Getir

Getir
Mama tahu


__ADS_3


"Kenapa? Dia suami yang baik bukan?"


"Dia memang baik di depan semua, kecuali kak Zia sendiri. Istrinya." Rara mengatakan dengan setengah menggerutu.


"Dia bukan suami yang baik?" tanya mama seraya memicingkan mata karena ragu.


"Ya."


"Mama yakin kamu salah."


"Tidak. Aku tidak salah. Kak Han memang tidak memperlakukan kak Zia layaknya sebagai seorang istri. Kak Han hanya menikahi kak Zia karena hak pemilik perusahaan yang di kelolanya sekarang."


"Maksud kamu?"


"Kak Han secara terang-terangan bilang ke kak Zia, bahwa dia tidak mencintainya. Itu di lakukannya sejak awal menikah. Kak Han hanya mengikuti keinginan mama untuk menikahi kak Zia. Bahkan kak Han memaksa mereka tidur terpisah. Ranjang mereka saja ada dua di kamarnya. Namun mama tidak kan bisa menemukan itu karena sekarang sudah di ganti. Apa itu bisa di sebut baik, Ma?"


"Han ... Han ... begitu?" tanya mama terbata-bata.


"Mama pasti tidak tahu kalau kak Han masih menjalin hubungan dengan Kayla meskipun menikah dengan kak Zia. Aku pikir kak Han akan menceraikan kak Zia dengan bermacam alasan, tapi ternyata tidak. Dan aku yakin mungkin kak Han tidak ingin kehilangan hak kepemilikan perusahaan jika dia menceraikan kak Zia. Karena kak Han tahu, bahwa mama dan papa sangat menyukai kak Zia yang rajin dan santun."


"Benarkah?" Mama terlihat begitu terpukul mendengar semua cerita Rara. "Jadi Han masih menjalin hubungan dengan wanita itu?" tanya mama tanpa butuh jawaban. "Dan Gara?"


"Kak Gara di sini mungkin sebagai penenang bagi kak Zia. Sepertinya kak Gara tahu soal pernikahan kak Han dan Kak Zia. Dia ...."


"Dia ... dia kenapa Ra?" Rara diam di tanya oleh mamanya. Dia tidak sanggup menjawab. "Apakah ... Apakah ... mereka ...." Mama mencoba menerka. Raut wajah beliau tampak ketakutan saat akan mengatakannya. "Apakah mereka menjalin hubungan cinta?" Rara sendiri merasa berat saat menemukan kenyataan itu. Apalagi mamanya. Rara hanya menatap mamanya. Bibirnya belum bisa bersuara karena tidak sanggup. Namun beliau paham. Bahwa terkaannya adalah benar.


"Oh, tidak. Putraku ..." Mama langsung menghempaskan punggungnya di bantal lagi. Padahal tadi beliau sudah tidak lagi menyandarkan punggungnya.

__ADS_1


"Mama ... Mama tidak apa-apa?" tanya Rara segera berdiri. Kepala mama menggeleng lemah.


"Mama pusing, Ra." Rara tahu bagaimana mamanya mendengar cerita barusan. "Mama harus segera menuntaskan ini. Jika berlanjut-lanjut, akan banyak hal mengambang yang tidak jelas."


"Benar, Ma. Namun mama harus ingat. Kak Zia disini adalah korban. Dia menjadi tidak terkendali karena ulah kak Hanen. Bukan semata-mata karena kak Zia sendiri. Sebenarnya kak Zia adalah pribadi yang baik. Dia salah, tapi bukan sepenuhnya salah."


"Mama harus bertanya sendiri pada mereka kebenaran ini, Ra. Mama belum bisa ambil keputusan."


"Ya. Namun Rara mohon jangan menyakiti kak Zia lagi, Ma. Dia sudah cukup menderita dan tersakiti di sini. Namun dia bertahan dan tidak memperlihatkan pada kita dan orang-orang. Dia berusaha terlihat baik-baik saja padahal pernikahannya menyiksanya." Mama mengangguk.



Sementara Hanen dan Gara yang di bawa ke ruang baca oleh papa terdiam. Mulut mereka menutup sambil sama-sama melihat ke arah lain. Papa hanya menghela napas. Tidak ada pertanyaan ataupun perbincangan. Beliau sedang berpikir.


"Ini pertama kalinya kalian seperti ini di depan papa." Manik mata papa melihat ke arah putranya saru persatu. "Apakah papa salah mengira bahwa ini masih yang pertama kali?" tanya beliau kemudian. Kedua putranya tetap terdiam di atas tempat duduknya. Sedikit menunduk dengan saling menghindari pandangan.


"Han. Tingkahmu tadi begitu urakan. Itu bukan dirimu yang biasanya berwibawa dan menjauhi masalah. Ada apa denganmu?" Mulut Hanen diam tidak bersuara. "Dan Gara. Kamu memang bukanlah orang seperti Han, tapi papa heran kamu memulai pertengkaran. Kalimatmu begitu sarat dengan provokasi."


Brak!


Papa menggebrak meja membuat dua pria ini menoleh dan menegang.


"Kalian mulai bertingkah seperti anak kecil tadi. Bahkan sekarang kalian sama-sama bungkam tidak mau membahas pertengkaran tadi. Jika tidak mau membuka mulut untuk mengatakan apa penyebab pertengkaran itu, lebih baik tidak usah bertingkah dan diam," desis papa.


"Papa bisa tanyakan pada Kak Han. Apa sebenarnya yang terjadi." Gara mulai mengeluarkan suara. Hanen menoleh pada adiknya dengan cepat. Memandangnya dengan tajam.


"Kamu yang memulai. Bukan aku," balas Han marah.


"Soal Zia?" tanya Gara di luar dugaan. "Soal itu memang aku yang memulai." Han melebarkan mata tidak percaya bahwa Gara akan membuka sendiri soal hubungannya dengan Zia. Tubuhnya menegang. Mulut Han sampai terkunci karena tidak bisa lagi membahas Zia lebih jauh. Itu membahayakan.

__ADS_1


Gagang pintu ruang baca bergerak. Semua menoleh pada suara derak pintu terbuka. Mama dan Rara masuk.


"Bagaimana keadaan Mama?" tanya papa khawatir. Beliau beranjak berdiri menghampiri istrinya.


"Aku tidak tahu." Mama seperti kebingungan sendiri dengan keadaannya sekarang. Papa menggantikan pegangan tangan istrinya pada Rara untuk bergantung padanya.


"Kamu terlihat belum sehat karena mereka, sayang. Lebih baik istirahat dulu. Rara, lebih baik antar mama ke kamarmu lagi." Papa menoleh pada putrinya.


"Tidak, Pa. Tidak. Aku harus berada di sini. Aku ingin bicara pada papa. Juga pada mereka berdua." Mama mengatakan itu sambil menoleh pada kedua putranya.


"Iya, papa mengerti. Sekarang wajah mama pucat dan kelihatan tidak sehat. Aku tidak tega kamu memaksakan diri dan tidak istirahat."


"Aku akan lebih sehat jika sudah selesai bicara dengan mereka." Raut wajah mama terlihat begitu serius.


"Baiklah, baik. Ayo ... sebaiknya kita duduk dulu." Melihat mama bertekad untuk bergabung bersama mereka, papa mengalah. Beliau membimbing istrinya untuk duduk. Hanen dan Gara melihat ke arah mamanya. Sementara Rara berdiri di dekat mamanya.


Manik mata mama melihat satu persatu putranya.


"Pa. Mungkin sesuatu yang akan mama bahas ini adalah hal yang tidak bisa di toleransi, tapi mama mohon papa untuk tenang dan sabar," ujar mama sambil menyentuh lengan suaminya.


"Soal apa, ini Ma? Sepertinya serius sekali." Papa terheran-heran. Dua orang yang duduk di depan mereka mulai terlihat serius. Mendengar mama berkata seperti itu, dada mereka berdebar. Apakah ketakutan mereka terwujud?


"Ya. Ini masalah serius Pa. Mama sendiri harus berpikir keras untuk menerima kenyataan di balik pertengkaran mereka berdua."


Apa? Apa yang akan di bahas mama sekarang? Rasa ingin tahu dan penasaran mendera mereka berdua. Bermacam dugaan mulai memenuhi pikiran. Kedua pria ini tidak tenang dalam duduk mereka.


"Baik. Walaupun papa belum tahu itu apa. Papa akan berusaha mengendalikan diri. Silakan mama mulai berbicara pada mereka." Papa dengan bijak memberikan hak penuh pada mama untuk mulai menginterogasi mereka.


"Sebelum itu ... Ra, tolong panggil Zia kesini," pinta mama.

__ADS_1


"Ya, Ma," sahut Rara.



__ADS_2