
Ponsel Gara berdering. Ia melihat ke layar ponsel. Han. Ternyata itu Han.
"Ya. Ada apa?" tanya Gara langsung ketika menerima telepon.
"Kamu ada dimana?"
"Rumah mama."
"Apa ada Zia di sana?" tanya Han yang terdengar cemas. Napasnya juga naik turun. Pasti pria itu kesana kemari mencari istrinya. Gara melirik ke arah Zia. Dia Mengerti. Sepertinya Zia tidak memberitahu Han kemana ia pergi.
"Ya, ada."
"Oh, syukurlah. Jangan biarkan dia pergi sebelum aku sampai di sana, Gara," pinta Han bersungguh-sungguh.
"Ya," sahut Gara.
"Siapa Ga?" tanya mama.
"Teman," sahut Gara bohong.
**
Hanen tiba di rumah keluarga Laksana dengan tergesa-gesa. Dia langsung masuk dan mencari Zia di dapur. Tempat yang di tunjukkan bibi, dimana istrinya berada.
"Aku datang," kata Han mengejutkan Mama dan Zia. Gara hanya melirik sekilas.
__ADS_1
"Han. Ayo sini." Mama mengayunkan tangannya meminta Han mendekat. Zia melihat Han yang juga melihatnya. "Kok tahu kalau Zia ada di sini?"
"Ya. Zia kan sudah ijin untuk datang ke sini," bohong Han.
"Benarkah?" tanya mama terkejut. Karena berdasar informasi tadi, Zia sepertinya datang tanpa sepengetahuan Han.
"Ya. Zia tidak mungkin kemana-mana tanpa pamit kan?"
"Oh, ya ... ya. Dia juga lagi hamil kan." Mama langsung memutuskan percaya saja. Gara diam saja melihat mereka bertiga.
"Ma, Zia boleh rebahan dulu?" tanya Zia tiba-tiba.
"Apakah punggung mu sakit?" tanya Mama cemas. Bukan hanya mama, kedua pria di sana ikut mencondongkan tubuh mereka untuk melihat keadaan perempuan ini.
Melihat reaksi ini, Zia agak terkejut.
"Ayo kita ke kamar," ajak Han. Gara menghela napas. Dia lupa bahwa porsi dia di sini tidak ada.
"Ya, suruh Zia rebahan saja. Dia sudah makan siang tadi kok. Juga minum jus buatan Gara. Jadi pasti bayinya tidak apa-apa. Siang begini wanita hamil memang di anjurkan tiduran," ujar mama tanpa sengaja bicara yang tidak perlu.
Han melirik sebentar ke Gara mendengar itu.
"Ya, Ma."
Mereka berdua meninggalkan Gara dan mama di meja makan.
__ADS_1
**
"Aku pikir kamu kabur dan pergi meninggalkan aku tanpa bicara apapun, Zia," kata Han saat berjalan menuju kamar.
"Kalau bisa kabur, mungkin aku akan kabur dan menghilang," kata Zia. Han melihat ke samping.
"Apa yang kamu katakan?"
"Aku sudah merusak semua hal baik yang ada di keluarga Laksana. Jadi sewajarnya aku menghilang kan?" Zia mengatakannya dengan tenang. Seakan dia benar-benar akan lenyap.
"Jangan bicara sembarangan. Banyak orang yang ingin kamu tetap ada, kenapa malah ingin menghilang."
"Kamu tidak akan mengerti, Han," kata Zia lirih. Perdebatan ini tidak akan usai. Han memilih diam.
"Lebih baik kamu tidur saja, Zia. Tubuh dan pikiran mu akan lebih tenang," pinta Han seraya membantu Zia tidur di atas ranjang.
**
Di meja makan.
"Papa sudah membungkam semua media untuk memberitakan kamu dan Zia. Hhh ... Itu tidak begitu sulit dengan kekuatan keluarga Laksana, tapi mental Zia jadi begitu down melihat berita itu. Lihatlah dia terlihat pucat terus tadi," kata mama iba.
Gara tahu. Efek berita itu begitu besar untuk Zia. Perempuan itu mungkin bisa pingsan lagi karena drop. Zia rapuh saat ini.
"Kenapa ini bisa terjadi Gara?" keluh mama lirih.
__ADS_1
...____...