
"Kamu di sana rupanya." Itu Han. Aku mendongak mendengar kalimat pria itu yang sepertinya di tujukan kepadaku. Namun aku abaikan dengan melangkah hendak menuju kamar Rara. "Aku mencarimu, Zia." Han seperti sengaja mengatakan itu guna memberitahuku bahwa aku tidak boleh mengacuhkannya.
"Ada apa?" tanyaku enggan. Ku lihat Gara masih berada di bawah balkon kamar kami. Dia melihatku.
"Ku lihat dari bajumu, kamu akan pergi jogging." Han berjalan perlahan turun.
"Lalu?" tanyaku singkat. Ku lihat lagi Gara yang belum beranjak dari tempatnya. Kucoba memberi isyarat bahwa dia harus segera pergi karena sebentar lagi Han akan sampai di tempatku berdiri.
"Aku ikut." Ku alihkan pandanganku ke Han yang mulai melangkah mendekat.
"Aku bersama Rara." Niatku untuk menolaknya. Ku lihat Gara masih melihat dan mendengarkan kami berbincang. Untung saja Han memunggungi Gara, hingga dia tidak bisa melihat ada adiknya di sana.
"Jika di tambah aku, bukankah tidak apa-apa ..." Han jelas sekali sedang memaksa. Ku tatap pria ini.
"Aneh sekali tiba-tiba kamu ingin terlibat dalam kegiatanku." Kalimatku mencibirnya. Ku lihat dia diam sejenak.
"Aku hanya ingin melakukan hal yang berbeda," katanya sambil mengangkat bahu dengan malas.
"Dengan tidak lagi bermain dengan Kayla?" sindirku tajam.
"Kenapa? Kamu cemburu?" Hanen menyeringai. Seakan dia senang aku menyindirnya soal Kayla. Atau justru ingin menunjukkan bahwa dia bisa kapan saja jika ingin bersama perempuan itu.
"Sebagai istrimu, jelas iya. Namun kali ini ... aku tidak lagi mempedulikan soal itu." Hanen memandangku lama. Aku tidak tahu apa yang di pikirkannya saat membiarkan keheningan menyerbu kita saat ini. Dia diam sambil terus saja memandangku.
"Apapun itu, aku ikut denganmu Zia ...," ujarnya sambil berlalu menuju ruang depan. Aku melihat pria itu berjalan dengan kerutan di kening karena heran. Ada apa dengannya.
"Jadi, Han akan ikut denganmu?" teguran Gara mengagetkanku. Ku tolehkan kepala ke arahnya.
"Gara. Kenapa masih disini? Seharusnya kamu pergi," usirku.
"Aku juga akan ikut denganmu, Zi."
"Apa?"
"Kamu mengijinkanku ikut denganmu dan Rara kan?" tanya Gara meyakinkan dirinya sendiri.
"Sekarang?"
"Ya. Bukankah joggingmu pagi ini. Aku akan bersiap." Gara melintas sambil mengusap rambutku pelan. Bola mataku melebar melihatnya. Gara semakin berani. Aku jadi ketir-ketir sendiri. Ku hela napas dan segera menuju kamar Rara yang berdampingan dengan Gara.
"Kakak," panggil Rara sebelum aku sempat mengetuk pintu kamar tidurnya. Rupanya dia sudah ada di luar kamar. Gadis itu muncul di belakangku.
"Aku pikir kamu masih ada di dalam kamar."
"Tidak. Sudah sejak tadi aku di luar."
__ADS_1
"Sudah siap?" tanyaku.
"Ya," jawab Rara sambil tersenyum. Bola matanya melihat ke samping. Saat aku mengikuti arah bola mata itu. Ku temukan pintu kamar Gara terbuka. Muncul dia yang sudah siap berangkat juga. "Kakak, mau kemana?" tanya Rara.
"Aku ikut kalian. Sudah lama tidak jogging." Begitu selesai mengatakan itu, dia melewati kita begitu saja. Kemudian kita berdua memandang punggungnya. Rara melihat ke arahku dengan heran.
"Kak Gara akan ikut kita?"
"Sepertinya, iya."
"Tumben banget." Kita berdua mengekor Gara di belakangnya.
"Sepertinya ... bukan hanya kita bertiga saja, Ra." Aku gerakkan dagunya menunjuk Han yang sudah siap di dekat mobilnya. Rara melihat itu dengan senyum.
"Jadi kita akan jogging beramai-ramai nih? Okelah ... Akhirnya jadi acara satu keluarga." Rara senang. Sementara aku tidak. Ini membebaniku. Aku langsung memasang senyum saat Rara melempar senyum padaku tiba-tiba.
"Kamu ikut juga?" tanya Han pada Gara. Ada sedikit keheranan di sana.
"Ya," jawab Gara singkat dan menuju mobilnya.
"Masuklah," ujar Han menunjuk mobilnya padaku. Dia segera memberi perintah. Pria ini ternyata menungguku. Ku lirik Gara yang sempat menoleh ke arahku saat kakiku melangkah mendekati mobil Han. "Rara ikut Gara." Kali ini dia memberi perintah pada adiknya.
"Siap, kak." Rara berjalan santai menuju mobil Gara.
...----------------...
Kurasakan Gara terus saja melirik ke arahku. Sementara Han juga begitu. Sepanjang kita melangkah, dia selalu berada di sampingku. Sejajar. Itu artinya dia terus mengawalku. Ada apa ini?
"Setiap libur kerja, kamu selalu kesini?" tanya Hanen.
"Tergantung suasana hati," jawabku seraya berhenti. Tali sepatuku terlepas. Jangan berharap adegan drama dimana si lelaki membuat tali simpul pada tali sepatu si wanita. Han diam saja. Bahkan saat aku merunduk dan jongkok. Membetulkan tali sepatu hingga benar dan berdiri lagi.
Dia merasa cukup hanya mengawasiku saja dari tempatnya berdiri. "Sayangnya aku lebih banyak bad mood daripada good mood." Maksudku adalah, menikah dengan Han adalah masa tidak menyenangkan. Hingga membuat hari-hariku tidak sebahagia seorang istri pada umumnya.
"Karena aku?" tanya Han di luar dugaan.
"Tidak perlu bertanya jika sudah tahu. Tentu saja karena kamu," tudingku tanpa menunjukkan telunjukku ke arahnya.
...----------------...
...Gara POV...
.......
.......
__ADS_1
.......
Aku masih menyempatkan bola mataku untuk melihat ke arah Zia dan Han. Jelas ini membuatku gelisah. Jujur, aku ikut jogging pagi ini hanya karena mendengar Han akan ikut. Bukan ingin jogging seperti yang di lakukan orang-orang di sekitarku.
"Tumben-tumbenan ikutan jogging. Biasanya suka mager di dalam kamar dan menyendiri," tegur Rara adikku tiba-tiba.
"Anggap saja ingin mencoba."
"Drastis sekali dan tiba-tiba."
"Bawel." Ku arahkan kelima jariku untuk meraup wajah adikku sambil tersenyum. Rara mengkerucutkan bibirnya.
"Kak Gara sekarang lebih periang daripada biasanya."
"Oh, ya? Jadi aku aneh?"
"Tentu saja enggak. Itu pujian. Menurutku itu juga bagus. Style kak Gara yang dingin sih sudah oke. Namun sekarang lebih oke." Rara mengacungkan jempol. "Dengan begitu, perempuan enggak akan takut pada kak Gara."
"Takut?"
"Style kak Gara yang dingin kadang membuat wanita takut untuk mendekati kakak. Jadi aku rasa perlu juga sedikit riang dan terbuka." Aku tersenyum. Takut? Perempuan itu enggak takut. Dia justru bersikap agresif padaku. Meskipun hanya satu malam itu.
Lagi-lagi aku ingin melihat ke arah Zia dan Hanen.
"Ada yang mengganggu di pikiran kakak?" tanya Rara.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Aku mengalihkan pandangan ke arah Rara.
"Kak Gara menghela napas panjang barusan. Seperti menanggung beban berat. Padahal menikah saja belum, sudah merasa punya beban berat. Jangan-jangan ... karena kak Gara belum menikah jadi kepikiran banyak hal?" tuding Rara sambil menunjukku dengan jenaka.
"Begitu ya ... Mungkin," sahutku tanpa sadar.
"Cari saja perempuan cantik. Eh, bukan. Perempuan baik."
"Kenapa kalau cantik?" tanyaku penasaran.
"Karena cantik belum tentu baik," jawab Rara sembari menatapku lain. Aku mengerjap. Merasa aneh dengan tatapan adikku.
"Benarkah?"
"Ya." Rara mulai mengalihkan pandangan ke arah lain. "Aku berharap kakak dapat perempuan yang baik. Karena menurutku kakak baik. Jadi mencarilah wanita yang baik." Rara tersenyum penuh harap padaku. Senyuman apa lagi itu?
Lalu, bagaimana jika itu adalah dia, Ra? Zia. Apa dia bukan wanita baik?
__ADS_1