
"Kamu sengaja menutup diri? Kamu ingin lari?" tuduh Han.
Gara tidak mendengarkan tuduhan kakaknya. "Bagaimana Zia? Dia pingsan lagi?" tanya Gara lebih memedulikan perempuan itu.
Han diam seraya menatap lurus ke arah adiknya.
"Kenapa diam saja?" tanya Gara gusar. Han masih diam.
Brak! Gara meletakkan pisau di tangannya dengan keras. Dia kesal. Kakinya melangkah mendekat Han dan mencengkeram kemeja yang di pakai Han.
"Jawab Han. Apa kondisi Zia baik-baik saja?" tanya Gara geram dan tidak sabar. Tatapan mereka beradu.
"Ya," sahut Han dingin sambil melepas cengkeraman tangan Gara pada kemejanya.
"Cih," decih Gara yang hampir saja memukul Han karena kesal. Ia menjauh dari pria itu.
Sementara itu Han sendiri juga marah. Marah pada rasa cinta Gara yang begitu besar pada Zia. Marah pada dirinya yang tidak bisa berkutik karena punya salah besar hingga jatuh ke dalam salah seperti ini.
"Zia pingsan. Kesehatannya drop lagi."
"Lalu kenapa kamu malah meninggalkan dia?" tegur Gara.
__ADS_1
"Ada mama dan Rara di sana," ujar Han. Gara akhirnya sedikit tenang.
Ia melirik sebentar pada buah alpukat yang tercampakkan, lalu kembali menoleh pada Han. "Lalu tujuan mu kesini apa?" tanya Gara yang enggan meneruskan mengeksekusi buah alpukat di meja.
"Aku akan menghentikan berita itu," kata Han.
"Cara apalagi? Papa yang bergerak saja tetap tidak membuat berita itu tenggelam."
"Karena Kayla yang berada di balik semua ini."
"Hoo ... perempuan mu itu?" cibir Gara. Han mendengus.
"Kamu belum menemuinya?" sungut Gara. Ia sudah memberi peringatan pada Han untuk menemui perempuan itu. Jika tidak, ia yang akan mendatangi Kayla sendiri.
"Tidak mungkin aku diam saja membiarkan wanita itu melakukan hal ini," geram Han di tuduh tidak melakukan apa-apa.
"Jadi dia bersikeras mengusik Zia dan kamu?" tanya Gara. Han diam. "Wajar saja Kayla melakukannya. Dia pasti sakit hati. Kamu yang di banggakannya ternyata mencampakkannya begitu saja. Padahal sejak awal kamu sendirilah yang mempertahankannya." Gara bicara sambil mendengus.
Han tidak bisa menyangkal.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sampai datang menemui ku?"
__ADS_1
"Aku akan mengatakan pada publik jika kamu dan Zia memang punya skandal."
"Apa?! Kau ingin menghancurkan Zia?!" teriak Gara marah. Han tidak bergeming.
"Sangat bodoh jika aku melakukannya."
"Lalu apa yang kau maksud dengan mengatakan itu, hah?!" Brak! Gara memukul meja. Ia berusaha keras menahan tangannya untuk tidak memukul Han. "Apa otakmu sudah tidak berpikir jernih lagi? Ini gila Han." Gara marah.
"Memang terdengar sungguh gila. Namun dengarkan aku baik-baik," kata Han dengan wajah serius. "Tujuan ku mengatakan ini pasti bermaksud baik untuk Zia. Sungguh bodoh jika aku ingin membuat Zia hancur," kata Han.
"Ya. Kamu sudah melakukannya," ujar Gara seraya menunjuk Han. Akhirnya Gara berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia ingin mendengarkan baik-baik apa yang di katakan Han.
"Lalu Kayla?" tanya Gara. Perempuan itu juga juga sumber kehebohan ini.
"Kayla ingin aku hancur. Dengan aku mengatakan itu, aku rasa dia akan merasakan kehancuran ku."
"Apa ini berhasil?"
"Aku tahu Kayla. Dia tidak ingin melihat ku bahagia dengan Zia karena sudah mencampakkannya," ujar Han.
...______...
__ADS_1