
"Selamat sore," ujar ibu Zia yang muncul dari balik pintu.
"Oh, Wati!" seru Mama Gara terkejut. Beliau langsung bangun dari tempat duduknya dan menyambut besan yang menjadi orang kepercayaan suaminya dulu. Rara ikut berdiri menyambut ibu Zia. Mama langsung memeluk besannya.
"Maaf saya datang terlambat, Nyonya." Ibu Zia masih saja memanggil sebutan itu. Karena sangatlah lama suaminya menjadi bawahan keluarga Laksana hingga lidahnya terbiasa menyebut panggilan hormat itu.
"Sudah aku bilang berhenti memanggilku Nyonya. Sekarang kita ini adalah besan." Mama membimbing ibu Zia yang tersenyum tipis untuk duduk. Gara meletakkan bungkusan milik keluarga Zia yang ia bawa tadi seraya memberi kode pada Rara kalau itu oleh-oleh dari keluarga Zia. Kepala Rara mengangguk.
"Bagaimana keadaan tuan muda?" tanya Ibu Zia. Kepala Mama menoleh ke arah Hanen yang terbaring dengan tenang.
"Keadaannya masih mengkhawatirkan." Tatapan mama terlihat sedih. Ibu Zia merasakan hal yang sama. Gara menghela napas pendek. Ia ingin keluar dan menunggu ibu Zia selesai bicara dengan mamanya tanpa harus terlibat.
"Maafkan saya. Maafkan keluarga saya." Tiba-tiba saja ibu Zia berdiri lalu membungkuk seraya meminta maaf.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Wati?" tegur Mama Han terkejut. Rara dan Kak Mila ikut terkejut. Mereka sempat membeku melihat apa yang di lakukan ibu Zia. Mila tidak menduga akan ada cerita seperti ini. Ibu melakukannya spontan. Ataukah, memang sejak awal beliau ingin melakukannya ketika datang ke rumah sakit ini? Mila tidak tahu.
"Ibu," panggil Mila yang mendekat ingin membantu ibu berdiri.
"Diam. Tetap di sana," pinta ibu memaksa Mila tidak bisa melakukan apa-apa. Dia mendengar nada tegas dan keras di sana. Mila akhirnya diam membiarkan ibunya membungkuk meminta maaf pada keluarga Laksana.
"Maafkan kesalahan putri saya." Ibu Zia kembali mengucap maaf.
"Jangan begini, Wati." Mama Han kebingungan.
"Saya ini bersalah, Nak Gara." Ibu mencoba meyakinkan Gara untuk membiarkannya.
"Tidak ada yang salah dengan orangtua. Jangan merendahkan diri ibu lebih dari ini. Mama tidak meminta ibu mempertanggungjawabkan apa yang terjadi pada Hanen, jadi tolong ibu jangan menyalahkan diri sendiri. Ibu tidak salah. Aku mohon," pinta Gara ketika ibu Zia berusaha ingin membantah.
"Benar kata Gara. Aku memang sangat sedih melihat keadaan Hanen seperti itu, tapi aku tidak pernah menyalahkan mu atau Zia, Wati." Mama langsung ikut bicara.
__ADS_1
"Bawa ibu untuk duduk, Kak," pinta Gara pada kak Mila yang tadi membeku karena perintah ibu. Perempuan ini mendekat lagi, lalu membimbing ibu untuk duduk.
"Semua ini sudah jalan takdir. Jadi tidak ada yang di salahkan kecuali pelaku. Orang yang sudah mendorong Zia. Dimana itu membuat Hanen melakukan tindakan yang membuatnya celaka." Gara mengatakan ini agar ibu tahu bahwa beliau tidak perlu merasa bersalah. Bola mata ibu berkaca-kaca.
Tidak berlebihan jika ibu Zia bersikap demikian. Karena mendengar kabar skandal Zia dan Gara saja itu sebuah pukulan untuk keluarganya. Skandal itu kesalahan terbesar. Apalagi keluarga laksana masih memberi donasi bagi keluarganya. Ibu merasa patut meminta maaf atas hal itu. Menurutnya keluarga Laksana cukuplah punya hati yang lapang dengan tetap mau menerima Zia menjadi menantunya setelah skandal itu.
***
Gara ingin menyulut rokok, tapi itu tidak mungkin karena ia sedang berada di rumah sakit. Jadi ia mencari mesin minuman segar. Setelah ketegangan karena ibu Zia tadi, Gara keluar dari kamar perawatan Hanen. Dia memilih duduk di kursi yang ada tepat di depan kamar. Termenung seraya menatap dinding seraya meneguk minuman di tangannya.
Skandal yang kita berdua buat berdampak hebat pada ibu Zia. Aku jadi mengerti kenapa Zia memilih tetap menjadi istri Hanen meski hatinya terluka. Dia menjaga hati ibunya. Apa akhirnya pilihanku tetap mencintainya harus padam?
Gara mulai bimbang.
...----------------...
__ADS_1