" pekik Rara dengan suara lebih keras daripada tadi. Menatap mereka berdua tidak percaya. Keduanya menoleh pada Rara. Bola mata mereka membelalak serempak. Mereka terkesiap. "Ada apa ini?" tanya Rara dengan memicingkan mata.


Zia menjauh dari sofa dengan rambut dan gaun yang kusut. Sisa tangisan juga masih ada. Wajahnya sembab dan matanya merah. Ekspresinya marah, jengah, dan terluka. Dia berlalu dari sana hendak menuju ke dalam rumah lagi.


"Aku harap kamu tidak bersikap dingin lagi padaku," ujar Gara. Zia tidak peduli.


"Lebih baik rapikan dirimu dulu, Kak," nasehat Rara saat Zia melewatinya. "Walaupun aku sudah tahu apa yang terjadi disini, orang lain tidak harus tahu kan ... Di rumah sekarang banyak orang. Bisa saja salah satu dari mereka ada yang datang kemari."


Zia berhenti dan berusaha merapikan dirinya lagi. Namun tentu saja itu tidak mengurangi bekas pergumulan di atas sofa tadi. Zia memejamkan mata sambil berdecak kesal. Tangannya pun ikut mengepal menunjukkan rasa kesal yang nyata. Merasa tidak bisa merapikan dirinya lagi. Apalagi masih terasa perih di bawah sana. Gara dan Rara mendengar itu.

__ADS_1


"Lebih baik kak Gara juga merapikan diri," cegah Rara segera pada Gara yang berdiri untuk mendekati Zia. "Atau ... Kaka Gara menyendiri dulu untuk meredakan mabuk." Dari apa yang di lihatnya dari rona wajah kakaknya, Rara tahu Gara sedang mabuk. Walaupun alkohol mulai tidak terlalu mengontrol penuh.


Gara ikut berdecak kesal. Tangannya mengepal meninju udara. Rara berjalan mendekati Zia. "Aku bantu," ujar Rara ikut merapikan rambut Zia. Perempuan ini menggigit bibirnya. Air matanya hendak merebak. "Sebaiknya kita ke kamarku saja." Untung saja kamar Rara berada di lantai dua. Hingga memungkinkan mereka segera bersembunyi.


Sesampai di dalam kamar Rara, Zia duduk di depan cermin dan menangis. Dia tak mampu lagi menahannya. Rara hanya terdiam berdiri di samping cermin. Menghela napas berat. Tangan Rara menyodorkan tisu ke arah kakak iparnya. Zia menerima dan mengusap airmatanya.


"Aku tidak tahu hubungan kalian sudah lebih dari itu." Ada sedikit nada mencela. Namun Zia tidak bisa marah. Rara tidak memaki secara langsung saja dia sudah cukup bersyukur. "Aku sangat tidak mengira kak Gara seperti itu. Ya ... meskipun aku tahu lelaki lebih mudah naik berahinya daripada perempuan, tapi ... Hhh ... Ya. Begitulah." Rara begitu terguncang hingga dia tidak bisa menguraikan kata-kata selanjutnya.


"Maaf, Ra," ujar Zia setelah selesai mengusap ai matanya.


"Aku bukan sedang menghakimi Kak Zia. Aku hanya berpendapat. Jadi tidak perlu meminta maaf padaku. Karena aku juga tidak tahu mana yang benar. Mana yang salah."


Gara yang sudah merapikan celana dan kemejanya berulangkali berdecak kesal sambil memukul udara. Kemudian bersandar pada badan sofa sambil memijit pangkal hidungnya. Menutup mata teringat tadi lagi. Saat dirinya menyetubuhi Zia.


"Sial!" umpatnya keras. Sesal membuatnya semakin marah. "Bodohnya aku." Bermacam umpatan keluar dari mulutnya. Lalu ia berdiri ingin masuk ke dalam rumah dan menyendiri di dalam kamar lamanya seperti yang di ucapkan adiknya.


"Aww ...," rintih Gara seraya memegangi kepalanya. Rasa pusing menyerangnya. Alkohol masih membuatnya tidak benar-benar kuat. Tubuhnya kembali ambruk di atas sofa. "Zia ..." lirih Gara.


Trek!


Meja di ruang santai menyuarakan bunyi-bunyian. Itu mirip seseorang yang sedang terantuk meja. Seseorang? Selain Rara?

__ADS_1


Hanen keluar dari kegelapan di sudut ruangan.



__ADS_2