
Tanpa meminta persetujuan dari keluarga Zia, Gara melesat ke rumah keluarga Zia untuk menjemput mereka. Meski awalnya mereka ingin berangkat sendiri, tapi akhirnya terpaksa mereka ikut mobil Gara. Karena pria ini sudah tiba di depan rumah keluarga Zia. Tidak mungkin mereka mengusirnya. Sampai di rumah sakit Gara ingin langsung mengantar ibu ke kamar dimana Zia di rawat, tapi ibu menolak.
"Tolong antar ibu ke kamar Hanen di rawat," pinta ibu.
"Ibu tidak ingin melihat keadaan Zia dulu?" tanya Gara mengingatkan.
"Tidak. Ibu ingin melihat keadaan menantu ibu dulu," jawab ibu seraya menggeleng lemah. "Bukankah Nak Gara bilang Zia tidak apa-apa?"
Berbeda dengan Hanen, ibu mengunakan sapaan Nak karena dulu tidak terlalu mengenal Gara. Hanen yang sudah di tunjuk sebagai pewaris sejak dulu, lebih di perkenalkan pada semua orang. Jadi sebutan Tuan memang hampir tidak pernah terdengar karena jarang bertemu Gara. Jadi ibu lebih nyaman ketika bicara dengan pria ini karena kesan keluarga Laksana tidak melekat begitu dalam pada diri Gara.
Gara mengerjapkan mata bingung. Dia memang mengatakan itu tadi ketika di tanya soal keadaan Zia. Namun menurutnya, bukankah itu keterlaluan jika beliau hanya berpatokan pada kata-katanya.
"Benar tapi ..."
"Iya, Bu. Mungkin Zia sedang membutuhkan kita. Dia butuh penenang," ujar Mila membujuk. Dia ingin membantu Gara. Ibu menggelengkan kepalanya lagi. Beliau tidak mau di bujuk.
"Ibu percaya pasti Zia baik-baik saja. Karena jika tidak, mungkin sekarang Nak Gara tidak berada di sini dan menyempatkan menjemput ibu dan anak ibu. Jadi ibu percaya Zia pasti baik-baik saja," ujar ibu mengejutkan. Itu sama artinya kalau beliau melihat rasa cinta Gara pada putrinya begitu besar.
__ADS_1
Mila sampai melirik Gara untuk tahu ekspresi pria itu dengan kalimat ibu. Gara tampak tetap tenang meski bola matanya sempat melebar sekejap mendengar ibu bicara tentangnya.
"Jadi tolong antarkan ibu ke kamar menantu ibu," pinta ibu lagi.
"Baik. Saya akan mengantarkan ibu ke kamar Hanen." Gara pasrah. Ibu benar. Dia tidak akan berada di sini jika Zia tidak baik-baik saja. Dirinya pasti akan panik ketika mendengar Zia dalam keadaan yang genting. Dia tidak akan bersikap tenang seperti sekarang.
"Terima kasih," ucap ibu.
"Tidak. Ibu tidak perlu berterima kasih. Saya tentu harus mengantar ibu ke sana." Gara menggelengkan kepalanya menolak ucapan terima kasih dari ibu. "Mari ibu, saya antarkan."
Ibu mengangguk. "Nak Gara jalan saja di depan. Ibu dan kakak Zia ini akan mengikuti dari belakang."
"Kakak bisa berikan itu padaku. Aku akan bantu membawakan." Gara menunjuk bawaan yang di bawa Kak Mila.
"Tidak. Biarkan aku yang membawanya sendiri," tolak Kak Mila. Sebenarnya dia setuju jika Gara yang membawa oleh-oleh itu, tapi melihat mata ibu tajam, Mila tidak berani.
"Tidak apa-apa, Kak. Kakak bisa membimbing ibu jika aku yang membawakan. Saya boleh membantu Kak Mila kan, ibu?" tanya Gara yang tahu kalau Kak Mila takut pada ibu jika dia mengiyakan bantuan Gara.
"Itu akan membuatmu repot, Nak Gara."
__ADS_1
Mila melirik ibu yang sedang di gandeng olehnya untuk mengikuti Gara di belakang. Mungkin ibu menyadari bahwa sebenarnya yang sungguh-sungguh mencintai Zia adalah Gara, bukan suaminya.
Gara berjalan di depan keluarga Zia dengan perasaan campur aduk. Kata-kata ibu membuatnya senang sekaligus sedih.
****
Tok, tok, tok.
Gara mengetuk pintu kamar Hanen. Dia tahu bahwa mama dan Rara ada di dalam. Kedua perempuan yang ada di dalam menoleh ke pintu ketika ketukan itu terdengar. Gara menyembul dari balik pintu.
"Oh Kak Gara." Rara tersenyum. Gara mengangguk membalas senyum adiknya. Mama menghela napas melihat putra keduanya muncul.
"Ada apa Gara? Apa ada kabar dari kantor polisi?" tanya mama.
"Ada yang ingin bertemu dengan mama dan menjenguk Kak Hanen," ujar Gara.
"Siapa?" tanya mama merasa tidak sedang membuat janji dengan seseorang. Rara mengerjapkan mata mendengar mereka bicara.
..._________...
__ADS_1