Getir

Getir
Merenung


__ADS_3


.......


.......


.......


"Tolong pikirkan soal melepas Gara sekali lagi. Ini bukan hanya untukmu dan dia, tapi juga untuk orangtuaku dan ibumu. Karena yang mereka tahu, kamu adalah istriku. Jangan kecewakan mereka." Setelah mengatakan itu, Han menutup pintu dan pergi.


Air mata Zia pun berurai. Zia tidak bisa lagi berlagak kuat. Tanpa perlu Han mengatakannya, dia juga memikirkan hal itu. Jika dia memikirkan hatinya dan bersikap egois, dia akan menyakiti banyak pihak. Keluarga Laksana dan keluarganya sendiri. Terutama ibunya.


Sesungguhnya hari ini adalah hari yang cerah. Namun itu tak berjalan selaras dengan perasaan penghuni rumah putra keluarga Laksana. Mereka tengah di landa kegelisahan. Ketiga penghuni sedang dalam keadaan kacau.


Mungkin Rara menjadi satu-satunya orang yang 'waras' di dalam rumah ini. Menjadi dia juga tidak mudah. Harus bisa bersikap dewasa dan bijaksana saat kakak-kakaknya menjadi bocah yang sedang memperebutkan satu-satunya permen.


Gadis ini selalu mencoba menjadi orang netral di antara mereka. Tidak memihak siapa-siapa. Hanya berusaha memberi nasehat dengan tepat dan bijaksana untuk mereka sebisa mungkin.


Zia terus saja mendekam di dalam kamar. Dia masih perlu waktu menyendiri. Memikirkan banyak hal yang nantinya akan di gunakan untuk mengambil keputusan. Ini tidak mudah. Dia tidak mau terjebak lagi dengan hatinya yang kacau seperti saat berani menawarkan diri untuk menemani malamnya kepada adik iparnya. Itu kesalahan terbesar dan terbodoh yang pernah ia lakukan.


"Kak Zia ...," panggil Rara dari luar. Tubuh Zia bangkit dari ranjang dan mendekati pintu. Dia tahu itu suara Rara. Tangannya membuka pintu. "Aku membawakan makan sore untuk kakak."


"Sore? Ini sudah sore?" tanya Zia seperti sangat terkejut. Ternyata memikirkan banyak problem membuat waktu di dalam kamarnya seperti tidak berubah.


"Ya. Kak Han menyuruhku pulang lebih awal. Apa aku ... di perbolehkan masuk?" tanya Rara karena sejak tadi Zia tidak mempersilakan dirinya masuk. Hanya berdiri di depan pintu saja.


"Ah, boleh Rara. Maaf. Masuklah." Zia membuka pintu lebih lebar untuk membiarkan adik iparnya masuk ke dalam kamar tidur. Rara melihat nampan makanan yang belum di sentuh.


"Karena aku sengaja membawakan makanan untuk Kak Zia, jadi tolong kakak harus makan," titah Rara langsung tanpa perlu basa basi. Zia tahu Rara melihat nampan berisi sarapan yang di bawakan Hanen tadi pagi masih penuh. Zia diam. Dia memang masih enggan menelan apapun. Namun, demi rasa sayang pada adik iparnya yang peduli padanya, Zia mau makan.


"Pasti kak Zia sangat tertekan dengan semua ini."


"Itu memang karena kesalahan yang aku buat sendiri." Zia menyuap makanan ke dalam mulutnya sambil termenung. Rara hanya melihat. Dia tidak berkomentar lagi. Sebenarnya dia sengaja pulang dari kantor, demi memenuhi keinginan Han. Kakak pertama itu ingin Rara melihat keadaan istrinya.

__ADS_1


"Oh, iya. Aku harus pergi. Ada janji," kata Rara sambil melihat ke arloji di tangannya. "Kak Zia harus menghabiskan makanan yang aku bawa ya. Ku bawa nasi yang tadi tidak di makan."


"Tidak perlu, Ra. Aku bisa membawanya sendiri."


"Enggak apa-apa. Sekalian aku turun." Rara mengambil nampan dan keluar.


"Terima kasih."


"Oke." Rara membawa nampan keluar kamar. Setelah selesai meletakkan di dapur, Rara memberi kabar pada Hanen bagaimana keadaan Zia sekarang.


"Kak Zia sudah mau makan. Aku keluar dulu. Di rumah kosong. Sebaiknya kak Hanen segera pulang," tulis Rara.


...----------------...


Hanen pulang dari kantor dan menemukan makanan di atas nakas sudah berganti. Bukan lagi nampan yang dia bawa tadi pagi. Berarti Rara sudah melakukan tugas yang di berikannya dengan baik.


Ponsel wanita ini tergeletak di atas nakas. Ponsel itu bergetar. Pria ini sengaja mendekat ingin tahu. Han melihat ada pesan yang belum terbaca muncul di layar.


Gara!


Begitu melihat ada nama itu di layar ponsel, Han menggeram. Dia tidak menduga bahwa Gara masih bersikeras ingin mendekati Zia. Namun Han merasa tidak perlu menyentuh ponsel Zia. Saat ini wanita ini tengah terlelap. Jadi dia memilih untuk turun ke lantai bawah dan langsung mencari adiknya.


Namun dia tidak melihat batang hidung adik laki-lakinya itu. Saat itu Rara melintas dari luar. Sepertinya adiknya baru pulang dari keluar.


"Ra. Dimana Gara?" tanya Han segera mencegat adik perempuannya.


"Mungkin di dalam kamarnya. Aku belum melihatnya setelah pulang kerja tadi." Rara menunjuk kamar Gara dengan dagunya. "Apa ... ada masalah lagi?"


"Ya. Dia masih berusaha berbicara pada Zia," ujar Hanen geram. Rara menghela napas. Sepertinya kak Gara bertekad mengambil kak Zia. Sebuah ponsel berdering. Sepertinya berasal dari saku celana Han.


Kayla!


Rara mengintip. Setelah kejadian di resto, Hanen lupa soal wanita itu. Meskipun berulang kali Gara dan Zia menyebut nama Kayla, Hanen lupa sama sekali untuk menghubunginya. Bukan meminta bertemu seperti biasa. Melainkan perlu menjelaskan bahwa hubungan mereka akan segera berakhir. Han bertekad untuk melepas salah satu dari dua wanita itu. Dia memilih Kayla untuk jadi orang yang terbuang.

__ADS_1


"Ada masalah dengan perusahaan?" tanya Rara.


"Tidak ada. Ini soal Kayla. Kamu masih ada perlu keluar rumah?" tanya Han.


"Tidak, Kak. Keperluanku sudah selesai. Ada apa?" tanya Rara.


"Jaga Zia. Aku akan pergi menemui Kayla."


"Kakak akan ..." Rara ragu melanjutkan kalimatnya.


"Aku bukan ingin bermain dengannya, Ra. Aku ingin menghentikan hubungan kita. Itu janjiku jika ingin membuat Zia percaya bahwa aku ingin memperbaiki hubungan pernikahan kita."


"Baiklah. Aku harap kakak bisa menyelesaikan dengan baik. Karena dari sana awalnya semua kekacauan ini."


"Aku harus bisa menyelesaikannya. Demi Zia."


Di tempat berbeda dengan waktu yang sama. Kayla menunggu kedatangan pria yang di cintainya dengan rona wajah bahagia. Duduk dengan cantik di kursi sebuah restoran. Dia tidak menduga bahwa ini akan jadi momen paling menyakitkan baginya.


...----------------...


Gara masih mengetikkan pesan untuk Zia. Dia perlu berbicara dengan wanita itu. Namun pesannya saja sampai sekarang belum di balas. Kemungkinan besar, Zia tidak di perbolehkan menyentuh ponsel, begitu pikir Gara. Sejak tadi tidak ada pesan sama sekali yang di balas oleh wanita itu.


Dia tidak pulang ke rumah. Dia sedang sendirian di bar. Tidak banyak minuman yang di teguknya. Karena dia ingin dalam keadaan sadar saat Zia menyetujui untuk bertemu dengannya. Namun rencananya gagal. Zia tidak juga muncul meskipun dia menunggu lama.


...Di rumah putra keluarga Laksana....


Zia terbangun. Bola matanya melihat sekeliling. Di lihat dari jas yang tergantung di gantungan pakaian, dia bisa menebak bahwa Hanen sudah pulang dari tempat kerja. Tangannya meraih ponsel di atas nakas. Bola matanya terkejut melihat ada begitu banyak pesan dari Gara.


Tubuh perempuan ini segera beranjak dari ranjang. Dia membersihkan diri dan segera berganti pakaian. Zia ingin menemui Gara. Setelah yakin bahwa tidak ada tanda-tanda keberadaan Han di rumah, Zia bergegas keluar kamar.


"Kakak mau kemana?" tegur Rara yang menemukannya sudah turun dari lantai dua.


__ADS_1


__ADS_2