
Dering ponsel tiba-tiba berbunyi di atas meja setelah berita soal hubungan Zia dan Gara. Ini membuat Zia dan Han menoleh bersamaan.
Tidak tahu siapa itu, tapi sudah membuat suasana di ruangan ini makin tegang. Tubuh Zia yang ketakutan dan panik melemas hingga jatuh pingsan.
"Zia! Zia!" teriak Hanen panik. Karena situasi ini, telepon yang sebenarnya dari Gara itu pun terabaikan.
Sementara Rara yang mengetahui berita di tv langsung menelpon ponsel Han. Setelah teleponnya berhasil di terima Hanen, Rara segera berangkat ke rumah sakit saat itu juga.
Karena ia langsung ke rumah sakit, Rara tiba dengan cepat.
"Beritahu Gara untuk tetap di rumah. Aku akan bicara padanya," kata Han pada adiknya yang terakhir.
"Kenapa, Kak?"
"Aku yakin dia akan datang mencari Zia. Dia akan menggila," jelas Han. "Tadi saja ia berkali-kali meneleponku." Han tahu benar bagaimana karakter adik laki-lakinya. Gara tidak akan peduli pada apapun jika sudah bertekad.
"Baik, Kak." Rara mengangguk mengerti. Itu sebabnya dia menelepon Gara.
"Kak Hanen berpesan Kak Gara untuk tetap di rumah. Dia akan bicara dengan Kak Gara nanti. Jangan membuat masalah," kata Rara.
__ADS_1
"Aku bukan pembuat onar, Ra. Aku ini hanya cemas dengan keadaan Zia. Kabar ini tentu membuatnya syok, kan? Tidak mungkin dia tenang-tenang saja dan cuek." Gara tampak emosional.
Rara sangat mengerti tentang itu. Meskipun dia tidak pada posisi seperti Zia, dia paham. Rasa takut dan malu pasti muncul bersamaan.
Dari cara bicara Rara, bisa di simpulkan bahwa gadis ini tahu kemana mereka berdua sekarang ini.
"Katakan saja padaku kemana mereka berdua. Aku mohon, Ra," pinta Gara. Suaranya begitu khawatir.
"Hhh ... Kak Han sedang mengantar Kak Zia ke rumah sakit." Rara memberitahu.
"Rumah sakit? Zia? Ada apa dengannya? Ada apa?!" teriak Gara panik.
***
Di rumah sakit.
Sekarang Hanen tengah menemani Zia yang terbaring lemah di atas ranjang. Perempuan itu terlihat pucat. Bola mata Hanen terus menatap ke arah wajah cantik wanita itu.
"Untung saja bayi di dalam perut mu tidak apa-apa, Zia. Jika terjadi apa-apa, bagaimana aku menjelaskan padamu," bisik Hanen.
__ADS_1
Tangan pria ini menyentuh pipi Zia pelan. "Karena aku, kamu selalu dalam posisi yang tidak menyenangkan. Maafkan. Kegilaan mu dengan Gara juga karena aku."
Srek! Pintu kamar perawatan terbuka. Nampak Gara dengan wajah tegang muncul di sana. Padahal Rara sudah menahan pria ini untuk datang. Namun tetap saja dia muncul di sini.
"Zia," sebut Gara terlihat terguncang melihat keadaan perempuan ini terbaring lemah di rumah sakit.
Han langsung berdiri dan mendekat ke Gara. Dia tidak ingin Gara masuk lebih dalam melihat Zia.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Hanen.
"Sudah jelas aku ingin melihat keadaan Zia," kata Gara tanpa menoleh pada kakaknya.
"Kamu tidak boleh berada di sini, Gara. Ayo kita keluar." Han menarik lengan Gara untuk ikut dengannya.
Namun Gara segara menepis tangan kakaknya. Han berhenti berjalan karena tidak berhasil menggiring adiknya untuk keluar. Dia menoleh ke belakang.
"Lepaskan aku. Tujuan ku kesini adalah Zia, bukan berdebat dengan mu, Han." Kini bola mata Gara tengah menatap tajam ke arah Hanen.
...___...
__ADS_1