
...Gara...
Akhirnya aku ikut dengan Mina. Tidak banyak hal yang ia bicarakan malam ini. Tidak seperti biasanya. Ini membuat aku menoleh padanya heran.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Mina yang tahu bahwa dia sedang di amati olehku.
"Lebih sedikit bicara aku rasa lebih baik." Dia tersenyum mendengar aku bicara dengan cemoohan disana.
"Aku di sini datang sebagai wakil dari papaku. Aku tidak bisa bertingkah macam-macam. Mungkin aku akan banyak bicara denganmu saja." Aku mendengus. "Bukannya itu kakakmu, Hanen?" tunjuk Mina pada pintu masuk. Aku mengikuti apa yang di tunjuk wanita ini. Ya. Itu Hanen dan Zia. Wanita itu. Wanita yang memporak-porandakan hati dan hasratku.
"Ya."
"Aku terkejut mendengar Hanen menikah dengan wanita dari golongan orang biasa." Mina berpendapat.
"Apa yang kamu katakan?" tanyaku tidak suka. Aku yakin raut wajahku tidak menyembunyikan apa yang ada di hatiku seperti biasa. Mina membuatku geram.
"Aku tahu dia putri mantan orang kepercayaan papamu yang sudah meninggal itu. Namun untuk Han yang begitu mendekati sempurna, aku tidak menyangka. Bukannya dia punya kekasih?" Mina terus saja bicara.
"Tidak ada yang sempurna. Kita hanya belum tahu saja siapa orang itu sebenarnya." Kataku dengan bola mata memandang perempuan itu.
"Mungkin ..." ujar Mina rupanya sedikit setuju dengan pendapatku. Zia tampak cantik dengan gaun pesta sederhana itu. Dia memang manis. Aku rindu, Zi. Bibirku berdecih pelan. Mengingat lagi kesalahan di balkon. Dimana aku sudah membuatnya terluka. Mendengar decihan barusan, Mina melirikku. Mungkin dia heran tiba-tiba saja aku berdecih.
Setelah berulangkali tersenyum pada para tamu undangan, Zia akhirnya menoleh ke arahku tanpa sengaja. Aku ingin mendekat. Aku ingin bicara. Namun tubuhku tahu mana yang harus dilakukan. Aku diam.
Mina mengangguk sedikit untuk bersikap sopan saat Zia dan Hanen melihat ke arah kita berdua. Dia melakukannya karena tahu Hanen adalah putra keluarga Laksana. Jika tidak, dengan jabatan rendah Hanen sekarang, perempuan ini tidak akan bersikap sopan padanya.
Bola mata itu sedikit terkejut melihatku. Aku tidak heran. Namun yang menjadi pukulan bagiku adalah, dia langsung menarik senyumnya yang tidak sengaja terlihat olehku. Lalu memalingkan wajah ke arah lain. Zia tidak ingin melihatku. Hatiku jadi sakit.
__ADS_1
"Apa aku salah jika barusan istri Han menoleh kesini dan memalingkan wajahnya?" tanya Mina. Aku diam. Tidak mungkin aku bicara itu karena di sini ada aku.
"Hanya perasaanmu saja," ucapku menetralkan keterkejutan perempuan ini.
"Benarkah?"
"Mungkin kakak iparku sedang menerima sapaan yang lain jadi memalingkan wajah tepat saat kamu melihatnya." Bukan maksudku peduli padanya, tapi aku harus bisa menyamarkan sikap Zia barusan demi menyelamatkannya.
"Aku terkejut. Baru kali ini ada orang yang memalingkan wajah padaku." Kepercayaan diri Mina sungguh tinggi. Aku hanya mendengus mendengarnya. Ku ambil minuman yang tersedia di dessert table sebelahku. Hanya sebuah minuman dingin bersoda. Aku tidak mau minum alkohol saat sedang gundah. Tidak ingin kejadian menyakitkan itu terulang lagi.
Saat itu beberapa orang yang aku tahu penting melintas. Aku harus mau menyempatkan diri berbasa-basi berbincang demi kelancaran bisnis. Membangun pertemanan dengan mereka juga wajib hukumnya. Fokus pada mereka dulu. Zia harus kutinggalkan sejenak agar aku tidak gila memikirkannya.
...HANEN...
Gara! Aku melirik ke samping. Zia juga sedang memandangnya. Ku lihat Gara masih memperhatikan kita berdua. Bola mata yang begitu penuh cinta. Hatiku merasa ciut saat melihat itu. Tatapan yang tidak pernah aku tunjukkan pada Zia. Meskipun aku sekarang merasa ingin perempuan ini selalu ada di sisiku, aku yakin mataku tidak akan bersinar penuh cinta seperti itu.
Sebaiknya aku hentikan mereka saling berpandangan. Meskipun mungkin cintaku tidak sebesar milik Gara, tapi aku tetap akan sakit hati jika terus melihat mereka saling berpandangan. Aku tidak akan bisa diam saja.
"Kita sebaiknya segera mencari Rara. Mama bilang Rara juga ada disini," ujarnya tiba-tiba. Aku yang hendak memutus pandangan mereka berdua urung. Ternyata aku tidak butuh menegur, karena Zia sendiri memutuskan untuk tidak memandangi Gara.
"Ya," jawabku setuju. Raut wajah Zia seakan penuh harap ingin segera menjauh dari sana. Jadi sekarang Zia tidak ingin melihat Gara? Percintaan waktu itu bukan mendekatkan hati kalian, tapi justru merenggangkan hubungan kalian. Apakah aku pantas senang? Aku tidak tahu. Bodohnya aku yang pernah membuatmu terluka karena aku masih mempermainkan hatimu.
Ku turuti keinginan Zia. Namun seseorang menahan tubuhku. Ternyata tuan rumah. Kita berdua tidak jadi melangkah jauh karena harus berbincang dengan keluarga tuan rumah.
"Aku dengar soal perpindahan pemilik perusahaan kosmetik itu. Jadi sekarang Gara yang jadi pemiliknya?" tanya pria ini dengan pelan. Bibirku tersenyum.
"Ya. Adikku sekarang jadi pemilik perusahaan itu."
__ADS_1
"Dan istrimu tidak lagi bekerja di sana?" Zia tersenyum menanggapi pertanyaan itu.
"Tidak. Aku ingin dia di rumah saja."
"Benar. Istri cantik harus di tempatkan di rumah saja. Takut ada orang lain yang mengambilnya," ujar pria ini bercanda. Aku tersenyum. Kulirik Zia. Dia mungkin tidak nyaman karena pembicaraan ini. "Silakan nikmati pesta ini. Aku akan menyapa tamu lainnya."
"Ya. Terima kasih." Saat tuan rumah menjauh, muncul Juno yang langsung mendekat ke arah kita.
"Aku bisa menemukanmu, Han." Kita saling berpelukan sebentar. Pria ini memang kawan dekatku. Dia melihat ke arah kita berdua. Terutama melihat ke arah Zia secara menyeluruh.
"Bisa ... tidak melihatku seperti itu?" tegur Zia dengan dingin.
"Hentikan itu, Juno," hardikku memaksanya berhenti melihat Zia dengan cara tidak sopan. Aku tidak suka.
"Oh, maaf." Kurasa Juno terkejut aku menegurnya dengan serius seperti itu. "Mmm ... ini benar, Zia kan?" tanya Juno tiba-tiba.
"Ya. Kenapa masih bertanya?" sahutku tegas. Manik mata Juno mengerjap mendengar jawabanku. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti mengerti tentang sesuatu. Aku memicingkan mata. Ada yang aneh dengan sikap Juno yangs seperti itu.
Aku tahu mungkin dia sangat terkejut dengan semua perubahanku setelah kita lama tidak bertemu. Ini semua pasti tentang Zia. Begitu yakin kalau Juno terheran-heran dengan sikapku yang sangat melindungi perempuan di sebelahku ini. Karena dulu sikapku begitu berbalik dengan sikapku sekarang.
"Maka dari itu, dia cerita banyak tentangmu." Kalimat Juno tidak begitu jelas.
"Bicara yang jelas. Apa maksudmu?" tanyaku. Juno melihat ke arah Zia.
"Kamu pasti akan membicarakan Kayla, Juno. Bicaralah. Aku tidak masalah," ujar Zia diluar dugaan. Aku terkejut begitu juga Juno. Melihat reaksi pria ini yang langsung melihatku dengan bertanya, aku yakin dia memang sedang bicara soal wanita itu. Kulihat Zia menatapku. Aku tidak berpikir akan ditatap seperti itu lagi. Ini pasti soal Kayla. Perempuan ini menatapku datar. Seakan tidak peduli padaku.
"Tidak perlu. Kamu tidak perlu membicarakannya." Aku mengatakan dengan dingin. "Istriku tidak perlu mendengarkan banyak hal tidak penting. Kamu bisa bicarakan yang lain selain dia." Kurasakan Juno terkejut. Raut wajahnya heran. Lagi. Manik mata itu terus melihat ke arahku dan Zia dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1