
"Tidak apa-apa, Zia. Mungkin sekarang ia lelah setelah kemarin-kemarin bergerak begitu aktif." Hanen mencoba menenangkan. Dia melihat raut wajah Zia yang kecewa. "Yang terpenting adalah ... kamu harus bisa menjaga kesehatanmu, demi bayi dan dirimu sendiri."
Kepala Zia mengangguk patuh. Ia meletakkan tangan Han pada pipinya. "Aku pasti baik-baik saja Han, jadi kamu juga harus baik-baik saja," pinta Zia. Han tersenyum.
"Maafkan aku, Hanen. Karena aku kamu mengalami hal ini. Seharusnya aku yang ada di ranjang ini, bukan kamu." Zia emosional.
"Tidak Zi. Kamu tidak salah. Kewajiban ku adalah melindungi mu. Apalagi dari Kayla. Jadi tindakan yang aku lakukan sudah tepat."
"Tapi kamu jadi terluka seperti ini," sesal Zia.
"Mungkin ini balasan aku sudah pernah menyakitimu."
"Jangan bicara seperti itu, Han." Perempuan ini menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah berubah, jadi jangan bicara seperti itu."
"Namun kenyataan aku memang bersalah, Zi."
"Kita berdua sama-sama punya salah, jadi cukup bicara soal itu," tutup Zia tidak ingin perasaan bersalah ini merembet kemana-mana. "Kamu harus cepat sembuh. Jadi kita bisa pulang ke rumah lagi."
__ADS_1
"Aku juga ingin cepat pulang ke rumah, Zi." Nada suara Hanen terdengar begitu merindukan tempat tinggalnya.
Zia kembali mengecup tangan Hanen. "Juga ... perutku makin besar. Anak kita akan segera lahir. Jadi kamu harus sehat agar bisa menemaniku melahirkan, Hanen ..." Ketika mengatakan ini, suaranya terseok-seok. Rupanya air mata kembali menggenang. Zia menangis lagi.
"Jangan menangis lagi, Zi. Aku pasti menemani kamu melahirkan," kata Hanen. Matanya juga berkaca-kaca. Zia menganggukkan kepala. "Hapus air matamu." Zia patuh. Ia mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"Ya. Aku tidak boleh menangis. Aku harus kasih kamu semangat untuk segera sembuh." Zia memaksa bibirnya tersenyum.
"Ya. Kamu harus selalu tersenyum. Wajahmu terlihat cantik bila tersenyum."
"Jadi aku barusan jelek? Bukannya aku menangis tadi," canda Zia setengah merajuk. Matanya masih merah karena menangis tadi.
Bibir Zia tersenyum mendengar itu.
***
Di tempat lain.
Gara sedang membahas masalah pekerjaan dengan beberapa petinggi perusahaan. Ini cukup genting karena ada laporan kecurangan yang di temukan oleh orang-orangnya. Produk baru yang akan meluncur bocor lebih dulu. Itu membuat perusahaan lain mencontek dengan jelas kosmetik milik perusahaannya.
__ADS_1
Nada telepon masuk ke dalam ponselnya terabaikan. Begitu juga pesan yang di kirim Rara. Baru setelah semua selesai, Gara bisa memperhatikan gawai pipih itu. Itu pun langit sudah menggelap sejak tadi.
Kepalanya menoleh ke arah arlojinya. Jam 8 malam.
"Ada banyak pesan dan panggilan," gumam Gara seraya meraih ponselnya di atas meja. "Rara?" Gara mengerutkan keningnya ketika melihat nama adiknya yang ada di sana. Begitu banyak panggilan dari gadis itu. "Kenapa dia meneleponku berulang kali?" Lalu ia membuka pesan dari Rara. Matanya melebar. "Han siuman?" Pria ini terkejut. Ia langsung berdiri meraih kunci mobil, lalu melesat menuju rumah sakit.
Kakinya melangkah dengan cepat menuju kamar Hanen. Meskipun ada banyak hal yang bertentangan dengan saudaranya itu, ia tentu merasa bahagia mendengar kabar baik ini.
"Aku datang," ujar Gara ketika muncul di ambang pintu. Ketika itu, mama sedang tidak ada di dalam kamar. Hanya Rara yang duduk di sana.
"Kak Gara, kenapa baru datang?" tegur Rara yang sejak tadi melirik ke layar ponsel untuk memeriksa apa Gara sudah membaca pesannya atau belum.
"Ada banyak masalah di perusahaan," jelas Gara. Rara mengangguk. Lalu ia berdiri dan menyerahkan kursinya pada Gara. "Terima kasih." Gara mulai duduk. "Maaf, aku baru bisa menjenguk mu malam ini," ujar Gara. Kali ini ia menoleh pada Hanen.
"Aku pikir kamu tidak merasa perlu melihat keadaanku. Jadi aku tidak berharap sama sekali kamu datang," ujar Hanen dengan nada setengah bercanda dan meledek. Rara yang ingin tidak peduli dengan perbincangan mereka melirik.
"Ya, aku ingin melakukannya, tapi sepertinya itu tidak bisa. Karena semuanya pasti mengganggu untuk memaksaku menjenguk mu, Han." Balas Gara. "Termasuk Rara tadi." Saat bicara ini, bola mata Gara mengarah ke adiknya.
...----------------...
__ADS_1